
Nayla tersadar dari pingsan nya dan menemukan diri nya ada di sebuah kamar yang hanya di terangi lampu tidur saja dengan jendela yang tertutup tirai.
Nayla terkejut dan dia berniat bangun dari tempat tidur. Tapi tiba - tiba dia ketakutan karena tangan nya terikat di antara kedua sisi tempat tidur nya.
Walaupun tubuh nya di tutupi selimut, tapi tangan Nayla tetap terangkat ke atas dan dia mulai merasa sakit di tangan nya.
Nayla mencoba menggerak - gerakan tangan nya mencoba melepaskan tali yang mengikat nya. Tapi gagal karena tali nya cukup kuat mengikat tangan nya
Nayla melihat sekeliling kamar. Dia melihat kamar itu cukup besar dan bagus untuk di jadikan tempat sandera.
Sandera?
Siapa yang menyandera ku?
Kenapa harus menyanderaku?
Tiba - tiba pikiran itu terlintas di benak nya.
" Tolong lepaskan aku! " Teriak Nayla.
" Siapapun disana tolong lepaskan aku! "
Tak ada yang mendengar teriakan nya. Suasana nya terasa sangat hening dan sepi. Tak terdengar sedikitpun suara di luar.
Nayla kembali berusaha melepaskan tali nya tapi tetap gagal.
Tiba - tiba dia teringat sesuatu!
Terakhir kali dia bertemu dengan Devan!
Ya, Devan orang terakhir yang dia ingat bersamanya.
Apa mungkin Devan yang melakukan semua ini? pikir nya.
Tapi itu tidak mungkin. Kenapa dia harus melakukan ini padaku?
Karena terlalu penuh dengan pertanyan di benak nya, Hingga Nayla tak menyadari seseorang berjalan menuju ke arah nya.
Ceklek...
Seseorang membuka pintu kamar nya.
Sontak Nayla terkejut dan mulai ketakutan. Dia takut jika orang jahat akan mencelakai nya.
" Kau sudah bangun rupanya. "
Nayla menyipitkan matanya untuk melihat siapa wanita yang datang.
Dia melihat seseorang dengan pakaian hitam nya dan topi hitam mendekatinya.
" Si.. siapa kau? " tanya Nayla.
Wanita itu membuka topi nya dan seketika rambut panjang nya terurai.
" Jeanny!!! "
" Tampaknya kau masih mengenaliku, Nayla. " Jeanny mendekati Nayla.
" Kenapa kau ada disini? kenapa kau membawaku kemari? " Tanya Nayla sambil kembali menggerak - gerakan tangan nya.
" Kau pikir untuk apa? " Jeanny tersenyum menyeringai.
" Tentu saja untuk balas dendam padamu dan Kevin! " Raut wajah Jeanny terlihat penuh dendam.
" Kenapa? apa salahku? bukankah semua adalah salah mu? "
" Salahku? " Jeanny mengernyitkan alis.
" Semua karna salahmu! "teriak Jeanny.
" Karena kau,, Hubungan ku dengan Kevin hancur! " Jeanny mencengkram dagu Nayla.
" Karena Kau juga, Kevin meninggalkan ku dan lebih memilihmu yang baru saja di kenalnya!! "
Jeanny mulai terisak.
" Aku membencimu,Nay. Dan aku pasti akan melenyapkan mu. " Jeanny begitu marah dan dia mencekik leher Nayla!
Nayla tak bisa menahan tangan Jeanny karena tangan nya masih terikat dan dia mulai kehabisan nafas.
" Ow.. ow.. tunggu dulu,. " Seseorang menghentikan Jeanny dan menarik tangan Jeanny.
Nayla bisa bernafas kembali dan melihat siapa yang datang menolong nya .
Devan!
Ya itu Devan!
" Kenapa kau menghentikan ku? " Jeanny marah dan menepis tangan Devan.
" Tenang lah, ini belum waktu nya kita melenyapkan nya." Devan menenangkan Jeanny dengan mencium bibir Jeanny.
Nayla sangat terkejut dengan apa yang dia lihat!
Devan? bekerja sama dengan Jeanny?
Apa mereka saling kenal?
Apa hubungan mereka sebenarnya?
" Kita masih harus memastikan semua berjalan sesuai rencana agar kita bisa membuat Kevin hancur se hancur - hancur nya! " Devan memeluk Jeanny tapi tatapan nya mengarah ke Nayla.
Nayla semakin ketakutan. Dia tidak tau apa yang akan terjadi padanya dan apa yang akan mereka lakukan terhadap nya.
