
Bab 36
Zoya memuntahkan seluruh isi perutnya. Zein khawatir dengan keadaan istrinya lalu dia menyusul ke kamar mandi.
"Sayang kamu baik-baik saja?" tanya Zein sambil memijat tengkuk Zoya dengan lembut.
"Mas, kamu bau, kamu jangan deket - deket aku dulu, lebih baik kamu mandi aja sana!" rengek Zoya lalu dia meninggalkan suaminya di kamar mandi.
"Bau? Biasanya juga gak protes," gumam Zein.
Zein pun bergegas untuk mandi dia tidak ingin dikatakan bau oleh istrinya.
Selesai mandi, Zein mendekati Zoya yang sedang menyiapkan makan malam.
Belum juga sampai istrinya sudah bilang _
"STOP! Jangan mendekat, kamu duduk di situ saja!" Zoya memerintah Zein untuk tidak mendekatinya.
Zein bingung dengan tingkah istrinya itu, dia sungguh kecewa padahal dia ingin sekali memeluk istrinya itu.
"Sayang kamu kok gitu sih sama aku? Aku kangen sama kamu," rengek Zein lalu dia tetap memaksa mendekat dan memeluk Zoya.
Maas,... Uhek.. Uwek.. Uwek! Entah mengapa jika Zein mendekat dia ingin muntah. Zoya tidak bisa menahannya lagi, dia muntah di tempat untung saja sempat mendorong Zein, kalau tidak, tentunya Zeinlah yang terkena muntahannya.
Zein merasa bersalah, ternyata istrinya tidak main - main saat mengatakan jangan mendekat, dia hanya bingung kenapa istrinya itu tidak mau didekati.
"Sayang kamu duduk saja, biar aku yang membersihkan lantainya," ucap Zein lalu tanpa jijik dia membersihkan muntahannya Zoya.
Zoya tercengang dengan tingkah suaminya itu, Zein benar - benar suami idaman.
Setelah selesai membersihkannya, lalu Zein memerintah Zoya untuk tetap duduk. Dia melanjutkan pekerjaan Zoya memasak.
Setelah selesai memasak, Zein mengajak Zoya untuk makan malam. Mereka duduk agak berjauhan, Zein takut kalau dekat - dekat nanti istrinya muntah lagi.
"Kamu itu kenapa sih sayang?" tanya Zein di sela - sela makanya.
Aku tidak tahu, jika kamu mendekat aku merasa kamu bau, sehingga membuat diriku mual dan muntah, maaf aku tidak berbohong, aku tidak bermaksud menghindari kamu," Zoya merasa bersalah.
"Selesai makan kita ke dokter saja, untuk memeriksakan keadaan dedek bayi kita, " ucap Zein.
Zoya mengangguk.
Selesai makan, Zoya dan Zein pergi ke dokter kandungan di rumah sakit terdekat. Beruntung pasien malam itu hanya sedikit jadi hanya mengantre sebentar.
"Alhamdulillah, semuanya dalam kondisi sehat, ibu dan janinnya sangat baik, janin berusia tiga minggu jadi masih sangat rentan, walaupun keadaan kandungan sangat kuat, tetap saja harus berhati - hati dalam segala hal," ucap wanita yang berprofesi sebagai dokter kandungan itu.
Setelah selesai pemeriksaan dan menebus obat yang diresepkan dokter, pasangan suami istri tersebut meninggalkan rumah sakit.
"Iya sayang," Zein Mengiyakan keinginan istrinya, Zein sedikit memahami jika istrinya itu sedang mengidam mie ayam.
Zein pun memarkirkan mobilnya di kedai mie ayam. Lalu Zein menggandeng tangan Zoya memasuki area kedai mie ayam.
Setelah duduk, Zein pun memesan mie ayam untuk mereka berdua.
Tidak sampai satu jam mie ayam pun sudah terhidang di meja.
Mata Zoya berbinar - binar setiap kali melihat olahan mie.
Tanpa ragu dia menambahkan sambal dan kecap cukup banyak sehingga mie ayam berubah warna menjadi agak hitam.
"Sayang jangan banyak- banyak makan sambal, dan mengapa banyak banget ngasih kecapnya? Nanti rasanya jadi aneh lho," protes Zein.
Zoya tidak memperdulikan ocehan suaminya itu, dia terus mengaduk - aduk mie ayamnya dan melahapnya.
"Hmmm… enak banget," serunya.
"kamu harus cobain juga," ucap Zoya sambil menyodorkan sumpit dengan maksud menyuapi Zein.
Zein terdiam, dia enggan memakannya, karena dilihat dari tampilannya pasti rasanya sangat aneh.
"Tidak usah sayang, aku makan punyaku sendiri," tolak Zein.
"Tapi aku ingin kamu mencicipinya," rengek Zoya dengan wajah melasnya.
"Iya.. Iya . baiklah!" ucap Zein, lalu dia memakan mie ayam tersebut.
"Enak kan?" tanya Zoya.
"Rasanya aneh!" sahut Zein.
"Ini enak!" Sanggah Zoya dengan wajah masam karena tidak suka mie ayamnya dikatakan tidak enak.
Zein tidak tahan melihat wajah istrinya yang cemberut.
"Iya.. Iya.. Iya enak!" Zein mengalah.
Zoya senang mie ayamnya dikatakan enak oleh suaminya. Wajahnya kembali ceria.
"Ya udah, kamu aja yang habisin mie ayamnya, aku sudah kenyang, ucap Zoya dengan entengnya.
Hah!? Zein terperangah, matanya membulat tidak percaya.