
Aldo merasakan hatinya seperti tertusuk sebilah pisau, ia merasa dilema antara permintaan Yesi dan Galih, di tambah lagi dengan perasaannya yang hancur berantakan. Yesi memintanya menjauh tapi Galih memintanya untuk tidak meninggalkannya. Batinnya menjerit, ingin rasanya ia membawa kabur kedua orang itu saat ini juga.
Tak lama Dokter Rizky datang menghampiri Aldo dan Aryo. Ia memberi selamat pada Aryo, lalu mengambil Galih dari Aldo.
"Ayo ikut denganku! Apa kau ingin melihat Mommy mu, Ia pasti sangat cantik hari ini" ucap Rizky sembari menggendong Galih.
"Aku mau" Galih mengangkat kedua tangannya untuk meminta gendong Dokter Rizky.
"Al, Ar, aku pergi menemui Yesi dulu ya" ucap Rizky berpamitan pada Aryo dan Aldo. Dokter Rizky pergi sembari membawa Galih dalam gendongannya. Galih terlihat manja hari ini, ia enggan berjalan di antara kerumunan undangan.
"Selamat untuk pernikahanmu, Aku harap kamu bisa membahagiakannya. Jika kau sampai menyakitinya maka akan ada orang lain yang siap merebutnya darimu" ucap Aldo ikut memberi selamat tapi terdapat nada ancaman di dalamnya.
"Jangan khawatir, aku akan menjaga istriku baik-baik. Tidak akan kubiarkan seorang pun merebutnya dariku" ucap Aryo. Aldo dan Aryo saling menatap tajam. Pancaran mata mereka seolah-olah ingin saling menerkam, bahkan Ayahnya dapat merasakan aura permusuhan dari tatapan keduanya.
"Sudah-sudah, penghulu sudah Datang. Aryo cepat duduk di tempatmu, acara akan segera dimulai" Tuan besar menyudahi tatapan mereka, ia takut ini akan berakhir dengan sebuah konflik.
"Baik Ayah" Aryo melangkah menuju tempat yang di sediakan untuknya. ia duduk di tempat mempelai pria, sementara Aldo menjauh dari tepat itu. Tapi setidaknya dari tempatnya ia berdiri, ia masih bisa melihat proses pelaksanaan akad nikah itu.
Sementara itu Yesi yang berada dikamar rias sudah terlihat sangat cantik dengan kebaya putih. Riasan diwajahnya terlihat menambah aura kecantikan di wajahnya. Penata rias menatap kagum hasil maha karyanya yang ia torehkan di wajah Yesi.
"Sempurna" ucapnya sembari memandangi Yesi takjub.
"Mommy" tiba-tiba pintu terbuka menampilkan bocah laki-laki yang berlari menghampiri Yesi.
"Eit, berhenti disitu" perias menghalangi Galih yang siap berlari menuju Yesi.
"Jangan lari, jalan dengan hati-hati. Kau akan membuat baju ibumu kusut nanti" perias itu terlihat begitu posesif ia tidak ingin maha karyanya rusak sebelum orang lain melihatnya.
"Aku hanya ingin memeluk mommy sebentar" Galih mengerucutkan bibirnya.
"Baiklah-baiklah tapi kau harus berhati-hati jangan sampai riasan Mommy mu rusak" perias itu menggandeng dan membawa Galih mendekat pada Yesi.
"Mommy kau sangat cantik hari ini. Iya, kan Papa Dokter?" Galih mendekat pada Yesi yang masih duduk di depan meja rias. Ia mengecup pipi Yesi dengan hati-hati.
"Iya, mommy mu sangat cantik" Rizky menatap kagum tampilan Yesi. Maklum saja ibu satu anak itu tidak pernah berias berlebihan, biasanya ia hanya menggunakan lipstik dan bedak saja untuk merias penampilannya.
"Terimakasih sayang, kau juga terlihat tampan dengan jas ini" Yesi memperbaiki penampilan kerah jas Galih yang sedikit terlipat keatas.
"Sudah waktunya, penghulu sudah datang" Bu Hana dan bunda Rizky masuk ke dalam ruangan Yesi.
Penata Rias kembali memperbaiki tampilan Yesi dan menyerahkan Yesi pada Bu Hana dan Bunda Rizky sebagai pendamping pengantin.
Yesi yang ditatap Benyak orang merasa gugup, ia melangkahkan kakinya perlahan. Aryo yang awalnya duduk memilih bangun dan menyambut pengantinnya. Ia mengulurkan tangannya ke arah Yesi, Yesi menyambutnya dengan senyuman.
