My Husband's Secret

My Husband's Secret
Bab 47



Bab 47


Semenjak membuka cabang bengkel di Kota Batu Zein sangat sibuk. Setiap hari pulang larut malam. 


Tapi Zoya tidak mempermasalahkannya karena perhatian Zein kepada keluarga tidak berubah sedikitpun, hanya saja waktu kebersamaan semakin berkurang. 


Zoya memakluminya, karena dia berpikir Zein sibuk seperti itu, semuanya hanya untuk dirinya dan putri tersayangnya. 


Namun kedamain dan ketentraman itu terusik, dikala dia tidak sengaja membaca sebuah pesan di ponsel sang suami. 


Pesan itu berbunyi ( "Mas, Azka sakit") 


Nomor itu tidak tersimpan di kontak sehingga ia tidak mengetahui siapa pengirim pesan tersebut. 


Semenjak itu kepercayaan kepada suaminya sedikit berkurang.


Zoya masih memikirkannya, siapa Azka? Siapa pengirim pesan itu? Namun dia tidak berani menanyakannya. 


Semakin keras dia berpikir dan menghubung - hubungkan setiap kejadian di mana suaminya itu sering pulang larut malam dan kadang tidak pulang dengan alasan cabang di Batu masih baru, jadi membutuhkan keberadaan dirinya. 


Setiap malam tidurnya menjadi tidak nyenyak, hanya karena sebuah pesan yang berbunyi, "Mas, Azka sakit " si"al! Baru kali ini dia merasa tidak nyaman. 


Kecurigaan terhadap sang suami semakin bertambah saat suaminya itu meminta  izin ke Batu di hari sabtu, yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan. 


"Sayang, besok sabtu aku mau ke Batu, akan tetapi hari minggu aku sudah pulang." ucap Zein. 


"Tumben? Biasanya hari sabtu tidak kemana - mana," Zoya heran. 


"Hmm.. Mau ngecek barang-barang di bengkel, banyak spare part yang habis," sahut Zein agak ragu. 


"Apakah aku dan Yaya boleh ikut? Sekalian berkunjung ke rumah ibu?" pinta Zoya sekalian menguji suaminya itu. 


"Jangan sekarang lain kali saja, aku sendiri belum tentu sempat mampir ke rumah ibu, karena jarak rumah ibu dan bengkel cukup lumayan jauh," sergah Zein. Namun, di telinga Zoya terdengar seperti alasan yang di buat - buat. 


****


Satu kali Zoya masih berdiam diri saat suaminya sering meninggalkannya di hari libur. Tapi ini sudah kali ketiga suaminya itu pergi ke Batu tanpa dirinya di hari libur. 


Sangat mencurigakan, dia harus menyelidikinya karena tidak seperti biasanya suaminya itu seperti itu. 


Perang batin dalam dirinya, haruskah dia menyelidikinya? Atau percaya saja dengan alasan - alasan yang diberikan suaminya itu? 


Akan tetapi tidak ada yang berubah dalam diri suaminya itu semua berjalan normal, suaminya itu baik, malah semakin baik, suaminya itu perhatian malah semakin perhatian. Semua begitu sempurna, tidak mungkin suaminya itu melakukan hal - hal yang aneh, misalkan selingkuh! Sangat tidak mungkin. 


Malah akhir - akhir ini suaminya bertambah sayang dan romantis kepada dirinya, oh tidak! apakah itu untuk menutupi perselingkuhannya? 


"Ya, ampun dari pada aku menduga-duga yang tidak - tidak lebih baik aku membuktikan sendiri, aku akan menyelidikinya sendiri, aku akan mengikuti dia besok ke batu," gumamnya dalam hati. 


"Sayang kamu kok bengong? Apakah ada yang sedang kamu pikiran?" tanya Zein sembari menyelusupkan tangan ke balik dres tidur Zoya. 


"Ah, tidak!" sahut Zoya tergagap. 


"Apakah kamu tidak mengijinkan aku pergi besok?" tanya Zein. Sedangkan tangannya semakin usil menyentuh sesuatu di balik dress Zoya. 


"Ah, tidak!" sergah Zoya, ia tidak mungkin mengatakan "jangan" untuk saat ini. Bisa - bisa misi penyelidikan gaga total. 


"Yakin?" Zein semakin merapatkan diri dan membenamkan wajah di ceruk leher Zoya. 


"Iya Mas, yakin! Ishh geli," sahutnya seraya mendesis nikmat dengan buaian Zein. 


Entah siapa yang memulai duluan, kini mereka berdua sedang mengarungi jurang kenikmatan, naik turun, lalu bersama - sama naik ke puncak yang paling tinggi. Mengeluarkan suara - suara aneh. Namun, terdengar indah di telinga mereka. 


Meledakkannya bersama - sama, sehingga peluh membanjiri tubuh keduanya. 


Laki - laki itu memang pintar membuat istrinya melayang, sehingga untuk sesaat ia lupa akan kecurigaan yang sedang tertanam di hatinya.