
Nayla duduk di Halte dengan Devan yang menemaninya. Mereka berdua basah kuyup karena hujan yang sangat lebat.
Nayla masih membayangkan apa yang terjadi tadi. Sekilas dia merasa kalau Devan sangat mirip dengan Kevin .
"Aku ,,,minta maaf sudah merepotkan mu." Nayla tertunduk.
Sebenarnya, entah kenapa dia merasa berdebar dan malu setelah membayangkan kembali saat dia memeluk Devan dan menangis.
" Tidak apa - apa. Kebetulan saja tadi aku lewat sini dan melihat mu kehujanan ." Kata Devan.
" Apa kau baik - baik saja? Kandungan mu baik?" Tanya Devan.
" Darimana kau tau aku sedang hamil?'" Nayla terkejut karena Devan tau tentang kehamilannya. Padahal mereka baru sekali bertemu.
" Ibu mu banyak bercerita tentang mu." Devan tersenyum.
" Sudahlah. Jangan dengarkan kata - kata Ibu ku. Dan tidak usah pedulikan aku. " Nayla tak suka jika banyak orang yang tau tentang nya.
" Baiklah, sekarang kau mau ku antar pulang kemana? " Devan berdiri.
Nayla langsung menoleh ke arah Devan karena pertanyaan nya.
" Ma,, maksudmu? " Nayla gugup.
" Bukan kah kau sedang ada masalah dengan suami mu dan sekarang tinggal dengan teman mu? "
Pertanyaan yang sangat tepat dan membuat Nayla gelagapan menjawab.
" A,, apa maksudmu? Aku tidak ada masalah apapun. " Nayla terlihat tidak tenang.
" Ya sudah jika memang kau tak ingin mengatakan apapun. " Kata Devan.
" Aku akan mengajak mu ke rumahku. "
Nayla sangat terkejut dan langsung berdiri.
" Apa??? Apa kau sudah gila? " Nayla terlihat marah.
" Ahahahaha.... " Devan tertawa.
" Maaf, maaf. Aku hanya bercanda saja. " Katanya.
Nayla mengernyitkan alis sambil cemberut.
Apa dia sudah gila. Kenapa menertawaiku?! Batin Nayla.
" Ayo. " Devan mengajak Nayla.
" Tidak, Aku akan menunggu temanku menjemputku. " Nayla kembali duduk dan memasang muka masam.
" Baiklah. Tapi...Apa tidak takut disini sendirian? "
" Kenapa harus takut? " Tanya Nayla jutek.
" Karena disini rawan penjahat! Kau tidak tau? " kata Devan dengan wajah serius.
Nayla mulai celingukan. Sepertinya dia terpengaruh perkataan Devan.
" Kau serius? " Nayla sedikit tidak percaya.
Devan mengangguk yakin.
Melihat Nayla yang celingukan dan sedikit ketakutan terlihat lucu dan membuat Devan menahan tawanya.
" A,, aku akan tunggu temanku. Kau pergi saja. "
" ya sudah. Terserah kau saja. Aku pergi. " Katanya sambil berbalik dan berjalan perlahan.
Nayla merasa takut karena memang suasana di tempat itu sangat sepi dan tak ada satupun orang yang lewat.
" Tunggu! "
Devan tersenyum menang.
Dia memanggilku juga.
" Ya? " Devan balik badan.
" Antar aku kerumah temanku. " Nayla berdiri di belakang Devan.
Devan tersenyum dan mengangguk.
****
" Kok bisa di antar Devan, Nay? " Tanya Lisa saat mereka ada di ruang makan.
Nayla sudah berganti pakaian dan makan bersama Lisa.
" Tadi aku tidak sengaja bertemu di jalan. Lalu dia antar aku kesini. "
" Apa dia tanya, kenapa kau pulang ke rumahku? " Lisa penasaran.
" Entahlah, sepertinya dia sudah tau semuanya. " Nayla menggigit sendok nya.
" Hah??? Kok dia bisa tau? " Lisa terkejut.
" Aku juga tidak mengerti. Karena Ibu belum tau masalahku, jadi pasti itu bukan info dari Ibu. " Nayla juga berpikir.
" Apa dia memata - matai mu, Nay? "
" Tidak mungkin. Bukan kah dia baru pulang dari jepang. "
" mmm benar juga. Tapi... "
" Sudahlah. Untuk apa di pikirkan hal yang tak penting. " Nayla menyerah menerka - Nerka.
" Lalu,,, kau dari mana tadi? " Tanya Lisa.
Nayla terdiam.
" Aku bertemu Kevin. " Katanya.
" Apa?? buat apa? " Lisa seperti tak menyukai nya.
" Dia,,, menyuruhku untuk tes DNA. " wajah Nayla terlihat sedih.
" Tes DNA? " Lisa terkejut sampai berdiri.
