My Husband's Secret

My Husband's Secret
Mandi bersama



Bab 27


Selesai sholat subuh berjamaah, pasangan suami istri itu kembali melakukan kegiatan panasnya.


Zoya sudah mulai bersikap agresif. Biasanya dia hanya pasrah dan diam, untuk kali ini dialah yang memimpin permainan.


Zein senang dengan perubahan istrinya itu. Sungguh kebahagiaan yang tiada tara bagi Zein saat dirinya dan Zoya bisa mencapai puncak bersama - sama.


Lelah dengan pergulatan di pagi hari, mereka kembali terlelap.


Tok.. Tok..


Zein! Zoya!


"Bangun Nak! Sudah siang, sarapan dulu!" Ibu memanggil pasangan baru itu, yang masih dalam keadaan polos .


"Mas, bangun dipanggil ibu," bisik Zoya seraya menepuk pipi suaminya dengan lembut.


"Hmmm,.. Iya Bu, sebentar!" teriak Zein dari kamar.


"Cepat bangun, Ibu tunggu ya!" sahut ibu dari luar, lalu ibu meninggalkan kamar itu.


"Iya Bu! " sahut Zein.


"Ayo mandi bareng," ajak Zein kepada Zoya


"Kamu aja duluan," sahut Zoya karena Zoya sangat paham, jika mandi bareng pasti akan ada yang terjadi di kamar mandi.


Tanpa bicara lagi, Zein langsung menggendong Zoya ala - ala bridal ke kamar mandi.


Aw! Pekik Zoya terkejut.


Sesampai di kamar mandi Zein menurunkan Zoya di bawah shower, lalu dia menyalakan shower itu. Seketika tubuh mereka basah.


"Ayo kita saling bantu, kamu gosokin punggungku nanti gantian punggungmu aku gosokin." ucap Zein. Lalu dia menyerahkan punggungnya untuk digosok oleh Zoya.


Zoya menggosok punggung Zein dengan lembut menggunakan spon dan sabun.


" Selesai! " ucap Zoya.


" Sini giliran kamu," sahut Zein.


" Tidak usah, aku bisa sendiri, " Zoya menolak.


Tetapi Zein merebut spon mandi dari tangan Zoya dan membalikan tubuh Zoya.


Dengan lembut dan penuh perhatian Zein menggosok punggung istrinya itu.


Glek!


Zein menelan air ludahnya sendiri. Dia terkesiap melihat punggung putih mulus istrinya itu. Pandangannya beralih ke pinggang dan bo*kong Zoya yang padat berisi sungguh menggiurkan.


Zein tidak tahan lagi, dia langsung memeluk istrinya itu dari belakang. Miliknya sudah kembali menegang.


Tangannya meremas, benda kenyal kembar milik istrinya.


"Aish! Sudah kuduga, " ucap Zoya seraya memutar bola matanya. Namun, akhirnya dia tersulut juga api ga"irahnya.


Acara mandi pun menjadi lama, pengantin baru itu kembali men*de"sah di kamar mandi, tidak peduli ibu mulai bosan menunggu.


"Ibu kemana, Bude?" tanya Zein kepada bude Srimah. Bude Srimah adalah tetangga ibu yang suka bantu - bantu ibu di rumah, ibu sudah menganggap bude Srimah seperti keluarga.


"Ibu ke kebun Mas," jawab bude Srimah.


Oh, ucap Zein.


Zein dan Zoya pun duduk di meja makan untuk sarapan.


Selesai sarapan Zein mengajak Zoya jalan - jalan untuk melihat kebun milik ibu.


******


Zein menepikan mobil di pinggir jalan, lalu mengajak Zoya keluar dari mobil untuk melihat - lihat kebun ibunya.


Di jalan banyak para gadis yang menatap pengantin baru itu, dengan tatapan iri terutama kepada Zoya.


Bagaimana tidak iri, Zein cukup terkenal di kampungnya. Zein dikenal sebagai pria yang tampan dan soleh di kampungnya, banyak para gadis yang ingin menjadi istrinya. Para orang tua menginginkan Zein menjadi menantu mereka.


Zoya tidak ambil pusing dengan tatapan iri para gadis itu. Dia malah semakin mengeratkan tangannya di lengan Zein.


Zein juga sepertinya tidak begitu mempedulikan gadis - gadis yang berusaha mencari perhatian pada dirinya, dia hanya fokus kepada istri cantik tersayangnya.


"Mas, ini semua kepunyaan Ibu?" tanya Zoya yang merasa takjub dengan pemandangan di sekitarnya.


"Iya, kebun apel, jeruk, stroberi, sayur mayur semua milik Ibu," jawab Zein sambil menunjuk kebun itu.


"Wah.. Luas sekali kebun Ibu," ucap Zoya dengan takjub.


Sepertinya Ibu kamu kekayaannya bisa diperhitungkan, tapi mengapa kamu memilih bekerja di bengkel pada waktu itu? Bukannya membantu ibu mengelola kebunnya."


"Saat ini aku belum mau berkecimpung di dunia pertanian, aku lebih suka berkecimpung di dunia perbengkelan. Aku merasa senang jika sudah berhubungan dengan mesin kendaraan."


Zoya tersenyum tipis mendengar pernyataan suaminya itu. Apapun itu Zoya akan selalu mendukungnya.


"Mas, aku ke sana ya, aku ingin memetik apel," ucap Zoya dengan semangat.


"Biar aku petikan, kamu tunggu saja disini," ucap Zein.


"Gak seru kalau kamu yang memetik, aku ingin memetiknya sendiri, " Zoya keukeuh pada pendiriannya.


"Baiklah, aku tunggu di sini saja, jangan lama-lama! " ucap Zein.


Zoya berlari kecil menuju ke pohon apel terdekat lalu dia memetik apel itu.


Aww! Zoya berteriak histeris.


Sontak Zein terkejut dibuatnya, lalu dia berlari menghampiri istrinya itu.


"Ada apa sayang?" tanya Zein dengan nada panik.


"Iii.. Tu, ada ulat, " ucap Zoya dengan gemetaran, wajahnya memucat dan _


Bruk!


Zoya pingsan.


Secepat kilat Zein menangkap tubuh Zoya yang hampir menyentuh tanah. Lalu Zein membopongnya dan membawa Zoya ke mobil. Dengan segera Zein membawa Zoya pulang ke rumah.