My Lovely Husband

My Lovely Husband
Hari Pernikahan



Aryo saat ini sedang giat-giatnya melakukan terapi pada kedua kakinya, ia ingin bisa berjalan kembali. Ia tidak ingin menjadi pendamping yang cacat untuk Yesi.


"Hati-hati Tuan anda tak perlu melakukannya dengan terburu-buru" ucap Adit asisten Aryo yang dipilihkan oleh Ayahnya.


Dengan hati-hati Adit mengikuti langkah Aryo dari belakang. Besi pegangan yang berada di kanan kiri Aryo adalah saksi bagaimana perjuangannya agar bisa berjalan normal kembali.


"Besok dihari pernikahan anda, anda sudah bisa berjalan dengan bantuan tongkat Tuan. Dan ini sudah merupakan perubahan yang luar biasa."


"Tapi aku ingin berjalan tanpa bantuan tongkat" Aryo masih saja menginginkan penampilan yang terbaik dihari pernikahannya.


"Sebentar lagi pasti anda tidak membutuhkan tongkat untuk berjalan tuan, tapi otot kaki anda yang lama tidak melakukan pergerakan dan juga menahan beban belum siap untuk itu. Bersabarlah, Tuan" ucap Adit.


"Kita lakukan lagi" Aryo tak henti-hentinya melakukan terapi sedangkan hari sudah hampir menjelang malam.


"Tuan ini sudah malam, tidak baik untuk kesehatan anda. Bukankah, besok adalah hari pernikahan anda" ucap Adit mengingatkan. Ia senang jika Aryo giat terapi tapi terapi yang berlebihan tentu juga akan berdampak buruk bagi kesehatannya.


"Satu jam lagi, baru kita sudahi latihannya" ucap Aryo Masih semangat melangkahkan kakinya, sesekali ia memegang besi yang berada di sebelahnya, berhenti sejenak dan kembali mengambil nafas."


"Sudah Tuan, keringat sudah membanjiri tubuh anda. Bagaimana jika dihari pernikahan nanti anda malah tiba-tiba sakit" Adit mengingatkan kembali. Akhirnya Aryo mengalah ia memilih beristirahat dan duduk di sofa panjang.


"Adit!!" panggil Aryo.


"Ya Tuan."


"Kira-kira dengan kondisiku yang cacat seperti ini, apa aku pantas bersanding dengan Yesi?" tanya Aryo sedikit ragu.


"Pantas Tuan, buktinya Nona Yesi tidak keberatan menikah dengan anda. Lagipula anda bukan orang cacat Tuan, cepat atau lambat anda pasti bisa berjalan normal. walaupun saya baru hitungan hari mengenal Non Yesi tapi saya tahu Non Yesi orangnya baik dan sangat cocok dengan anda. Saya harap anda bahagia bersama Non Yesi Tuan."


"Terimakasih Adit."


***************


Hari pernikahan Yesi tiba, hanya tinggal menunggu waktu saja. Pelaksanaan akad nikah dilaksanakan setelah sholat Jum'at sesuai dengan permintaan Yesi.


Aldo yang tak bisa memejamkan matanya semalam, terlihat lingkaran kantung hitam dibawah mata.


Ia mencukur habis jenggot dan juga bulu-bulu Halus yang tumbuh di sekitar wajahnya. Lama tinggal di Villa ia tidak pernah memperhatikan penampilannya. Hari ini adalah hari terakhir ia berada di kota ini dan ia ingin tampil sempurna.


"Apa semalam anda tidak tidur Tuan, lihat wajah anda sungguh mengenaskan" Beni menyodorkan cermin di hadapan Aldo. Ia menyunggingkan senyumannya melihat tampilan wajahnya sendiri.


Aldo mengambil es batu dan membungkusnya dengan kain untuk mengompres lingkaran hitam disekitaran mata.


"Anda yakin Tuan, ingin menghadiri pernikahan ini?" tanya Beni penasaran.


"Ya , walaupun hati ini terasa sakit tetap saja aku tidak ingin kehilangan momen penting dalam hidupnya. Jika aku tidak bisa menjadi bagian dari hidupnya biarkan aku jadi saksi perjalanan hidupnya. Setidaknya aku tidak akan menyesal nanti" ucap Aldo sok melankolis.


"Ingat pesanku baik-baik! kelola perusahaanku dengan baik, itu adalah perusahaan yang aku dirikan dari hasil keringatku sendiri. Jangan sampai kau buat bangkrut. Sedangkan untuk perusahaan keluarga, biarkan Aryo yang meneruskannya" ucap Aldo lagi.


"Memangnya anda ingin kemana Tuan? Mengapa menyerahkan tanggung jawab Anda pada saya dan Tuan Aryo?" tanya Beni heran.


"Setelah proses akad nikah ini selesai aku ingin pergi menjauh untuk sementara. Tolong kau awasi Galih dan juga Yesi jangan biarkan mereka kesusahan sedikitpun. Dilaci meja kerjaku ada sertifikat Villa dan sebidang tanah yang sudah aku atas namakan untuk Yessi dan juga deposito Bank untuk masa depan Galih. Kau berikan pada mereka jika aku sudah meninggalkan tempat ini" ucap Aldo terlihat lesu.


"Kalau anda khawatir dengan mereka berdua, kenapa anda tidak tinggal saja Tuan. Anda bisa melindungi mereka diam-diam."


"Kalau aku terus disini, yang ada bukannya melindungi mereka, tapi menghancurkan pernikahannya. Kau pikir aku bisa melihat Yesi bersanding dengan pria lain. Hari ini adalah batas toleransiku yang paling besar, membiarkan orang yang aku cintai memilih teman hidupnya. Aku tidak ingin mengacaukannya dengan keegoisanku. Biarkan aku pergi, ini adalah yang terbaik untuk semua."


