
Bab 51
Zein berlari berteriak memanggil sang istri. Namun, mobil yang dikendarai wanita kesayangannya sudah melesat dan hilang dari pandangan.
Segera Zein kembali ke dalam rumah, lalu berpamitan kepada wanita berhijab itu untuk menyusul sang istri.
Zein melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi dia berharap bisa menyusul istrinya, akan tetapi Zoya sudah tidak bisa dikejar, mobil wanita itu menghilang bak ditelan bumi.
"Secepat itu ia menghilang? Kemana dia?" gumamnya dalam hati.
Zein memutuskan untuk pulang ke Malang. Dia meyakini kalau istrinya itu langsung pulang ke Malang.
Hampir satu jam setengah akhirnya dia sampai ke kediamannya. Dia langsung berlari mencari keberadaan istrinya.
" Sayang? Kamu di rumah?" Zein berteriak memanggil - manggil sang istri sambil memeriksa setiap sudut ruangan di rumahnya.
Namun dia tidak menemukan istrinya di rumah itu, ia putus asa, lalu dia terkulai lemas di meja makan.
"Kamu dimana sayang?" gumamnya dalam hati dengan perasaan khawatir menderanya.
Rani, pengasuhnya Yaya pun terkejut mendengar majikannya berteriak memanggil istrinya.
"Ada apa Pa? Ibu tidak ada di rumah, tadi bilangnya pergi agak lama ada urusan di luar kota." Rani menjelaskan.
"Jadi Ibu belum pulang ke Rumah?" tanya Zein dengan raut wajah panik.
"Belum?" jawab Rani sembari menggeleng.
"Ya sudah! Yaya sedang apa?"
"Tidur siang,"
Zein mengangguk.
Kemudian dia berusaha menghubungi ponsel istrinya. Namun, ponsel Zoya tidak aktif.
"Mbak, saya ke toko kue dulu, siapa tahu ibu ada di sana. Tolong jaga Yaya!"
"Baik Pak," sahut Rani.
Zein pun bergegas keluar rumah untuk mencari keberadaan istrinya. Namun lagi - lagi usahanya gagal, Zoya tidak ada di manapun. Bahkan di rumah mertuanya pun tidak ada.
Tadi dia berpura - pura mampir ke rumah mertuanya tapi dia tidak berani menanyakan langsung keberadaan istrinya, dia takut mertuanya curiga dan Khawatir. Dia berpura - pura mengunjungi mertuanya dengan alasan hanya mampir kebetulan lewat. Namun, tidak ada tanda - tanda keberadaan istrinya di rumah itu.
Dia pun kembali ke rumah berharap sang istri sudah kembali, akan tetapi dia harus kembali kecewa karena istrinya tidak ada.
Saat dalam keputusasaan tiba - tiba ibunya menelpon.
Ibu : "Halo, Nak!
Zein: " Iya Bu, ada apa? "
Ibu: " Kemarilah, sekarang juga! ""
Zein :" Tidak sekarang Bu, lain kali saja,"
Ibu : " Ibu bilang sekarang, ya sekarang
juga!"
Zein: Menghela napas. "Baik Bu,"
Zein tidak bisa membantah ibunya, akhirnya saat itu juga dia mengendarai kereta besinya menuju Kota Batu.
"Duh, Ibu itu ada - ada saja! Nggak tahu apa orang lagi pusing, di saat seperti ini malah suruh ke Batu!" Sepanjang jalan Zein menggerutu.
Menjelang sore, Zein telah sampai di kediaman Ibu Mira.
Ibu Mira sudah menunggu Zein di ruang tamu.
"Bu, ada apa memanggilku?" tanya Zein sambil mendudukan bokongnya di samping ibu, lalu mencium tangannya penuh takzim.
"Pergilah ke kamarmu!" titah Bu Mira.
Zein mengernyitkan dahinya, ia merasa heran dengan ibunya itu, bukannya menjawab pertanyaannya, malah memerintahnya pergi ke kamar.
Tapi dia enggan bertanya lebih jauh, ia hanya menuruti perintah ibunya itu.
Dengan gontai dan malas ia pun beranjak pergi ke kamarnya, yang semenjak menikah dengan Zoya jarang ditempati hanya sesekali jika sedang berkunjung dengan anak istrinya saja.
Ceklek
Ia membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu. Sesaat ia tertegun melihat pemandangan di hadapannya.
Wanita yang dari tadi dicarinya kemana - mana ternyata sedang terlelap di rumah ibunya bahkan di kamarnya. Tidak sedikitpun terpikir olehnya kalau istri cantiknya itu berada di sini.