
Bab 9
Tiga hari berlalu
Malam itu Zoya, mama dan papa sedang berbincang di ruang tamu setelah sebelumnya menghabiskan makan malam mereka.
Sesuai janji papa, papa sering mengunjungi mama, sekarang papa lebih pintar mengatur waktu untuk kedua istrinya.
Walaupun, Melly istri keduanya selalu merengek minta ditemani, papa akan menolak dengan tegas jika memang waktunya papa berkunjung ke rumah istri pertamanya.
Senin, Selasa, Rabu dan Kamis papa akan berada di rumah mama, sedangkan Jumat, Sabtu dan Minggu, papa menghabiskan waktunya di rumah istri keduannya.
Hubungan papa dan mama pun telah membaik walaupun mama masih belum menerima keberadaan istri muda papa. Padahal papa selalu berusaha membuat mereka akur. Papa ingin kedua istrinya bisa hidup berdampingan (Ah, papa mana ada yang begitu, sangat langka, palingan ada juga saling jambak - jambakan )
"Zoy, sebentar lagi akan ada teman Papa yang akan bertamu ke rumah kita," ucap papa.
"Siapa Pa?" tanya Zoya dan mama penasaran.
"Tunggu aja, nanti kamu tahu sendiri," ucap papa.
Benar saja, tidak berapa lama terdengar bel berbunyi.
Mama segera keluar untuk melihat siapa yang datang.
"Hai Medina," seru seorang wanita paruh baya.
"Eh, Hai Wita," balas mama sedikit kikuk.
"Boleh kami masuk?" tanya wanita bernama Wita itu.
"Oh, iya silahkan," ucap mama.
Mama membawa ketiga tamu itu ke ruang tamu.
"Zoy, ini tamu yang Papa maksud," ucap papa kepada Zoya seraya menyambut ketiga orang itu.
"Apa kabar Ron?" tanya papa menanyakan kabar tamunya itu sambil berjabat tangan dengan tamunya itu.
"Baik!" jawab tamu yang bernama Roni itu.
Kemudian papa mempersilahkan tamunya untuk duduk. Begitu juga dengan mama ikut duduk di samping papa.
"Zoy, maksud kedatangan orang tua Dion adalah ingin melamar kamu untuk Dion," ucap papa kepada Zoya.
Sontak Zoya terkejut mendengar perkataan papa.
"Melamar?" tanya Zoya tidak percaya.
"Iya, kami ingin melamar kamu Nak Zoya, apakah kamu menerimanya?" tanya Roni papanya Dion.
Zoya menatap mama dan papa, Zoya merasa bingung harus bagaimana?
Seakan mengerti kebingungan Zoya, mama pun berkata, " Semua keputusan ada di tangan kamu Zoy, kami tidak akan memaksa kamu, " ucap mama.
"Sebelumnya saya minta maaf kepada Om Roni dan Tante Wita, bukan maksud saya tidak sopan kepada kalian, tapi saya tidak bisa menerima lamaran ini, karena saya tidak memiliki perasaan apa - apa terhadap Dion. Terlebih saya sudah memiliki kekasih," ucap Zoya dengan sopan dan sangat hati - hati agar tidak menyinggung mereka.
" Zoy,...! Hanya itu yang keluar dari mulut Dion. dia tidak tahu lagi harus bagaimana agar Zoya bisa tertarik kepadanya.
"Maaf Dion, aku gak bisa menerima kamu, karena soal hati tidak bisa dipaksakan, lebih baik kamu mencari wanita lain yang akan mencintai kamu.
"Zoy, tidakkah, kamu memikirkannya terlebih dahulu? Sebelum memutuskan menolak lamaran Dion? Papa kira Dion laki - laki yang baik juga mapan," ucap papa.
"Maafkan Zoya Pa, Zoya tidak bisa! Zoya sudah mencintai orang lain," keukeuh Zoya.
"Baiklah, kami tidak akan memaksa Nak Zoya, karena sesuatu yang dipaksakan itu sangat tidak baik," ucap Roni dengan bijak.
"Baiklah kalau begitu, kami permisi," ucap Wita.
"Lho, kenapa terburu - buru diminum dulu minumannya," ucap mama berbasa - basi.
"Terima kasih din," ucap Wita kepada Medina.
Setelah menghabiskan minuman dan sedikit mencicipi kue buatan Zoya kemudian mereka bertiga meninggalkan Kediamannya Rendra.
*****
"Jangan kecewa Ion, masih banyak wanita yang lebih cantik dan baik dari Zoya, kamu tampan dan kaya raya, pasti banyak wanita yang mengejar - ngejar kamu. Hanya kamunya saja yang terlalu terobsesi kepada Zoya," ucap Wita dengan lembut seraya mengelus punggung putranya itu.
Dion menghela nafas dengan kasar, "Iya Ma," ucapnya singkat seraya menyalakan mesin mobil dan meninggalkan rumah Rendra.