
Bab 50
"Sholat subuh sayang!" bisik Zein sembari mengecup pipi Zoya. Tercium wangi sabun mandi menguar dari tubuh pria itu, menandakan dia telah mandi.
Zoya menggeliat. "Eh, Mas, sudah pulang katanya nginap?" maaf ya tadi malam aku ketiduran."
"Enggak jadi, aku rindu kamu dan Yaya, ayo sholat subuh dulu, nanti ngobrolnya setelah kamu sholat subuh,"
Dengan patuh Zoya pun beranjak untuk sholat subuh.
Selesai sholat subuh, Zoya kembali mendekat kepada Zein yang sedang berbaring sambil memegang ponselnya.
"Kamu nggak mandi?" tanya Zein seraya meletakkan handphonenya di samping bantal.
"Nanti siang aja, lagi malas, hari minggu ini," jawab Zoya.
"Sini!" Zein menepuk kasur agar Zoya ikut berbaring di sampingnya.
"Katanya mau nginap? Kok gak jadi?"
"Iya, gak jadi setelah aku pikir - pikir rasanya aku terlalu sering meninggalkan kalian di akhir pekan," sahut Zein seraya menarik tubuh Zoya ke dalam dekapannya.
Zoya tidak bisa menolak, padahal hatinya enggan berdekatan dengan suaminya itu, tapi tubuhnya menerima dengan baik sentuhan suaminya, bahkan saat suaminya mengajak dirinya untuk menikmati keindahan di pagi hari di atas ranjang, dia tetap meresponnya penuh gelora.
Selama seminggu Zoya menahan diri untuk tidak menampakkan kalau dirinya sedang dirundung kecewa.
Dia tetap melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri seolah - olah tidak terjadi apa -apa. Seakan semua baik - baik saja.
Zein juga tidak mengetahui jika istrinya sedang mengawasi dirinya. Semua berjalan sebagaimana mestinya.
Seminggu kemudian, seperti biasa hari sabtu Zein berpamitan akan ke Batu kepada Zoya.
Zoya tidak tinggal diam, dia mengikuti suaminya itu. Dia memutuskan hari ini harus bisa menangkap basah suaminya itu.
Zoya mengikuti mobil Zein, sampai mobil itu masuk ke sebuah rumah yang minggu lalu dikunjunginya.
Zoya bertekad akan mendatangi rumah itu, dia ingin hari ini semuanya menjadi jelas.
Terlihat Zein turun dari mobil. Seorang wanita sedang menggendong seorang anak laki - laki menyambut Zein dengan senyum mengembang di bibirnya.
Lalu Zoya melihat suaminya mengambil alih anak laki - laki dari gendongan wanita berhijab itu. Dengan mata kepala sendiri dia melihat Zein mengangkat anak laki - laki itu lalu menciuminya bertubi - tubi.
Ah tidak! Mendadak tubuhnya bergetar melihat pemandangan itu. Emosinya sudah tidak bisa dibendung lagi.
Bergegas dia turun dari mobil lalu dia berjalan dengan cepat memasuki rumah itu.
Maas! Bentaknya.
Sontak Zein dan wanita berhijab itu menoleh dan mereka terkejut.
Sayang! Seru Zein mematung.
"Kamu jahat! Kamu bohong! Bilangnya ke bengkel, tapi nyatanya kamu malah disini!" pekik Zoya.
Zein tertegun dia masih syok dengan kehadiran istrinya yang tiba - tiba itu.
"Aaku… bisa jelasin sayang," Zein tergagap.
Lalu Zein menyerahkan anak laki - laki yang sedang digendongnya kepada wanita berhijab itu.
"Ikut Bunda dulu ya," ucapnya seraya mengelus rambut anak laki - laki itu dengan penuh kasih.
Mata Zoya memanas, air mata yang menggenang akhirnya luruh juga.
Pemandangan barusan membuat dadanya sesak dan ingin meledak.
Ia terlanjur marah, ia sedang tidak ingin mendengar penjelasan apapun juga. Saat ini dia ingin pergi menghindar. Cukup sudah pemandangan barusan membuat dirinya menerka - nerka, dia tidak ingin mendengar penjelasan yang lebih menyakitkan lagi.
Sebelum suaminya mendekat pada dirinya dia membalikkan badan dan berlari ke dalam mobilnya lalu dia melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
"Sayang! Tunggu! Jangan pergi! Dengarkan dulu penjelasanku!" Zein berteriak memanggil istrinya.