My Lovely Husband

My Lovely Husband
SANGAT MENCINTAIMU



Kevin dan Sekertaris Zein berada di belakang paa polisi yang mengintai tempat Devan.


Denan aba - aba mereka mendekati lokasi dimana Nayla dikurung di sana.


Dan dalam hitungan ke tiga....


BRAKKKK


Pintu berhasil di dobrak dari luar.


Devan dan Jeanny yang sama sekali tak menyadari kedatangan para polisi itu pun hanya bisa terkejut dan terdiam saat polisi masuk sambil mengacungkan senjata pada mereka dan langsung melumpuhkan mereka.


Tak lama , Kevin pun masuk dan langsung menghampiri Nayla yang sepertinya sangat ketakutan.


Nayla langsung memeluk Kevin sambil gemetar karena masih takut dengan apa yang sudah di lewati nya.


Jeanny dan Devan berlutut dengan tangan ke belakang. Mereka tak bisa berbuat apa - apa sekarang.


Kevin menutupi tubuh Nayla dengan selimut dan menyuruh sekertaris Zein menjaga nya.


Kevin menghampiri Devan dengan marah. Dia langsung mencengkram kerah baju Devan hingga Devan berdiri.


BUKKK


Kevin memukul Devan dengan sangat keras hingga Devan tersungkur.


Kevin kembali menarik Devan yang belum sempat berdiri karena pukulan Kevin.


" Berani sekali kau menyentuh istriku!" katanya dengan mata merah penuh amarah.


" Pantas saja Ayahku membuang mu. Karena kau memang bukan orang yang pantas untuk di hargai."


Bukkk


Kevin kembali memukul Devan. Tapi kali ini raut wajah Devan langsung berubah.


Setelah mendengar perkataan Kevin, raut wajah nya langsung terlihat menyeramkan.


Devan sepertinya tak terima dengan perkataan Kevin.


beruntung para polisi langsung memisahkan Kevin yang terus ingin memukul Devan.


Kevin menarik nafas panjang setelah menepis tangan polisi yang menahan nya.


Dia berbalik dan menatap Jeanny yang dari tadi hanya diam saja.


Kevin mendekati Jeanny dan setengah berlutut di hadapan Jeanny. Dia menatap Jeanny tanpa bisa berkata.


Kevin hanya tak bisa membayangkan, orang yang dulu dia cintai bisa berbuat seperti ini.


Walaupun tatapan Kevin terlihat lembut untuk Jeanny, tapi tidak sebaliknya.


Jeanny benar - benar sangat membenci Kevin dari tatapan yang dia perlihatkan.


" Bawa saja mereka pergi sekarang !" Suruh Kevin.


" Aku benar - benar muak melihat mereka." Kevin membelakangi Jeanny dan Devan.


Kevin berjalan ke arah Nayla yang masih terlihat ketakutan.


Baru saja berapa langkah, tanpa di sadari Devan mengambil pistol yang di pakai polisi di pinggang nya dengan paksa.


Devan mengambilnya dan langsung menembakan peluru ke arah Kevin.


" MATI SAJA KAU !!!" Teriak nya.


Nayla melihat dengan jelas apa yang akan di lakukan Devan.


Tanpa dia sadari, Nayla langsung berlari ke arah Kevin dan memeluk Kevin sambil menarik dan membalikan posisinya.


Hingga Devan menarik pelatuk dan.


DORRR


Peluru panas menembus punggung Nayla!


Semua terkejut dan langsung merebut pistol dari tangan Devan dan membekuk nya hingga Devan tersungkur ke lantai.


Nayla terjatuh sambil memeluk Kevin. Darah keluar dari punggung nya dan membuat Kevin dan yang lain nya panik.


" Sayang..Tidak..Tidak.." Kevin langsung membawa Nayla ke rumah sakit.


Devan sepertinya terlihat sangat menyesal. Dia terus menatap Nayla sampai Nayla tak terlihat.


" Maafkan aku.." Devan bergumam sendiri karena dia sama sekali tidak bermaksud menyakiti Nayla.


*****


Nayla sedang beras di ruang operasi. sementara Kevin dan yang lain menunggu di luar dengan cemas.


Sudah hampir dua jam tapi dokter belum juga selesai mengoperasi.


Kevin terlihat sangat khawatir. Dia terus berjalan mondar mandir sambil terus melihat ke arah ruang operasi.


" Ini salahku. Aku tidak bisa melindungi Nayla." kata Kevin .


" Sabarlah ,tuan. sebaiknya anda menenangkan diri. " Sekertaris Zein membujuknya.


" Tidak ,kak. Mana mungkin aku bisa tenang sedangkan istriku sedang bertaruh nyawa disana." Kevin mendongakan kepala untuk menahan air mata yang akan keluar.


Sekertaris Zein kembali diam. Dia tau apa yang sedang di rasakan Kevin.


Ibu Nayla dan Kevin pun ada di sana dan saling menguatkan juga.


Mereka tidak bisa mencegah Kevin karena mereka pun merasakan kesedihan yang sama.


