My Husband's Secret

My Husband's Secret
Bab 40



Bab 40


Lima bulan sudah terlewati, Zoya sedang menanti detik - detik kelahiran buah hatinya. Perkiraan dokter, Zoya melahirkan dua minggu lagi, tapi tidak menutup kemungkinan bayinya akan lahir lebih cepat dari perkiraan. 


Zoya sudah mengurangi aktivitasnya di toko kue juga mengurangi mengerjakan pekerjaan rumah. Semua dikerjakan oleh suaminya. Zein tidak mengijinkan Zoya mengerjakan pekerjaan rumah. 


Zein hanya memerintah Zoya untuk mempersiapkan persalinannya seperti mengikuti senam hamil, berjalan - jalan setiap pagi. 


Zoya sangat menikmati masa - masa kehamilannya di akhir semester ini. Meskipun semuanya terasa berat. 


Di usia sembilan bulan ini Zoya lebih sering bolak - balik kekamar mandi untuk buang air kecil. 


Badannya mudah capek dan gerah padahal di kamar sudah di pasang AC. 


Tidur pun tidak nyaman, tidur telentang sangat tidak dianjurkan, tidur miring seperti ada yang mengganjal. Semuanya serba salah. Keunikan satu lagi yang dialami Zoya selama kehamilannya adalah sering ingin meludah. 


Meskipun banyak keluhan, Namun tidak sedikitpun mengurangi keinginannya untuk bercin*ta dengan sang suami. 


Seperti malam ini Zoya sangat ingin melakukannya dengan suami tercinta. 


"Mas, tidakkah kamu ingin menengok dedek bayi dalam perutku?" rengek Zoya dengan manja. 


Zein terkekeh mendengar istrinya merengek seperti itu, dia paham betul apa yang diinginkan istrinya itu. 


Tapi dia paling suka membuat istrinya kesal terlebih dahulu, dia akan berpura - pura tidak mengerti dengan kode yang diberikan sang istri, karena bagi Zein istrinya itu sungguh menggemaskan jika sedang kesal. 


"Baik sayang!" sahut Zein, lalu dia mengangkat daster istrinya sehingga menampilkan perut Zoya yang membuncit. 


"Halo dedek bayi apa kabar?" ucap Zein sambil mengusap - ngusap perut wanita kesayangannya itu. 


Terlihat perut Zoya bergerak seperti merespon perkataan Zein. 


"Mas, dedek bayinya menendang!" seru Zoya senang. 


Zein mengangguk dengan mata berkaca - kaca, entah mengapa setiap melihat perut Zoya bergerak - gerak dia sangat terharu. 


"Udah tuh, dedeknya aku tengok, sekarang tidur ya," ucap Zein sambil menahan tawa. 


"Ish, bukan begitu, dedeknya ingin ditengok lebih dalam lagi," ucap Zoya kesal sambil mengerucutkan bibirnya. 


"Lebih dalam lagi? Maksudnya?" goda Zein seraya mengangkat kedua alisnya. 


Cup! 


"Gitu aja marah, duh, Istriku kalau marah tambah cantik," rayu Zein sambil mencolek hidung Zoya. 


Kemudian Zein memposisikan diri di atas Zoya, dia berusaha agar tidak menindih perut besar Zoya. Dia mengecup seluruh wajah istrinya itu, dan me*lumatz bibir istrinya dengan lembut. Zoya tidak mau kalah, dia membalasnya. 


Dengan hati - hati Zein melakukan penyatuan, sampai  akhirnya mereka berdua mencapai nirwana bersama - sama. 


Cup! Zoya mengecup bibir suaminya. 


"Makasih Mas," ucap Zoya. 


"Untuk?" tanya Zein. 


"Untuk semuanya," sahut Zoya. 


"Ya, sebutin dong! Aku kan nggak ngerti," goda Zein. 


"Ish, pokoknya semuanya," Zoya memberengut. 


Zein terkekeh. "Yang seharusnya berterima kasih adalah aku sayang, aku beruntung memiliki istri yang cantik, baik, pengertian, pokoknya semuanya deh, terutama aku berterima kasih karena kamu sudah mau bersusah payah mengandung anakku," ucap Zein lalu mengecup kening Zoya dengan penuh kasih. 


" Anak kita Mas! " sungut Zoya. 


" Iya, iya, anak kita berdua, " sahut Zein sambil merengkuh tubuh istrinya walaupun terhalang oleh perut besar. 


Sst haduh! Tiba - tiba Zoya mengaduh, meringis sambil mengusap ngusap perutnya. 


"Kenapa sayang?" tanya Zein dengan raut khawatir. 


"Tidak tahu perutku sakit banget, mulas - mulas," Zoya meringis. 


Sontak Zein terbangun lalu mengusap - ngusap perut Zoya. 


"Apakah sudah waktunya melahirkan?" tanya Zein agak panik. 


"Tidak tahu Mas. Aww  sakit banget." Zoya kembali meringis. Wajahnya tampak semakin memucat menahan sakit.