My Husband's Secret

My Husband's Secret
Bab 35



Bab 35


Zoya mencoba alat tes kehamilan yang dibelikan suaminya barusan di apotek.


Dia tidak ingin terlalu berharap banyak kali ini, dia takut kecewa seperti bulan yang lalu.


Zoya memejamkan mata sambil memegang alat tes itu, mulutnya tidak berhenti komat-kamit berdoa.


Perlahan dia membuka mata untuk melihat hasilnya. Matanya berbinar setelah melihat 2 garis merah di alat itu, dia tersenyum. "Alhamdulillah," gumamnya dalam hati lalu dia keluar dari kamar mandi.


"Bagaimana hasilnya sayang?" tanya Zein dengan raut penuh harap. Dari tadi Zein menunggu Zoya di depan pintu kamar mandi.


"Lihat aja sendiri!" ucap Zoya seraya menyerahkan alat itu, dengan raut wajah dibuat sesedih mungkin.


Zein meraih test pack yang disodorkan Zoya.


"Alhamdulilah!" serunya. Zein senang melihat ada dua garis merah di alat itu. Zein mengerti cara bekerja alat itu karena sebelumnya dia sudah membaca cara kerja alat itu.


"Kamu hamil sayang!" pekiknya senang bukan main. Zein memeluk tubuh istrinya itu dia menghujami istrinya dengan kecupan di seluruh wajahnya.


"Terimakasih sayang, akhirnya aku akan menjadi seorang papa," ucapnya sambil mengangkat tubuh Zoya dan memutarnya.


"Sudah mas, turunkan aku!" pekik Zoya.


Zein pun menurunkan Zoya. "Nanti malam kita ke dokter," ucapnya.


"Sekarang kamu mau makan apa? Apa kamu mau aku lanjutkan memasak nasi gorengnya?" tanya Zein dengan penuh semangat.


"Jangan!! Aku merasa mual jika mencium bau bawang yang ditumis, aku mau makan mie instan saja," ucap Zoya sambil membayangkan mie instan, air liurnya hampir menetes.


"Kok mie instan? Di perut kamu ada dedek bayinya, kamu harus makan yang sehat - sehat mulai dari sekarang!" ucap Zein dengan tegas.


"Please! Untuk kali ini saja aku benar - benar menginginkannya , sepertinya aku mengidam mie instan rebus dengan sawi dan tomat sebagai pelengkap juga tambahkan telur," Zoya menghiba sambil memeluk suaminya dengan manja.


Kalau sudah begitu Zein tidak bisa menolak.


"Kamu duduk di sini ya! " ucap Zein sambil mendudukan istrinya di kursi makan yang ada di dapur.


Beberapa menit kemudian 2 mangkok mie rebus sudah terhidang di meja makan.


Segera Zoya melahapnya.


"Enak Mas," ucapnya dengan mata berbinar sedangkan mulutnya penuh dengan mie.


"Pelan - pelan sayang dan hati-hati mienya masih panas," ucap Zein sambil terkekeh, dia merasa lucu melihat cara makan istrinya yang seolah - olah mie instan itu makanan yang sangat mewah. Zein pikir mungkin karena ngidam jadi istrinya bertingkah seperti itu.


Selesai sarapan, Zein berpamitan untuk pergi ke bengkel.


"Sayang aku ke bengkel dulu ya, kalau ada apa - apa nanti kamu tinggal memanggilku, kamu tidak boleh pergi ke toko dulu," ucap Zein sambil mencium kening Zoya.


Zoya mengangguk. "Iya Mas," ucapnya sambil mencium tangan suaminya dengan takzim.


******


Sore hari


"Sayang!" Zein memanggil istrinya dengan tangan membawa satu kresek berisi susu hamil dan biskuit. Sebelum pulang dia membelinya di supermarket terdekat yang ada di komplek tersebut.


Zoya yang sedang bermalas - malasan di Sofa langsung bangkit saat suaminya memanggilnya.


Dia pun menyambut kedatangan suaminya, Zein tersenyum melihat istrinya mendekat. Lalu dia meletakan kantong kresek tersebut di meja.


"Sayang, aku sudah beli susu hamil untuk kamu dan beberapa cemilan," ucap Zein.


Seperti biasa Zoya meraih tangan suaminya untuk di cium. Seperti biasa pula Zein memeluk dan mengecup dahi Zoya.


Uhek! Uwek!


Kamu bau Mas! " pekik Zoya lalu dia mendorong Zein dan berlari ke kamar mandi.