"Kau memberikan semua milikmu untuk kami, terus kau pergi bawa apa bos. Biarkan aku ikut denganmu bos, biar aku bisa ikut menjagamu" pinta Beni terlihat sedih.


"Tidak, aku ingin kau tetap disini meneruskan perusahaanku dan juga menjaga orang yang aku sayangi. Jangan khawatir, Aku pasti akan kembali suatu saat nanti. Entah kapan aku juga tidak bisa memastikannya. Sudahlah jangan sedih semua akan baik-baik saja, ayo kita berangkat"


**********


Aryo dan keluarga besarnya sudah berada di ruangan tempat acara akan dilangsungkan ia berbaur dengan keluarganya.


"Kak Aryo...!!" tiba-tiba ada seorang wanita menghampiri Aryo dan memeluknya begitu saja.


"Siapa kau?" tanya Aryo.


"Dia Sasa sepupumu, waktu kau koma dia sering mengunjungimu" ucap Ayah Aryo menjelaskan.


"Iya, aku selalu mengunjungimu dan berbicara padamu Kak, sekalipun kau mengabaikanku" ucap Sasa dengan cemberut.


"Aryo tidak mengabaikanmu Sa, tapi dia dalam kondisi koma" ucap Tuan besar, ayah Aryo.


"Hehe.." Sasa tertawa dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sementara Aryo tidak begitu menanggapi.


"Mana Kak Alya dan Kak Aldo" tanya Sasa lagi sambil menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


"Alya? Siapa lagi itu?" tanya Aryo penasaran. Banyak nama baru yang ia kenal hari ini.


"Alya itu panggilan Kak Mayang sedari kecil. Kak Mayang dari dulu sangat menyukai Kakak Aldo, jadi ia mengganti panggilannya menjadi Alya. Al dari kata Kak Aldo dan Ya dari nama Kak Mayang" jelas Sasa. Sasa adalah gadis centil dan periang.


"Dimana pengantinmu Kak? Apakah dia cantik? Kau bahkan menikah tanpa memperkenalkannya padaku. Kau tahu Kak, aku patah hati karenamu" Sasa terus saja berbicara. Ada saja topik yang ia bahas.


"Tentu saja cantik, kalau tidak mana mungkin anakku tertarik dengannya" Tuan besar selalu menanggapi ucapan Sasa, sepertinya ia perduli pada gadis itu.


"Hai Bawel, kapan kau datang" sapa Aldo tiba-tiba sudah ada ditengah-tengah mereka.


"Kak Aldo!!" Sasa berteriak senang dan beralih ingin memeluk Aldo.


"Jangan peluk-peluk, keringatmu bau" Aldo menghalangi Sasa yang ingin meluknya dengan jari tangannya ia menahan kepala Sasa.


"Yeeee, Sasa wangi ya kak. Sasa sudah mandi kembang 7 warna 7 rupa sebelum kemari" ucap Sasa kesal.


"Daddy!!!" tiba-tiba Galih menabrak tubuh Aldo dan memeluknya. Ia sedari tadi mencari-cari keberadaan Aldo.


"Galih sama siapa kemari?" tanya Aldo sembari membawa Galih kedalam gendongannya. Aryo menatapnya diam, ada rasa cemburu melihat keakraban Galih dan juga Aldo.


"Galih sama Papa doktel" ucap Galih dengan suara khas anak kecil.


"Idih tampannya! anak siapa ini" Sasa mencubit gemas pipi Galih.


"Jangan pegang-pegang, Galih anak Daddy Aldo" memeluk leher Aldo dan menyandarkan kepalanya di bahu Aldo. Aryo semakin miris melihatnya, tapi ia tetap diam tidak ingin merusak suasana.


"Kakak kapan nikahnya? kok udah punya anak sebesar ini!" tanya Sasa penasaran.


"Kita bahas ini nanti saja ya Sa" ucap Tuan Besar. Ia memperhatikan interaksi Aldo dan Galih, ada rasa bersalah menyeruak dihatinya.


"Daddy kenapa yang menikah sama mommy, Papa Aryo kenapa bukan Daddy?" tanya Galih penasaran. Pertanyaan Galih ini juga membuat Sasa bingung, tapi ia akan mencari jawabannya nanti.


"Ya karena Papa Aryo yang terbaik buat Mommy?" jawab Aldo bingung harus menjawab apa.


"Tapi Galih maunya Daddy yang nikah sama Mommy" ucap Galih manja sembari mengeratkan pelukannya.


"Papa Aryo juga baik kok, Galih dan Mommy akan bahagia bersama Papa Aryo" Aldo memberi pengertian ke Galih. Galih melirik Aryo yang sedari tadi diam saja dan Ia kembali menyembunyikan wajahnya di punggung aldo ketika pandangan mereka bertemu, lalu Aryo tersenyum tulus padanya


Galih pagi tadi mengamuk ketika mengetahui pernikahan Ibunya dan Aryo. Yesi terpaksa meminta bantuan Dokter Rizky untuk menenangkan Galih. Walupun awalnya penjelasan itu di penuhi dengan tangisan Galih tapi akhirnya Galih mau mengerti karena semua demi kebahagiaan Mommy nya.


"Jangan pernah tinggalin Galih dan Mommy ya Daddy" ucap Galih pelan. Mata Aldo memerah mendengar permintaan Galih. Ia diam saja tak bisa menjawab permintaan Galih.


TBC