My Lovely Husband

My Lovely Husband
Mengunjungi Si Kembar.



Galih Bangun lebih pagi dari biasanya, ia sudah membuat seisi rumah sibuk karena permintaannya.


"Bibi Ana!! jangan lupa sup daging dan salad buah untuk Mommy ku" teriak Galih dari lantai atas.


"Sudah siap Den" ucap wanita paruh baya itu tersenyum. Majikan kecilnya itu sudah membuatnya sibuk di pagi buta dengan berbagai permintaannya.


"Pak Asep, lima belas menit lagi kita berangkat!" teriak Galih pada supir pribadinya.


"Siap Den" ucap pria paruh baya itu seraya memberi hormat majikannya yang berteriak dari lantai atas.


"Mbak Lala, aku nggak mau pakai baju kaos model ini. Tolong ambilkan baju hem yang di belikan mommy Minggu lalu" perintah Galih pada salah satu asisten rumah tangga termuda yang ada di rumahnya.


"Ini Tuan muda" Mbak Lala menyodorkan kemeja yang di inginkan Galih.


Galih menerima kemeja itu dengan tersenyum, ia ingin menemui mommy nya dengan tampilan paling baik dan rapi.


Di dalam mobil Galih selalu tersenyum, tak bosan-bosan ia memandang wajah mungil adik kembarnya di layar handphone miliknya.


"Apa masih lama Pak Asep?" tanya Galih tak sabar.


"Sebentar lagi Den" ucap Pak Asep tersenyum. Galih melirik Jhon yang duduk tepat disebelahnya. Pria dingin orang kepercayaan Aryo itu di sibukkan dengan laptop di pangkuannya.


Dengan di dampingi Jhon, Galih berjalan melewati ruangan rawat inap. Pandangannya terpaku ke salah satu sudut ruang yang pintunya terbuka lebar.


Tampak di ruangan itu seorang dokter di temani dua orang perawat sedang memeriksa pasien.


"Daddy" ucap Galih lirih tanpa sadar, lalu dengan cepat membungkam mulutnya.


"Ada apa?" Jhon menoleh ke belakang, melihat Galih terdiam terpaku.


"Tidak ada apa-apa Uncle Jhon" Galih dengan cepat berlari menyusul Jhon. Ia tidak ingin Jhon ikut melihat, apa yang telah Galih lihat.


"Akhirnya kau kembali Daddy" batin Galih dalam hati. Terlihat senyum tipis di seputaran wajah Galih, bahkan kedua kelopak matanya terlihat memerah menahan rasa bahagianya.


Galih kembali berjalan mengikuti langkah kaki Jhon. Ternyata ruangan Key tak begitu jauh dari ruangan Yesi. Mereka berdua dirawat di lantai yang sama, hanya saja ruangan Yesi terletak paling ujung sesuai permintaan Aryo.


"Mommy...." Galih menghampiri Yesi dengan berlari. Tapi baru setengah jalan tiba-tiba Aryo menyambar tubuhnya dan membawa dalam gendongannya.


"Ssuttts," Aryo memberi kode dengan meletakkan telunjuk tangannya di bibirnya.


"Mommy baru saja tertidur jadi jangan ribut, oke" ujar Aryo, Galih yang tadinya ingin memberontak mengurungkan niatnya.


"Turunkan aku" pinta Galih dengan suara lirih.


Aryo menurunkan Galih dari gendongannya. Galih berjalan pelan menuju ke tempat tidur ibunya. Pelan-pelan ia mendekat dan mencium punggung tangan ibunya.


"Paman, dimana kedua adikku?" tanya Galih pada Aryo.


"Jhon, tolong antar Galih ke ruangan si kembar" perintah Aryo pada Jhon.


Sebelum pergi mengikuti Jhon, Galih menoleh pada Aryo. Menatapnya dalam, memperhatikan raut wajah letih dari wajah pamannya itu, bahkan kelopak bawah matanya terlihat menghitam. Pasti pamannya itu bergadang semalaman menunggu Mommy nya.


"Paman, terimakasih karena sudah menunggu mommy" ucap Galih ketika melewati Aryo.


"It's oke" jawab Aryo.


"Tapi ingat paman Mommy adalah milik Daddy ku, jadi jangan coba-coba merebut mommy dari Daddy" sambil berlalu Galih mengucapkan kata-kata yang terdengar menyebalkan di telinga Aryo.


