
Bab 25
Tiga hari tidak bertemu dengan istrinya, Zein benar - benar merindukan sosok wanita itu.
Zein tersenyum sendiri saat mengingat sosok cantik itu. Zein merindukan kelembutannya, kemanjaannya, juga kehangatan yang diberikan Zoya setiap malam. Dia juga merindukan masakan istri tersayangnya itu. Beberapa hari ini Zein tidak bisa makan dengan benar karena sudah terbiasa makan masakannya Zoya.
Kris! Zein memanggil pegawainya itu.
"Ya, Mas Bos," seru kris.
Zein menghampiri Kris yang sedang berada di bawah mobil.
Kris menyembul dari bawah mobil. "Ada apa Mas Bos?" tanya Kris.
"Besok aku akan menyusul Istriku ke Batu, bengkel ini aku serahkan padamu," ucap Zein.
"Berapa lama Mas Bos?" tanya Kris.
"Kurang tahu, mungkin satu minggu," jawab Zein.
"Baik!. Mas Bos, serahkan saja semuanya kepadaku, " ucap Kris.
Meskipun mereka adalah bawahan dan atasan tapi Zein memperlakukan Kris seperti teman.
"Permisi?" Seorang wanita datang ke bengkel tersebut.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Zein dengan ramah.
"Saya mau servis mobil saya," ucap wanita yang berpakaian seksi itu.
Zein menatap wanita cantik dan seksi itu secara intens karena Zein merasa familiar dengan wanita di hadapannya itu. Ia merasa pernah bertemu dengan wanita itu, tapi entah di mana dia lupa.
" Atas nama siapa ya Mba?" tanya Zein.
"Melly Ricardo," jawab wanita itu.
Melly… Melly.. Zein beberapa kali menyebut nama wanita itu dalam hati.
"Oh, iya! Aku ingat, ini kan tante Melly istri mudanya papa Zoya," ucap Zein dalam hati. Akhirnya dia ingat dengan wanita di hadapannya itu. Tapi sepertinya wanita itu tidak ingat Zein.
"Alamatnya?" tanya Zein lagi.
"Jalan Bunga, masih satu komplek dengan bengkel Mas nya," jawab Melly.
"Nanti sore sudah bisa diambil," ucap Zein.
"Baiklah Mbak!" sahut Zein lalu Zein sekalian minta nomor handphonenya Melly.
"Terima kasih," ucap Melly lalu pergi meninggalkan bengkel Zein dengan menggunakan jasa ojek online.
"Byuh, apa reaksi istriku itu jika tahu mama tirinya satu komplek dengan kita. Dan juga apa reaksi papa jika tahu ternyata anaknya satu komplek dengan istri mudanya. Dan juga apa reaksi tante Melly jika tahu kalau aku suami anak tirinya," gumam Zein dalam hati.
Sore hari.
Zein mengantarkan mobil milik Melly ke rumahnya di Jalan Bunga. Meskipun satu komplek tapi rumah yang ada di jalan itu adalah rumah - rumah mewah dan elit.
Zein memencet bel di pagar yang menjulang tinggi itu.
Dari rumah keluar sosok wanita berpakaian seksi.
Melly tersenyum melihat kedatangan Zein. "Ayo Mas, bawa masuk mobilnya!" titah Melly seraya membuka lebar pagar tinggi bercat gold itu.
Segera Zein membawa mobil itu ke garasi, dan menyerahkan kuncinya kepada Melly.
"Ini Mbak, total tagihannya," ucap Zein seraya menyerahkan nota tersebut.
"Ayo Mas tunggu di dalam! Saya ambil uangnya dulu," ucap Melly dengan gaya sensualnya.
"Di luar saja Mbak," ucap Zein yang merasa tidak enak kalau harus masuk.
"Ayo tidak apa-apa!" ucap Melly seraya menarik tangan Zein dan mengajaknya duduk di kursi yang ada di ruang tamu.
Zein terpaksa duduk di sana, Melly membawakan Zein minuman dingin.
"Mas, namanya siapa," tanya Melly sambil meletakan minuman di meja.
"Zein," jawab Zein.
"Mas Zein, sambil menunggu saya ambil uang, mas Zein silahkan minum - minum dulu," ucap Melly dengan ramah dan centil. Lalu dia pergi ke kamar untuk mengambil uang.
Zein hanya diam, lalu mengambil minuman itu dan meminumnya.
Tak berapa lama Melly kembali dengan membawa uang. Lalu menyerahkannya kepada Zein.
Zein menerimanya, kemudian dia berpamitan pulang kepada Melly.
Sepeninggalan Zein, Melly menyeringai.
"Sepertinya cocok untuk dijadikan mainan baruku, sangat tampan dan imut, kayaknya mudah untuk aku goda," ucap Melly dalam hati. Lalu dia tersenyum jahat dan licik.