My Husband's Secret

My Husband's Secret
Bab 19



Bab 19


Keesokan harinya


Pagi ini Zein bersiap - siap hendak pergi ke bengkel untuk berpamitan kepada bos dan teman-temanya.


"Zoy, kamu ikut yah? Sekalian aku kenalin teman - teman di sana," ajak Zein kepada Zoya.


"Baiklah, aku ikut saja daripada aku sendirian di rumah, lagian toko kueku bukanya besok saja," ucap Zoya.


"Terserah kamu meskipun kamu tidak ingin membukanya kembali tidak apa-apa, kan sekarang kamu ada aku yang cariin uang," ujar Zein dengan senyum usilnya.


"Iya juga sih, tapi aku pasti akan bosan jika aku di rumah saja tanpa melakukan apapun, lagian sayang, tokoku itu sudah memiliki pelanggan yang setia," ucap Zoya.


"Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan, asalkan kamu senang aku tidak akan melarangnya," ucap Zein.


Selesai sarapan mereka berdua berangkat ke bengkel dengan mengendarai motor maticnya Zein.


Padahal Zoya sudah menawarkan mobilnya untuk digunakan Zein, tapi Zein menolaknya dengan alasan lebih romantis berboncengan. Padahal alasan sebenarnya Zein tidak ingin memanfaatkan properti milik Zoya.


Sesampai di bengkel Zein langsung menemui bosnya.


"Widih…! Pengantin baru nih!" seru yudis.


"Lagi anget - angetnya nih!" teman yang lain ikut nimbrung.


"Zein kamu kok tambah seger aja setelah menikah, enak ya ada yang ngurusin?" kata pak Adi.


Zein hanya tersenyum menanggapi teman - temanya yang terus menggoda dia dan Zoya.


Zein langsung masuk ke ruangan bosnya, setelah sebelumnya mengetuk pintu dulu.


"Pak Bos!" sapa Zein.


"Oh iya Zein, sini duduk! Ini istrimu?" tanya pak bos seraya menunjuk Zoya.


" Maaf ya, kemarin saya tidak bisa hadir di pesta pernikahanmu karena ada kerabat dekat saya yang meninggal, " sesal pak bos.


"Tidak apa - apa Pak, yang penting doanya," sahut Zein.


"Mohon maaf Pak, Maksud kedatangan saya ke sini, saya ingin berpamitan, saya mau berhenti bekerja, saya ingin buka bengkel sendiri," Zein mengutarakan maksud kedatangannya kepada bosnya.


"Wah, bagus itu saya suka jika ada pegawai saya mau berkembang, kalau kamu butuh bantuan, saya siap membantu kamu, Zein," kata pak bos dengan tulus.


"Saya yakin kamu pasti bisa, karena kamu sangat cerdas dan pintar, kamu juga ulet. Sebenarnya sangat disayangkan kalau saya kehilangan pegawai sebaik kamu. Tapi mau bagaimana lagi saya tidak boleh menghalang - halangi orang yang mau sukses," imbuh pak bos memuji dan mendukung Zein.


"Terima kasih Pak, kalau begitu saya permisi dan mohon maaf jika selama saya di sini saya sering merepotkan Pak Bos," ucap Zein.


"Tidak apa - apa Zein, kamu tidak pernah merepotkan saya, dan ini uang gaji terakhir kamu , anggap saja sebagai hadiah pernikahanmu," ucap pak bos seraya menyerahkan amplop berisi uang.


"Terima kasih banyak Pak!" ucap Zein dengan penuh semangat dan matanya berbinar melihat amplop tersebut.


Saat Zein dan Zoya akan meninggalkan ruangan itu, tiba - tiba ada seorang gadis menyerobot masuk.


"Kak Zein kemana saja? Aku kangen!" seru gadis itu seraya melingkarkan tangannya di lengan Zein dengan kepala bersender manja di bahu Zein.


"Nora! Jangan begitu! Zein sudah menikah!" bentak pak bos yang malu sama Zoya dengan tingkah putrinya itu.


"Apa? Kak Zein sudah menikah? Kapan?" cecar gadis itu.


"Iya, aku sudah menikah, ini istriku," jawab Zein seraya melepaskan tangan Nora.


"Kapan? Aku kok tidak dikasih tahu," ucap gadis itu merajuk.


"Iya, Ayah lupa memberi tahu kamu, Zein menikah hari sabtu kemarin ," ucap pak bos.


"Huaaa… Kak Zein jahat! Seharusnya aku yang menikah dengan Kak Zein!" ucap Nora seraya menangis tersedu dan menghentakan kakinya lalu dia pergi meninggalkan tempat itu.


Zoya hanya diam saja menyaksikan kejadian di depannya itu. Dengan berbagai pertanyaan di hatinya. Zoya bertanya - tanya, siapa gadis itu? Apa gadis yang bernama Nora itu kekasih Mas Zein?