"Sebaiknya kau segera pergi temui adikmu, sebelum aku berubah pikiran" ujar Aryo membuat Galih kesal.


Galih mempercepat langkah kakinya, mengikuti Jhon yang memiliki langkah kaki lebar membuatnya cukup kewalahan. Tapi ia tak mengeluh karena keinginan untuk menemui adiknya.


"Disini Tuan muda, Adik anda ada di dalam sana. Tapi kita hanya bisa melihatnya dari luar sini saja," Jack mengambil sebuah kursi dan menyuruh Galih untuk naik diatasnya.


"Apa kita tak boleh masuk ke dalam dan mengeluarkan adikku dari kotak kaca itu?" tanya Galih.


"Adik anda belum bisa beradaptasi dengan suhu udara luar. Ia memerlukan kotak itu untuk menghangatkannya."


"Benarkah!! padahal aku ingin menggendongnya, aku juga ingin adikku melihat penampilanku hari ini" Galih terlihat kecewa.


"Jangan khawatir seminggu lagi adik anda sudah bisa keluar dari kotak itu" sahut Jhon.


"Hai adik, disini kakak Galih. Jangan nakal ya, dan cepat besar biar bisa bermain denganku" ucap Galih penuh percaya diri. Walaupun kenyataannya kedua adiknya itu tak mendengar ucapannya.


Galih memuaskan diri dengan memandang wajah adiknya satu persatu. Tampak kedua anak kembar itu tertidur nyenyak di dalam box incubator.


"Uncle Jhon" panggil Galih sembari turun dari kursi.


"Hemmm" sahut Jhon singkat.


"Aku ingin mengunjungi temanku, dia dirawat dirumah sakit ini juga" ucap Galih.


"Baiklah, tapi sebaiknya kita lapor ke ayah anda terlebih dahulu" saran Jhon.


"dia bukan ayahku, dia pamanku!" ucap Galih tegas.


"Terserah anda menyebutnya apa, tapi yang jelas Anda membutuhkan ijin darinya" ucap Jhon terlihat sedikit kesal.


"Oke! Uncle Jhon pergilah minta ijin Paman Aldo, sedangkan saya akan langsung mengunjungi temanku."


Galih paling tidak suka jika Aldo dipanggil dengan sebutan Aryo, padahal sudah jelas kalau Aryo adalah nama asli Ayahnya. tapi kenapa saudara kembar Ayahnya yang bernama Aldo itu masih saja menggunakan nama Aryo.


"Tidak, kita pergi bersama" tolak Jhon, ia tak ingin disalahkan jika sampai terjadi sesuatu dengan tuan mudanya.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu. Tapi pada saat mengunjungi temanku, aku hanya ingin sendiri. Tidak satupun dari kalian boleh mengikutiku" Galih langsung pergi mendahului Jhon menuju kamar mommy nya.


Sampai di dalam kamar, Galih memberi kode pada Uncle Jhon untuk menyampaikan maksudnya pada Aryo. Sedangkan ia kembali mendekat pada mommy nya yang masih tertidur nyenyak. Mungkin efek obat pasca operasi membuat mommy nya betah tidur.


"Kau boleh pergi tapi tetap ditemani Uncle Jhon" ucap Aryo setelah mendengar penjelasan Jhon.


"Tidak! aku sudah besar paman, apa kata temanku jika masih ditemani oleh kalian" tolak Galih.


"Ini demi keselamatanmu" sahut Aryo.


"Tidak pokoknya aku ingin sendiri menemuinya, jangan coba-coba mengaturku atau aku akan makin membencimu paman."


Setelah melewati debat yang panjang akhirnya Aryo mengijinkan Galih menemui temannya. Ia hanya memberi waktu bocah itu selama setengah jam saja. Lebih dari itu maka Jhon akan menjemputnya, dan sebagai hukuman jika ia sampai terlambat kembali adalah tidak boleh lagi ikut ke rumah sakit mengunjungi Ibunya.


Dengan langkah senang Galih menuju ke sebuah ruangan yang sejak tadi ingin ia kunjungi. Sebelum masuk kedalam ruangan itu ia menoleh kebelakang, berjaga-jaga jika ada yang mengikutinya.


Merasa aman segera Galih membuka pintu tanpa mengetuknya, membuat yang berada di dalam cukup terkejut dengan kedatangannya.


"Daddy...." ucapnya sambil berlari.


TBC