Dua puluh menit kemudian dokter pun keluar.


" Kami sudah mengeluarkan peluru. Tapi kondisi Nona Nayla masih kritis." Dokter seperti sudah menyerah.


" Apa maksudmu? Kau harus menyelamatkan istriku!" Kevin berteriak pada dokter tapi Sekertaris Zein menenangkannya.


Tiba - tiba suster keluar dari ruang operasi dengan terburu - buru.


" Dokter,pasien sadar dan ingin bertemu suami nya."


" Apa? bagaimana bisa? " Dokter terkejut karena Nayla sadar dengan cepat dari kritis nya.


" Biarkan aku masuk ! Kevin langsung masuk ruangan ketika tau Nayla sadar.


Dia langsung mendekati Nayla dan menggenggam tangan nya lalu mencium kening Nayla berkali - kali.


" Syukurlah kau sudah sadar, Sayang." katanya dengan mata berkaca - kaca.


" Maafkan aku. maafkan aku tidak bisa melindungi mu." Kevin terus mencium tangan Nayla.


Nayla tersenyum walaupun semua peralatan medis masih menempel di tubuh nya dan dia terlihat lemah.


" Tidak apa - apa. Aku...Senang ..Kau baik...Baik saja.." Kata Nayla sambil terbata karena kondisinya masih sangat Lemah.


" Tidak..tidak..Aku yang bersalah. semua salahku. maafkan aku." Kevin memeluk Nayla.


Nayla tersenyum tapi air mata jatuh di pipi nya.


" Sayang...Aku mencintai mu. sangat mencintaimu.." Nayla memgenggam tangan Kevin.


" Aku lebih mencintai mu. Lebih dari apapun." Kevin menjawab dengan penuh kasih sayang.


Tiba - tiba Nayla menarik nafas dalam. seperti sedikit sesak dan kesakitan.


" Kau...Mau mendengarkan permintaan ku,kan?" Tanya nya pada Kevin.


" Apapun. aku akan melakukan apapun untuk mu."


Sekertris Zein dan Ibu Nayla yang melihat lewat kaca terlihat sangat sedih melihat Nayla.


" Apa yang kau inginkan? Asalkan kau sembuh aku akan melakukan apapun." Kevin terus mencium tangan Nayla dan mengelus rambut Nayla.


" Sayang,,, carilah kebahagian lain. "


Kevin terkejut dengan perkataan Nayla.


" Apa maksudmu? kenapa kau berkata seperti itu?" Kevin kebingungan.


" Aku..Mencintaimu...maafkan..Aku.."


Tiba - tiba Nayla menarik nafas panjang dan alat rekam jantung langsung berbunyi kencang.


" Sayang..Nayla... " Kevin memanggil - manggil Nayla .


Dokter langsung bangun saat mendengar alat berbunyi tanda pasian dalam bahaya.


" Maaf tuan. Biar aku periksa."


Sekertaris Zein langsung menarik Kevin ke belakang karena Kevin sepertinya tak ingin pergi dari sisi Nayla.


" Kak..apa yang terjadi, Kak? " Katanya sambil menangis melihat Dokter menggunakan alat kejut jantung.


" Nay..."


Tiiiiiiiiitttttt


Grafik di layar lurus tanda detak jantung sudah berhenti.


Kevin terbelalak melihat nya. Tubuh nya langsung terasa lemas. Dunia terasa runtuh menyadari tak ada detak jantung terdeteksi.


Dokter berbalik dan meminta maaf.


" Kami sudah berusaha. Maafkan kami. katanya.


" Apa maksudmu. cepat selamatkan istriku! " Kevin mencengkram kerah baju Dokter.


Dia tidak bisa menerima kenyataan nya.


" Tidak mungkin..NayLa."


Dengan langkah gontai, Kevin mendekati Nayka yang sudah menutup mata nya.


" Kenapa kau melakukan ini pada ku, Nay?" katanya.


" Aku belum sempat meminta maaf dan menebus semua keslahan ku." Kevin mulai menangis.


" Kenapa kau meningalkan ku seperti ini?" Kevin menangis sambil memeluk Nayla.


" Aku sangat mencintaimu. aku tidak bisa hidup tanpa mu, Nay." Kevin tak henti nya meminta maaf sambil memeluk Nayla.


*****


Pemakaman baru saja selesai. Semua keluarga termasuk para klien datang menghadiri pemakaman Nayla.


Ibu Nayla pun terlihat sangat sedih dan harus di bopong untuk pergi dari pemakaman.


Satu per satu pergi setelah mengucapkan bela sungkawa pada Kevin.


Kevin masih berdiri di depan makam Nayla setelah semua pergi. Hanya sekertaris Zein yang menemani dari jauh.


Kevin benar- benar sangat terpukul dan sedih. Dia masih menitikan air mata karena masih jelas teringat semua kenangan nya bersama Nayla.


" Aku akan selalu mencintaimu, Nay. selalu dan tak akan ada yang bisa menggantikan mu."


End