My Lovely Husband

My Lovely Husband
Pertengkaran.



Yesi dan Aldo cukup terkejut dengan berita yang Mayang bawa, sementara Aryo yang tak begitu mendengarkan karena sibuk memperhatikan Galih menatap mereka heran.


"Ada apa dengan kalian? Mengapa terkejut seperti itu?" tanya Aryo.


"Seminggu lagi Kak Aryo akan menikah dengan Yesi dan di hari itu juga kau akan bertunangan dengan Kak Aldo" ucap Mayang menjelaskan dengan penuh semangat.


"Benarkah! Alhamdulillah, akhirnya aku bisa bersatu lagi dengan anak dan istriku" ucap Aryo terlihat senang.


"Bagaimana denganmu istriku, kau maukan kembali menikah denganku, kali ini aku akan menikahimu secara resmi" ucap Aryo terlihat bahagia.


Yesi bisa melihat bagaimana wajah bahagia Aryo, ia merasa bersalah dengan suaminya itu. Ya, Yesi memang istri Aryo sejak awal jadi ia mang seharusnya kembali bersatu dengan suaminya.


"I-iya aku senang" Jawab Yesi sedikit bingung.


"Tidak, kau tidak boleh menikah dengannya. Bagaimana jika kau sampai mengandung bayiku, aku tidak ingin anakku memanggil orang lain Ayah" Aldo mencekal tangan Yesi.


"Aku akan menerima bayi itu, dan aku juga akan memintanya memanggilmu Ayah jika itu yang kau inginkan. Tapi kenyataannya istriku sedang tidak hamil saat ini. Dan aku juga sudah memaafkan kesalahan kalian berdua, bisakah kau tak terus menyinggung perselingkuhan mu itu. Bahkan aku sendiri malu untuk mendengarnya" kesal Aryo karena Aldo terus mengumbar perselingkuhannya dengan istrinya.


Yesi terdiam, ia meras bersalah. Ya, secara tidak langsung ia memang telah berselingkuh. Dan haruskah ia kembali menyakiti suaminya dengan memilih kembali bersama Aldo. Tidak sepertinya ia tak sanggup untuk melakukannya. Ia sudah cukup beruntung suaminya mau memaafkan kesalahannya.


"Aku tidak perduli dengan apa yang kamu pikirkan, aku hanya menginginkannya. Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengannya" Aldo menunjuk pada Yesi. Rasa cintanya yang besar pada Yesi membuat ia lupa bahwa Yesi adalah milik saudara kembarnya.


"Mas Aldo, aku akan kembali dengan Mas Aryo. Jadi untuk kesalahan yang sudah kita buat dan juga perasaan Mas padaku selama ini tolong kubur dalam-dalam. Mas bisa mulai untuk mencintai wanita lain, dan saya berdoa mudah-mudahan Mas Aldo dapat yang lebih baik dari saya. Maafkan saya Mas, tolong jauhi saya mulai saat ini" Yesi mengambil keputusan untuk kali bersama Aryo suaminya, karena memang dari awal Ia adalah milik suaminya.


"Kau! Bagaimana kau bisa berkata seperti itu. Apa kau sudah melupakan semua yang pernah kita lewati. Bagaimana mungkin kau bisa berkata seperti itu!" teriak Aldo marah. Aldo mencoba meraih tangan Yesi tapi Mayang menghalanginya.


"Kak Aldo, Yesi sudah mengambil keputusan tolong Kakak hargai itu. Kak Aldo bisa memulai semua denganku dan aku akan buat Kak Aldo melupakannya dan mencintaiku!" teriak Mayang kesal. Galih yang mulai terganggu dengan keributan yang dibuat orang dewasa di depannya, memeluk Yesi erat.


"Mommy takut" Galih menyembunyikan wajahnya di dada Yesi. Selama ini ia tumbuh di lingkungan yang sehat. Ia belum pernah menyaksikan seseorang ribut dengan suara keras di depannya, jadi ia cukup terkejut.


"Kau..." Aldo yang ingin kembali berteriak menghentikan ucapannya, melihat Galih yang terlihat takut padanya.


"Sudah Kak, kita bicarakan lagi nanti, ayo kita pergi dari sini." Mayang menarik lengan Aldo dan membawanya keluar ruangan.


"Yesi, aku harap kau tak mengubah keputusanmu hari ini atau menyesalinya" pesan Mayang sebelum menghilang dari balik pintu.


Sementara itu kecanggungan terlihat antara Yesi dan Aryo.


"Terimakasih" ucap Aryo singkat.


"Seharusnya aku yang berbicara seperti itu, Terimakasih Mas mau menerima Yesi beserta kesalahan dan kekuranganku."


"Tidak itu bukan kesalahanmu, itu kesalahan Aldo yang menyembunyikan identitasku."


