My Lovely Husband

My Lovely Husband
Kecelakaan Maut.



Tuan besar memperlihatkan raut wajah marahnya, tak berbeda jauh dengan Mayang maupun Ayahnya. Mereka merasa dipermalukan saat ini, bukankah Tuan besar sendiri yang mengundang mereka hari ini untuk membicarakan masalah pernikahan anak mereka. Lalu mengapa sekarang tiba-tiba ada wanita lain disisi Aldo yang diakui sebagai calon istrinya.


"Jangan macam-macam kau Aldo, Ayah sudah menyetujui pernikahanmu dengan Mayang. Ia wanita baik dan sederajat dengan kita" ucap Tuan besar dengan wajah memerah menahan marah.


Tania semakin menundukkan pandangannya, nyalinya menciut, ingin rasanya ia bisa masuk ke lubang semut dan bersembunyi disana.


"Aku tidak pernah bilang setuju dengan perjodohan ini. Ini semua adalah perjodohan sepihak yang papa buat, kenapa tidak Papa saj yang menikahinya jika ia baik menurut Papa. Bukankah papa pria lajang saat ini" ucap Aldo sembarangan. Sifat Aldo yang terbuka dan apa adanya membuatnya bebas mengeluarkan pendapatnya.


"Jangan kurang ajar kau Aldo, lepaskan wanita disebelahmu itu, dan turuti kemauan Papa. Kalau kau terus membangkang aku tidak akan segan-segan mencabut hakmu sebagai ahli waris" Ancam Tuan besar.


"Silahkan, aku tidak butuh uangmu, aku bisa mencari lebih banyak dari milikmu" ucap Aldo.


Aldo adalah termasuk anak yang cerdas dalam dunia bisnis. Ia yakin akan bisa sukses suatu hari nanti sekalipun tanpa dukungan dari keluarganya.


"Ayo kita keluar dari sini" ucap Aldo kembali menarik tangan Tania.


"Aldooo!!" teriak Tuan besar marah besar.


"Apa masih ada yang ingin kau bicarakan lagi, katakanlah karena aku harus bergegas mengurus pernikahanku. Aku tidak ada waktu untuk sekedar berbasa-basi denganmu atau kedua orang yang kau undang ini" Aldo terlihat tak sabaran menghadapi kemarahan Ayahnya.


"Apa istimewanya gadis miskin ini, ia hanya akan memperdayamu untuk bisa menikmati kekayaanmu. Bahkan derajat pembantu kita saja lebih tinggi darinya. Kalau kau tak percaya coba tanyakan pendidikan terakhirnya, bahkan pembantuku saja pendidikan terendah mereka adalah Diploma (D3)" Tuan besar menghina status Tania dengan ucapannya yang bagaikan bon cabe level tinggi.


Tuan besar sudah tahu tentang kedekatan Aldo dan Tania. Ia menyelidiki latar belakang keluarga dan pendidikan gadis malang itu yang hanya lulusan SMA. Gadis yatim piatu yang di besarkan oleh paman dan bibinya sebelumnya. Tapi setelah lulus sekolah ia memilih tinggal sendiri di kosan kecil karena Bibinya tidak menyukai kehadirannya di rumahnya.


"Ma-mas, tolong lepaskan tanganku. Ijinkan aku berbicara dengan Ayahmu sebentar" Pinta Tania lembut pada Aldo.


Tania memberanikan diri untuk mendekat dengan Tuan besar.


"Tuan maaf karena kehadiran saya membuat ketidaknyamanan kalian semua. Anda memang benar saya tidak pantas dengan putra anda, pendidikan saya memang rendah jika di bandingkan kalian semua. Tapi satu hal yang perlu Tuan tahu, saya tidak pernah meminta anak anda untuk menikahi saya. Apalagi berfikir untuk menikmati kekayaanya."


"Dasar penipu" umpat Tuan besar melirik kalung berlian dileher Tania yang harganya selangit.


Tania melepaskan kalung berlian dilehernya. Ia memperhatikan pandangan tuan besar yang sempat melirik kalung berlian dengan harga fantastis yang ada di leher Tania. Tuan besar yakin bahkan dengan gaji Tania selama 5 tahun tak akan sanggup untuk membeli berlian itu.


"Mas, aku kembalikan kalung ini padamu. Kita sudahi hubungan kita, aku akan mengembalikan baju ini nanti. Saya permisi dulu Mas."


Tania lari keluar dari ruangan itu, ia menangis tak sanggup lagi untuk membendung air matanya. Sebesar apapun ia menyiapkan mental untuk datang kerumah ini toh akhirnya ia kalah juga.


"Tania tunggu!!" teriak Aldo ikut berlari mengejar Tania.


"Berani kau keluar dari rumah ini, maka aku akan mencoretmu dari daftar keluarga" teriakkan Tuan Besar dihiraukan Aldo. Ia tetap pada keinginannya yang lebih memilih Tania.


Di luar ternyata hujan lebat, hujan besar ini seolah-olah tahu dengan kesedihan Tania. Tania tidak perlu lagi khawatir untuk menangis ataupun menjerit. suara derasnya hujan akan menyamarkan tangisannya, rintikan hujan juga akan menyembunyikan air matanya.


Tania terus berlari dalam derasnya hujan. Aldo memilih mengambil mobilnya untuk mengejar Tania.


