My Lovely Husband

My Lovely Husband
Perpisahan



Hari pernikahan Aryo dan Yesi semakin dekat, Aldo yang dikabari oleh asistennya, memutuskan untuk kembali ke kota segera. Ia ingin bertemu Yesi untuk meyakinkannya terakhir kali.


Sedangkan untuk pertunangan Aldo dibatalkan karena ia tak mau berurusan dengan Mayang ataupun wanita lainnya. Nama Yesi sudah terlanjur terukir di hati dan pikirannya.


"Kenapa terburu-buru Den, Mbok Darmi dan Pak Atmo masih ingin mengobrol banyak sama aden" ucap wanita setengah baya itu seperti tak rela melepaskan kepergian Aldo.


"Ada hal penting yang harus saya urus Mbok, Nanti kalau sudah selesai urusannya saya janji main kesini lagi" ujar Aldo pada wanita paruh baya itu.


"Biarkan saja Toh Mbokne, Den Aldo banyak urusan yang harus dikerjakan, kapan-kapan kan bisa disambung lagi ngobrolnya" sambung Pak Atmo tak ingin menghalangi kepergian Aldo.


"Bukannya gitu Pak'e, aku hanya khawatir saja perasaan Mbokne nggak enak akhir-akhir ini" wanita perih baya itu menimpali ucapan suaminya.


"Sudah-sudah Pak Atmo dan Mbok Darmi jangan bertengkar gara-gara saya. Ini ada uang untuk keperluan villa dan Juga buat kalian berdua" Aldo menyodorkan seamplop tebal berisi uang pada mbok Darmi.


"Kok banyak sekali Den," ucap mbok Darmi mengintip isi amplop pemberian Aldo.


"Ya nggak apa mbok, buat beberapa bulan ke depan."


"Tuh kan Pak'e, Den Aldo pasti lama nggak bakalan kesini, ini aja uangnya dikasih banyak banget" wanita paruh baya itu berkata dengan wajah cemberut.


"Saya pasti kesini kok Mbok, doakan saya sehat selamat, biar bisa ketemu mbok lagi" sahut Aldo.


"Ya sudah Den Aldo berangkat saja sekarang, agar sebelum tengah malam sudah sampai tujuan, bapak doakan Nak Aldo sehat selamat dan segala hajat nak Aldo terkabul" ujar Pria tua itu.


"Aamiin, terimakasih banyak atas doanya Pak" Aldo berjabat tangan dan mencium tangan kedua orang paruh baya itu, sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan tepat itu. Mbok Darmi menatap tak rela kepergian Aldo, ada sesuatu yang mengganjal pikirannya seolah-olah ada hal besar yang akan menimpa Aldo.


Aldo sampai ditempat Yesi malam hari, sedangkan besok setelah sholat Jum'at adalah acara akad nikah Yesi. Yesi tidak ingin pernikahannya dirayakan besar-besaran ia hanya ingin keluarga dan sahabat terdekat saja yang menghadiri pernikahannya. Pernikahan pun dilakukan di kediaman Ayah mertuanya. Yesi yang diminta untuk tinggal disana menolak, ia akan kesana besok pagi untuk persiapan riasan pengantin.


Ayah Aryo yang awalnya menolak dan ingin pernikahan itu dirayakan secara besar-besaran akhirnya tidak bisa berbuat apapun karena Yesi menetapkan itu sebagai salah satu syarat dirinya mau kembali menikah dengan Aryo. Kali ini bukan pernikahan siri, melainkan pernikahan yang tercatat secara agama maupun hukum negara.


"Daddy..." tiba-tiba Galih berlari menghampiri Aldo yang masuk tanpa mengetuk pintu. Yesi lupa mengganti sandi pintu masuk hingga Aldo bisa masuk tanpa sepengetahuan si empu rumah. Saat ini dirumah hanya terdapat Yesi dan Galih.


Sementara Bu Hana diminta Dokter Rizky untuk memberitahu ibunya tentang pernikahan Yesi, ia sudah mencoba menghubungi ibunya lewat handphone tapi handphone ibunya tidak bisa di hubungi. Sepertinya handphone Ibunya kehabisan daya, hal ini sudah bukan pertama kali terjadi. Bu Hana dan juga Ibu dari Dokter Rizky akhirnya memutuskan akan berangkat besok pagi bersama ke acara pernikahan Yesi.


"Wah, putra Daddy sudah besar. Daddy kangen" ucap Aldo sembari menciumi Galih. Galih yang terlihat senang membiarkan Aldo menciumi wajahnya. Ia yang sedikit merasakan geli karena Aldo tak mencukur bulu halus di wajahnya akhirnya tertawa dan minta dilepaskan.


"Ampun Daddy ampun. Geli Daddy geli" ucap Galih sembari berusaha turun dari gendongan Aldo. Berhasil turun ia duduk disofa dan meminta Aldo untuk duduk disebelahnya.