Sementara itu Aldo yang berada di sudut ruangan menatap perih adegan romantis itu. Dadanya semakin sesak, ia tak kuasa hingga air matanya menetes. Secepat tetesan air mata secepat itu pula ia menghapusnya.
Aku harus ikhlas melepasnya, ini sudah menjadi pilihannya, batin Aldo perih.
Ingin sekali ia berlari menghampiri Yesi dan membawanya kabur dari acara pernikahan ini. Tapi apalah daya ia tak sanggup untuk mempermalukan keluarga besarnya dengan tindakannya yang gegabah. Apalagi Yesi lebih memilih kembali pada suaminya di bandingkan memperjuangkan cinta mereka.
Pengantin duduk bersandingan, sebuah kerudung putih menutupi bagian kepala kedua pengantin.
Waktunya Pak penghulu memberi sedikit wejangan pernikahan sebelum acara inti dimulai. Aryo selalu menyunggingkan senyumannya bersanding dengan wanita pujaannya.
"Baiklah, mari kita mulai" Ucap Pak penghulu, Yesi menikah menggunakan wali nikah, mengingat Yesi adalah Yatim piatu dan tidak memiliki saudara laki-laki."
"Saya terima...." Baru dua kalimat yang keluar dari bibir Aryo, Aldo sudah benar-benar tak sanggup untuk mendengarnya. Ia melangkah cepat menuju keluar ruangan. Ia tak sanggup menyaksikan ini semua. Ia takut jika ia tidak bisa mengontrol emosinya dan membuatnya menghancurkan pernikahan saudaranya.
Aldo masuk ke dalam mobilnya dengan membanting pintu cukup keras dan menancapkan gasnya. Dengan pikiran kacau ia melaju kencang menuju wilayah perbatasan.
Suasana jalan yang cukup lengang membuat Aldo terus menambah kecepatan mobil. Ia menyalip setiap mobil yang ada di depannya. Aldo yang pikirannya kacau tak bisa melihat jika ada sebuah truk yang ikut menyalip dari arah sebaliknya.
Bermaksud menghindari kecelakaan Aldo membanting setir mobilnya, laju mobil yang sangat kencang awalnya hingga membuat ujung mobil depannya menabrak pembatas jalan dengan keras. Ia masih berusaha terus mengendalikan mobilnya. Keadaan mobil sudah terlihat ringsek parah di bagian depan, ia bisa merasakan kaki sebelah kiri yang terhimpit bodi mobil bagian depan.
Kaca mobil hancur berantakan Bahkan kepala Aldo menghantam setir mobil karena goncangan yang begitu keras. Aldo melihat kilasan balik dalam ingatannya.
Ya, sebuah ingatan yang sangat ingin ia ingat. Ia mengingat bagaimana ia menikahi Yesi, ia mengingat bagaimana sentuhan yang mereka lakukan di malam pertama, ia mengingat bagaimana pelukan dan kecupan yang istrinya berikan sebelum kepergiannya, ia juga mengingat janjinya akan segera kembali menjemput istrinya.
Ia tertawa dalam tangisannya, ia menangisi kebodohannya. Mengapa ia baru mengingat sekarang. Kenapa identitasnya tertukar, ada misteri apa di balik ini semua. Lalu bagaimana dengan nasibnya sekarang bahkan istrinya sudah menikah dengan saudaranya yang mereka pikir adalah Aryo yang sebenarnya. Ia tertawa sekali lagi.
Mobil yang menghantam pembatas jalan membuat pembatas jalan itu terlepas, mobil meluncur bebas terjun ke bawah, hingga sebuah ledakan besar terdengar.
Ya mobil itu meledak, karena setelah meluncur bebas ke bawah, mobil itu berguling-guling tak karuan hingga sebuah ledakkan menghentikan gulingan mobil itu. Sebagian besar serpihan mobil ikut terbang bersama ledakkan. Mobil itu hancur tak berbentuk menyisakan sekumpulan api dan gumpalan asap yang membumbung tinggi ke angkasa.
Gumpalan asap itu seolah-olah mewakili perasaan Aldo. Gumpalan asap yang awalnya membumbung tinggi ke angkasa tapi hilang tak berbekas di balik awan.
Akankah kecelakaan ini menjadi awal perjalanannya yang baru karena ia sudah mengetahui identitasnya yang sebenarnya. Atau akan menjadi akhir dari perjalanan hidupnya.
TBC