Sampai di depan Tania, Aldo turun dan menggendong Tania masuk kedalam mobil. Tania meronta meminta untuk di keluarkan dari mobil. Aldo tak perduli ia terus menancapkan gas mobilnya melaju menerjang derasnya hujan.


Konsentrasi Aldo terbagi antara meredakan amarah Tania yang terus memukulinya. Sementara itu ia sama sekali tidak ingin mengurangi kecepatan mobilnya. Ia bisa melihat mobil Ayahnya yang melaju berada tepat di belakangnya.


Hingga tanpa Aldo sadari ada seorang wanita yang sedang menyebrang di depannya. Entah wanita itu berhasil menghindarinya atau tidak, ia menutup matanya dan membanting setir seolah-olah pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti.


Brakkk


Tabrakan besar tak terelakkan lagi, Mobil Aldo masuk ke jalur berlawanan arah hingga tak sengaja ikut menghantam mobil yang sedang melaju berlawanan arah dengannya.


Mayang segera mengeluarkan Aldo dari dalam mobil. Ia tak memperdulikan korban lainnya yang ikut tergeletak bersimbah darah. Termasuk gadis yang menyebrang jalan yang ingin Aldo hindari.


Mayang segera menelpon Ayahnya untuk melapor pada polisi agar bisa mengurusi korban yang lain. Ia membawa Aldo seorang diri kedalam mobil dan ia pun melaju ke rumah sakit. Ia terlihat khawatir dengan Darah yang mengalir di tubuh Aldo. Ia mengaktifkan mode auto-pilot pada mobil jenis Tesla mode S. mode ini memungkinkan mobil untuk berjalan sendiri dengan kecepatan yang sudah Mayang atur.


Mayang beralih pada Aldo, dengan tangan bergetar karena takut ia membersihkan luka Aldo dan menekannya agar tidak banyak darah yang keluar.


Sampai di rumah sakit dokter langsung mengambil tindakan cepat pada Aldo. Mayang menunggu was-was di depan ruang unit gawat darurat. Satu setengah jam kemudian, Ayah Mayang datang menghampirinya.


"Bagaimana kondisi Aldo" tanya Ayah Mayang.


"Entahlah Pa, dokter masih merawatnya. Dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengecek kondisi fisiknya" ucap Mayang terlihat khawatir, walau bagaimanapun ia memiliki perasaan pada Aldo walaupun tak berbalas.


"Bagaimana dengan kondisi korban yang lainnya, Pa" tanya Mayang setengah berbisik. Ia sudah meminta Ayahnya untuk melihat korban kecelakaan.


"Wanita yang di bawa Aldo dan satu lagi wanita yang ada di jalan raya, mereka meninggal dunia karena telat mendapatkan pertolongan. Sementara supir mobil yang bertabrakan dengan Aldo pingsan dan mengalami patah tulang kaki, untungnya hanya dia seorang yang ada di dalam mobil" jelas Papanya Mayang.


Tak ada raut bersalah sedikitpun dari Mayang, seandainya saja Mayang juga membawa mereka berdua kerumah sakit pasti nyawa mereka akan tertolong.


"Syukurlah, setidaknya wanita itu tidak akan jadi penghambat dalam hubunganku nanti" ucap Mayang mensyukuri kematian Tania.


Tak lama dokter keluar menjelaskan kondisi fisik Aldo dari segi medis.


"Kondisi pasien Kritis dan sedang koma saat ini. Kami tidak bisa memastikan keselamatannya karena banyak luka yang menyebabkan pasien kekurangan darah, ia juga mengalami pendarahan pada bagian kepala. Kemungkinan untuk bertahan hidupnya sangat kecil" ucap Dokter terlihat menyesal.


"Apa tidak ada yang bisa dilakukan untuk kesembuhan pasien dokter?" tanya Papa Mayang.


"Kami tidak berani melakukan operasi pada pasien saat ini, karena resiko kematiannya yang besar. Saya hanya bisa berusaha semampu saya untuk memperbaiki kondisi pasien


untuk masalah hidup dan mati sebaiknya Tuan sekeluarga banyak-banyak berdoa" jelas dokter membuat wajah Mayang semakin muram.


"Pa bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan. Mayang nggak mau kehilangan Aldo, Pa!!" ucap Mayang dengan perasaan tak karuan.


"Mana yang paling kau cintai, Aldo atau hartanya" tanya Ayah Mayang.


"Apa maksud Papa!!" ucap Mayang tak mengerti dengan pertanyaan Ayahnya.


"Jawab saja pertanyaan Papa dan jangan coba untuk berbohong."


"Harta" jawab Mayang yakin.


"Ayo ikuti Papa." Ayah Mayang membawa ke sebuah ruangan mewah dimana ada pasien yang sama kritisnya dan sedang berjuang hidup.


"Pa, dia...!!" Mayang terkejut melihat Pria yang bak pinang di belah dua. Ia benar-benar mirip dengan Aldo.


"Jika Aldo tak selamat dia yang akan menggantikannya. Sekalipun saat ini ia sedang kritis tapi semangat untuk hidupnya tinggi. Ia akan sadar suatu hari nanti, Ayah yakin itu.


"Tapi Pa, bagaimana bisa!! Mereka memiliki ingatan dan kehidupan yang berbeda" tanya Mayang


"Serahkan semua pada papamu ini, aku akan mengatasi semuanya" Pria tua itu tersenyum licik. Sementara Mayang mengambil cincin yang ada di jari Aryo.


Flashback off


TBC.