Setelah tenang, Jeanny pun keluar dan hanya Devan yang ada di kamar itu.
Dia mendekati Nayla sambil tersenyum. Lalu dia duduk di kursi yang ada di samping Nayla.
" Kenapa kau seperti ini? " Nayla mulai menangis.
" Ssstttt" Jari telunjuk Kevin menempel di bibir Nayla.
" Jangan bicara apapun, Nay. " katanya sambil mengelus rambut Nayla.
Nayla menggeser kepalanya agar Devan berhenti menyentuh nya.
" Lepaskan aku, tolong. "Devan menggelengkan kepalanya dengan senyuman manis nya.
" Aku tidak bisa melakukan itu sekarang." Katanya.
" Kenapa kau melakukan ini? apa salahku? " Tanya Nayla.
" Kau tidak salah apapun, Nay. Tapi Kevin yang salah. " Katanya.
" Apa maksudmu? "
" Kevin adalah saudara tiri ku! "
Nayla terkejut mendengar nya.
" Sebelum Dia dan Ibu nya datang, Aku adalah anak pertama dari keluarga Artama dan Ibu ku adalah istri sah nya. " Devan mulai mengingat masa lalu nya kembali.
" Tapi sejak Kevin dan Ibu nya datang di kehidupan kami, Aku dan Ibu ku terusir dari rumah dan di gantikan oleh mereka. " Devan bangun dan berbicara sambil membelakangi Nayla.
" Kami harus hidup menderita dan penuh perjuangan hingga aku bisa seperti sekarang. "
" Aku kembali kemari karena aku merasa ayahku tidak adil. "
" Dia memberikan semua kemewahan, kebahagiaan dan posisi pada Kevin yang seharusnya itu menjadi milikku. "
BUKKK..
Devan memukul tembok yang ada di depan nya. Nayla terkejut melihatnya.
" Dia hidup bahagia, mendapatkan istri seperti mu dan mendapatkan semua nya. "
" Seharusnya semua adalah milik ku!! " teriak Devan.
Dia tidak terlihat seperti Devan yang biasanya. Devan yang baik hati dan selalu tersenyum.
Tapi Devan berubah menjadi orang yang sangat penuh dengan dendam.
" Lalu apa hubungan nya dengan ku? " tanya Nayla.
" Karena aku tau dia sangat mencintai mu" Devan kembali mendekati Nayla.
" Aku akan menghancurkan Kevin lewat dirimu, Nay. " Devan kembali mengelus rambut Nayla.
" Apa yang terjadi jika dia kehilangan irang yang sangat dia cintai?"
" Kau sudah gila, Devan! " Nayla mulai ketakutan.
" Ya, Aku memang sudah gila. " Katanya sambil tersenyum.
" Aku sudah gila karena sekarang aku mulai menyukaimu,Nay." Devan mengelus pipi Nayla.
" Apa aku bisa melenyapkan mu jika aku juga mulai mencintaimu? " bisik nya.
" Kau sudah tidak waras! " Nayla membentak Devan.
" Sstttt" Devan kembali menyuruh Nayla berhenti bicara.
" Lalu kenapa kau bisa bersama Jeanny? "
" Ah dia. Jeanny adalah kekasihku saat kami bersama di jepang. "
" Tapi dia sepertinya kembali jatuh cinta pada Kevin dan kebetulan sekali dia di khianati dan Kevin adalah orang yang ingin aku singkirkan! "
" Kalian benar - benar sudah gila! Lepaskan aku sekarang! " teriak Nayla dengan menggerak - gerakan tangan nya.
" Sstttt... sssttt.. " Devan mulai semakin mendekati Nayla.
" Jangan lakukan itu, Nay. Kau akan terluka. " Katanya sambil memegang kedua tangan Nayla.
" Apa yang kau lakukan, Devan. Pergi dariku! " Nayla mulai semakin ketakutan.
Devan mendekatkan wajah nya ke wajah Nayla dan mencoba mencium Nayla. Tapi Nayla memalingkan wajahnya seketika dan membuat raut wajah Devan berubah.
" Kenapa kau menghindari ku, Nay? " tanya nya dengan masih berada di depan wajah Nayla dan membuat Nafasnya terasa di wajah Nayla.
" Jangan lakukan ini padaku. Ku mohon. " Nayla mulai terisak. Dia benar - benar mulai ketakutan.
" Aku akan melakukan nya dengan pelan, Nay. Karena aku mencintaimu. "
Devan memegang wajah Nayla dan mencium nya dengan paksa.