My Husband's Secret

My Husband's Secret
Bab 44



Bab 44


Tiga bulan berlalu, bayi Yaya tumbuh dengan baik badanya bertambah gempal, pipinya semakin tembem, Sungguh menggemaskan


Zein dan Zoya sangat menyayangi bayi Yaya, mereka tidak bisa meninggalkan bayi Yaya terlalu lama. 


Terutama Zein dia benar - benar tidak bisa jauh dari bayinya. Sepulang bekerja dia akan langsung pulang hanya sekedar melepas rindu terhadap putrinya. Terkadang Zoya cemburu terhadap putrinya karena Zein lebih perhatian pada putrinya. Padahal sejatinya Zein selalu memperlakukan mereka sama saja, hanya saja bayi Yaya hanyalan seorang bayi yang sangat manja yang begitu tergantung kepada Zein. 


Kini mereka sudah menempati rumah yang dihadiahkan papa untuk bayi Yaya. Sebenarnya Zein menolak untuk tinggal di sana, dia merasa tidak enak kalau harus tinggal di rumah pemberian papa mertuanya. Tapi Zoya menginginkannya dengan alasan agar rumah terawat. Juga rumah lama terlalu kecil jika ada kerabat yang ingin menginap. 


Malam itu bayi Yaya sudah tidur lebih awal. 


"Hufh akhirnya tidur juga dia, setelah seharian rewel" keluh Zoya. 


"Kenapa sayang? Apa putriku hari ini membuatmu lelah?" tanya Zein sambil mengusap punggung Zoya. 


"Tidak tahu hari ini rewel banget, padahal badanya tidak panas," keluh Zoya. 


"Mungkin badanya pegal semua, dulu di kampungku kalau ada bayi yang rewel biasanya dipijatkan ke tukang pijat bayi," ucap Zein. 


"Boleh juga, nanti aku coba cari tukang pijat bayi di kampung sebelah, ah iya, aku ingat di mall ada spa bayi mungkin ada juga tukang pijat bayi," ucap Zoya. 


"Iya, besok kamu ke sana saja, mau aku antar?" 


"Bengkelmu?" tanya Zoya. 


"Hei, kamu lupa? Pegawaiku banyak aku bisa pasrahkan semua pada pegawai kepercayaanku," ujar Zein sambil mendekatkan diri pada Zoya


"Bayi Yaya sekarang berapa bulan ya?" tanya Zein kepada Zoya. 


"Tiga bulan," sahut Zoya. 


"Sudah boleh dong ya?" tanya Zein seraya tersenyum penuh arti. 


"Boleh apa?" Zoya menautkan kedua alisnya. 


Cup! Zein mengecup bibir Zoya. 


"Aku merindukanmu, Sudah lama aku tidak menyentuhmu, bolehkah aku malam ini melakukannya?" tanya Zein penuh damba dengan tubuh semakin merapat kepada Zoya. 


Deg! 


Sontak Zoya terkejut, dia merinding dibuatnya, dia sedikit trauma dengan persalinan yang membuat intinya dijahit. Sampai sekarang bagian intinya masih terasa ngilu. 


"Apa bisa aku melakukannya? Apakah tidak menyakitkan?" gumam Zoya dalam hati. Dia ragu untuk mewujudkan keinginan suaminya, akan tetapi dia juga tidak mungkin menolaknya, Karena Zein sudah cukup bersabar menunggu dirinya selama tiga bulan. 


"Kenapa? Kamu tidak bersedia?" Zein bertanya karena Zoya hanya bengong tidak menggubris perkataannya. 


"Ah, iya aku bersedia!" sergah Zoya. 


"Tapi kamu terlihat ragu?" 


"Hmmm… aku hanya takut, itu akan sakit. Aku masih trauma betapa sakitnya melahirkan," 


"Tidak apa, aku akan melakukannya dengan pelan, percayalah padaku! Kita harus mencobanya, mungkin awalnya sakit seperti malam pertama, tetapi lama - kelamaan kamu akan terbiasa," ucap Zein berusaha meyakinkan istrinya. 


Zoya mengangguk "Baiklah kita coba!" 


Tanpa menunggu lama lagi, setelah mendapatkan izin dari empunya, Zein langsung menyerang wanita di depannya itu. 


Dengan rakus dia melumatz bibir ranum itu. Seperti harimau kelaparan ia menyerang istrinya di beberapa titik . 


Zoya menggelinjang hebat mendapat perlakuan yang membangkitkan has*ratnya itu. Rasa takut, khawatir akan sakit menguap begitu saja. 


Akhirnya, malam itu Zein berbuka setelah selama tiga bulan berpuasa. Dia melakukan dengan lembut. Sehingga membuat Zoya histeris ni*kmat meskipun masih ada sedikit rasa sakit dan ngilu di bagian intinya. 


Ah, Zein merasa istrinya itu menjadi perawan kembali begitu sempit dan bikin ketagihan, namun, sayang dia tidak mungkin mengulanginya saat ini, karena bayi Yaya terbangun.