" Dia benar - benar sudah tidak waras!!" Lisa terlihat sangat kesal.
" Aku harus pergi menemuinya." Katanya.
" Nay. "
" Aku malah sedikit tenang. Jika memang dia menginginkan tes, maka lakukan saja. "
" Tapi,,, aku tak akan pernah bisa memaafkan dia. " Nayla meneteskan airmata.
" Nay, jangan menangis. Aku disini dan akan selalu ada disini untukmu. " Lisa memeluk Nayla.
Nayla membalas pelukan Lisa dan menutup matanya, marasakan ketulusan Lisa. Dan membuat airmata nya terus jatuh.
****
Hari yang di tunggu pun tiba. Pagi sekali Nayla sudah bersiap untuk pergi kerumah sakit.
Lisa mengantar dan menemaninya juga ke rumah sakit.
Setibanya di depan rumah sakit, Nayla tampak sangat tegang. Lisa menggenggam tangannya dan meyakinkannya bahwa semua akan baik - baik saja.
Mereka pun masuk ke dalam dan tak sengaja bertemu dengan Devan!
" Hai, Nay. " Sapanya.
Nayla dan Lisa terkejut melihat Devan ada di rumah sakit ini.
" Kau.. "
" Ya, aku bekerja disini. " Katanya sambil tersenyum.
" Kau ada keperluan apa ke rumah sakit ini? " tanya Devan.
" Ah.. itu.. "
" Memang nya apa urusan nya dengan mu. " Lisa menyelamatkan Nayla yang tampak gugup menjawab pertanyaan Devan.
" Mau ada apa, itu bukan urusanmu. Ya kan?"
" Oh.. baiklah. Aku hanya bertanya. " kata Devan.
" Dokter, ada pasien gawat darurat! " Kata seorang suster yang menghampiri kami.
" " Ah iya, aku kesana. " Katanya pada suster.
" Baiklah. Aku harus pergi. " Katanya pada Nayla.
Nayla mengangguk lega dan langsung pergi.
Devan yang sedang berjalan ke ruang gawat darurat melihat kedatangan Kevin.
Dia datang berdua dengan Jeanny. Mereka langsung menuju ruangan Lab, dimana tes DNA akan di lakukan.
Raut wajah Devan seketika berubah saat melihat Kevin.
****
" Sepertinya si brengsek itu belum datang. " Kata Lisa.
Mereka sedang berada di ruangan dokter yang akan melakukan tes.
Tok.. Tok.. Tok..
Ceklek..
Kevin masuk ke dalam ruangan dan Jeanny mengikutinya dari belakang.
Lisa langsung berdiri saat melihat Kevin datang dengan membawa Jeanny.
Dia sudah ingin berkata sesuatu, tapi Nayla memegang lengan Lisa dan menggelengkan kepalanya tanda bahwa Lisa tak usah mengatakan apapun.
Lisa mencoba menahan amarahnya dan kembali duduk di samping Nayla.
Kevin melihat ke arah Nayla dan Lisa. Dan dengan tak tau malu nya, Jeanny tersenyum ke arah mereka.
Tangan Lisa mengepal melihat Jeannya yang begitu rapat duduk di samping Kevin dan sepertinya Kevin pun membiarkannya.
Nayla hanya bisa menahan semua perasaan nya saat itu. Kesal, marah, sedih dan airmata yang ingin keluar pun sekuat tenaga dia tahan dan mencoba tenang.
" Baik pak Kevin. Jadi Bapak akan melakukan tes pada Ibu Nayla? " Tanya dokter.
" Ya Benar dokter. " Jawab Kevin.
" Apa Anda tau proses untuk tes DNA saat masih dalam kandungan? "
" Ya, saya sudah mempelajari nya, dok."
" Bagaimana dengan anda Ibu Nayla? "
" Saya tau, dokter. "
" Anda setuju? "
Nayla mengangguk.
" Jadi kalian berdua sudah setuju? "
Mereka berdua mengangguk.
" Baik, jika memang sudah seperti itu. Mari Ibu Nayla ikut dengan saya ke ruangan Lab. "
Nayla bangun dan pergi dengan dokter.
" Baik pak Kevin anda silahkan ikut saya untuk mengambil sample darah anda. " kata suster.
Kevin pun bangun dan pergi dengan suster.
" Aku ikut. " Jeanny ikut bangun dengan Kevin.
" Kau tunggu disini. Aku tidak lama. " Kata kevin.
" Ah tidak, aku ikut saja. " Katanya sambil memegang lengan Kevin.
Lisa sangat marah melihat tingkah Jeanny.
" Nona maaf, anda bisa tunggu disini saja. " Kata suster.
" Tidak mau. "
" Memang anda siapa pak Kevin? " tanya suster lagi.
" Aku? tentu saja calon istrinya. " kata Jeanny sambil tersenyum ke arah Lisa.