"Mommy sini" panggil Aldo ketika melihat Mommy nya menatap Aldo dan Galih dengan wajah sendu. Ada rasa bersalah dihatinya memisahkan Aldo dan Galih.


"Daddy juga kangen, tapi Daddy ada kerjaan yang harus diselesaikan diluar kota" ucap Aldo beralasan. Sementara Yesi diam saja, ia membiarkan Galih dan Aldo meluapkan rasa rindunya.


"Kenapa handphone Daddy dimatikan? Galih terus menghubungi Daddy tapi nggak pernah Daddy angkat" ucap Galih lagi dengan nada merajuk. Ia mempermainkan jenggot Aldo yang mulai lebat dengan jari-jari mungilnya.


"Maaf, disana sinyal buruk" lagi-lagi Aldo beralasan. Sesungguhnya ia sengaja mematikan handphone miliknya karena ingin menjernihkan pikiran. Dan begitu ia hidupkan kembali handphone miliknya, ternyata banyak panggilan tak terjawab dan ada juga beberapa notifikasi dari asistennya tentang pernikahan Yesi. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk segera kembali saat itu juga.


Aldo bermain-main dengan Galih sebelum akhirnya bocah itu tertidur di pangkuannya.


"Tidurkan dikamarnya saja Mas." ucap Yesi menyuruh Aldo membawa Galih ke kamar bocah itu. Aldo mengangguk dan segera membawa Galih karena ia perlu berbicara empat mata dengan Yesi.


"Apa kau yakin dengan keputusanmu" tanya Aldo pada Yesi sekali lagi. Ia masih berharap Yesi mau mengubah keputusannya.


"Maaf Mas, Yesi sudah memutuskan untuk kembali sama Mas Aryo. Lupakan aku Mas, hubungan kita sebelumnya adalah suatu kesalahan. Aku beruntung karena Mas Aryo mau memaafkanku" ucap Yesi dengan mata yang memerah. Ia benar-benar merasa dilema, hubungannya selama ini menimbulkan benih-benih cinta di kedua belah pihak. Sayang alam semesta tak mendukung bersatunya mereka.


"Apa kebersamaan kita selama ini tak ada artinya untukmu?" ucap Aldo, ia sudah tak bisa lagi menahan air matanya. Yesi adalah segalanya untuknya ia belum siap untuk kehilangan ataupun dicampakkan seperti ini.


"Maaf Mas, maafkan Yesi. Yesi harus kembali dengan suami Yesi. Tolong lupakan aku Mas, mulailah kehidupanmu dengan mencari penggantiku" ucap Yesi, ia sama dengan Aldo ia tak kuat menahan sesak di dadanya hingga air matanya ikut mengalir deras membasahi pipinya.


"Aku tahu kau mencintaiku, ikutlah pergi denganku kita tinggalkan kota ini dan mulai hidup yang baru bertiga dengan Galih, aku mohon" ucap Aldo memohon, ia mengusap air mata yang membanjiri pipinya dan juga Yesi.


"To-tolong jangan seperti ini Mas hiks hiks hiks.., Yesi nggak mau melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Restui aku kembali pada su-amiku dan ba-bahagia dengannya." tolak Yesi sesenggukan.


"Apa kau yakin" Aldo mendekat dan menyatukan kening mereka, Yesi tak kuasa untuk menolaknya.


"Ijinkan aku memelukmu untuk terakhir kalinya, aku akan pergi jauh besok setelah akad nikahmu" ucap Aldo di angguki Yesi.


Dua orang yang saling mencintai memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka dengan sebuah pelukan, di iringi dengan tangisan yang menyayat hati.


Cukup lama Aldo memeluk Yesi hingga akhirnya ia melepaskannya. Ia menghapus air mata di pipi Yesi hingga akhirnya mengecup kening Yesi untuk terakhir kalinya.


"Selamat tinggal sayang aku doakan kau bahagia dengannya" Ucap Aldo lirih tak kuasa membendung air matanya.


Ia beranjak dari duduknya dan keluar dari rumah Yesi dengan langkah tergesa-gesa, sampai diluar ia memukul dadanya yang terasa sesak bahkan air matanya sudah tak terkontrol lagi. Mengalir deras membasahi pipinya hingga mengenai bulu-bulu halus yang mulai memanjang disekitaran wajahnya. Biarlah hari ini ia dikenal sebagai pria cengeng karena sebagian hatinya pergi meninggalkannya.


Hal yang sama juga terjadi pada Yesi, ia menangis sambil memukul dadanya yang terasa sesak menghimpit. Mulai saat ini ia harus bisa melepaskan rasa cintanya yang salah dan mengembalikannya pada tempatnya.


TBC.