"Apa mas yakin mau menikah denganku? Apa mas tidak akan menyesal nanti?"


"Tidak keyakinanku sudah bulat, aku akan menikah denganmu. Tapi aku mohon satu hal darimu tolong jaga jarak dengan Aldo mulai sekarang. Aku tidak ingin dia kembali berharap padamu. Kau adalah istriku dari dulu dan sampo kapanpun, jadi tolong bersikaplah layaknya seorang istri" pinta Aryo.


Yesi mengangguk patuh walaupun sisi lain hatinya terasa sakit. Entahlah ia merasa ada yang salah, entah itu pilihannya atau perasaannya. Ia merasakan sakit saat ini, sebenarnya ada apa dengan hatinya. Benarkah sesungguhnya ia tak rela untuk melepaskan Aldo.


"Kaka Aldo! tunggu!" teriak Mayang.


"Sial!" Mayang menghentakkan kakinya ke lantai karena Aldo meninggalkannya begitu saja.


Aldo membawa mobilnya tak tentu arah hingga tak terasa hari sudah menjelang Malam. Ia menghentikan mobilnya di daerah perbatasan dimana terdapat aliran sungai tak jauh dari jalan raya. Ia menepikan kendaraannya.


Ia membuka kaca mobilnya dan menghirup udara segar dalam-dalam, menghilangkan rasa sesak di dadanya. Bahkan dinginnya udaraalam sepertinya tak bisa mendinginkan pikirannya, ia masih belum terima dengan apa yang terjadi padanya.


Tak disangka lelaki egois itu akhirnya menangis, mengingat keputusan Yesi yang ingin kembali pada Aryo. Suara dan gambaran Yesi yang menyatakan memilih Aryo terus berputar di kepalanya.


"Kenapa harus seperti ini? Seandainya aku yang bertemu denganmu sejak awal, semua pasti tidak akan serumit ini" gumam Aryo lirih menghantukkan kepalanya ke setir mobil.


"Ya Tuhan, apakah aku harus benar-benar mengikhlaskannya atau memperjuangkannya, Tolong beri aku petunjuk Tuhan, Aku tak sanggup rasanya jauh darinya." ucap Aldo menyenderkan kepalanya pada senderan kursi.


Merasa sudah bisa menenangkan diri Aldo pergi menuju rumah Ayahnya. Ia ingin bertanya pada Ayahnya tentang perjodohannya dengan Mayang.


Aldo memarkirkan mobil sembarangan ia bahkan menghantam tempat sampah yang berada di halaman rumahnya hingga tempat sampah jatuh dan berhamburan.


"Astaga Den, ada apa" tanya seorang pelayan yang usianya sudah cukup tua. Ia terkejut Aldo yang berjalan terburu-buru bahkan hampir menabraknya. untung saja ia melihat pergerakan Aldo dan berhasil menghindar kalau tidak entah apa jadinya jika tubuh rentanya itu menabrak sosok tegak dan kekar milik Aldo.


Aldo tak memperdulikan pertanyaan pelayan itu, ia segera menuju kamar Ayahnya dan mengetuknya dengan tergesa-gesa.


Tok tok tok


"Pa! Papa...!!!" teriak Aldo tak memperdulikan sekitarnya.


"Maaf Tuan, tuan besar ada diruang kerjanya" seorang pelayan menghampiri Aldo.


Tanpa basa-basi Aldo langsung meluncur ke ruang kerja Ayahnya. Tanpa mengetuk pintu lagi ia langsung masuk ke ruangan itu.


"Pa...!!!" teriaknya dengan suara nyaring.


"Aldo! dimana sopan santunmu, kau berteriak bahkan masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu" protes Ayahnya.


"Apa maksud Papa menjodohkan aku dengan Mayang. Apa belum cukup puas Papa memisahkanku dari Wanita yang aku cintai!"


"Wanita itu dari awal memang bukan milikmu. Memulai hidup yang baru bersama Mayang. Ia adalah pilihan terbaik untukmu. Sebaiknya kau bertunangan dengannya, dan dua bulan kemudian kalian menikahlah. Ayah akan persiapkan pernikahan termegah untuk kalian berdua." ucap pria tua itu.


"Aku tidak perduli dengan rencanamu Pa, aku sendiri yang akan mengatur hidupku. Jadi jangan ikut campur dengan hidupku lagi. Dengan siapa aku menikah nanti semua adalah keputusan dan pilihanku."


"Aku akan memberikan perusahaan sepenuhnya milikmu jika kau mau menikahi Mayang."


"Dan tolong juga sampaikan pada anak kesayangan Papa itu, aku akan memberikan semua hak warisku padanya jika ia melepaskan Yesi. Bahkan semua yang aku miliki jika ia memang menginginkannya!!"


TBC.