
Bab 41
Sedikit gugup dan panik, Zein segera membawa istrinya ke rumah sakit. Singkat cerita Zoya sudah berada di ruang tindakan. Zein tidak diperkenankan ikut masuk.
Suster sibuk mempersiapkan persalinan Zoya, setelah itu ada bidan yang memeriksa jalan lahir.
"Sudah pembukaan sepuluh," kata bidan itu.
Tak berapa lama seorang dokter kandungan perempuan memasuki ruang bersalin itu.
"Bagaimana Bu, sudah siap melahirkan?" tanya dokter itu kepada Bu Bidan.
"Sudah pembukaan sepuluh dokter," sahut Bu Bidan.
"Baik, relax ya Bu, jangan tegang, Bismilah aja," ucap dokter itu kepada Zoya dengan senyum tulusnya.
Zoya hanya mengangguk sambil menahan rasa sakit di perutnya.
"Siap ya Bu, tarik napas lalu keluarkan, bokongnya jangan diangkat saat mengejan, karena bisa menyebabkan jalan lahir robek," dokter menginstruksikan.
"Tarik napas, keluarkan. Dagu letakan di dada ya Bu, siap Bu, ayo dorong!" dokter kembali menginstruksi.
Zoya melakukan seperti yang diinstruksikan dokter.
Heeghg! Zoya sekuat tenaga untuk mengejan. Keringat membanjiri seluruh tubuhnya, akan tetapi dorongan pertama masih gagal, dorongan kedua juga gagal.
Zoya merasa frustasi, karena sang jabang bayi masih enggan keluar, padahal tenaganya sudah hampir habis.
"Sabar ya Bu, tenang," ucap Bidan yang dari tadi membantu dokter.
"Ayo Bu, semangat! Ulangi lagi ya! " kata dokter.
"Tarik napas! Buang! Dorong!" dokter menginstruksi.
Heghhhg! Oe oe oe… akhirnya semua merasa lega.
"Alhamdulillah selamat ya Bu, dedeknya perempuan, cantik, lahir dengan selamat, semua lengkap, tidak kurang satu apapun," dokter menginformasikan lalu menyerahkannya kepada perawat untuk dibersihkan setelah sebelumnya ari - ari dipotong.
Zein yang dari tadi menunggu di luar dengan kondisi yang tegang akhirnya bisa bernapas dengan lega setelah mendengar tangisan bayi dari dalam.
"Astagfirulloh saking tegangnya aku sampai lupa memberitahu para orang tua," gumamnya dalam hati.
Bergegas pria itu menelpon satu persatu para tetua.
Mama dan papa langsung menuju rumah sakit malam itu juga, sedangkan Bu Mira masih menunggu esok hari dikarenakan jarak Kota Malang dan Kota Batu cukup jauh.
Tak berapa lama, mama dan papa sudah sampai di rumah sakit, bergegas pasangan suami istri itu menuju kamar di mana Zoya di rawat.
Nampak Zein sedang menyuapi sang istri, sambil sesekali mengusap kepala wanita yang telah melahirkan putri cantiknya.
"Zoy! Zein!" mama memanggil mereka sambil mendekat.
"Selamat ya Zoya, Zein kalian telah menjadi orang tua, mudah - mudahan putri kalian menjadi putri yang soleha," ucap mama sambil mendudukan bokongnya di samping Zoya di atas brankar.
Makasih doanya ya Ma, ucap Zoya sambil memeluk dan mencium pipi mamanya.
"Selamat ya, Papa doakan semoga putri kalian menjadi anak penyenang hati dan penyejuk hati, membawa keberkahan untuk kehidupan rumah tangga kalian." papa menimpali.
"Makasih doanya Pa," ucap Zein.
Setelah menemani beberapa saat, mama dan papa pamitan pulang, sebenarnya mama tidak ingin pulang, mama ingin menemani putrinya, tapi Zein melarang mengingat kesehatan mama yang kurang baik.
Tiga hari kemudian Zoya dan bayinya diperbolehkan pulang. Di rumah mereka sudah disambut oleh mama dan papa. Selain itu ada juga Zetta beserta suami dan anaknya.
Attira begitu senang melihat adik kecilnya dia tidak mau jauh jauh dari dedek bayi.
Semua orang sangat bahagia dengan kehadiran bayi mungil cantik itu.
"Siapa namanya bayi cantik ini?" tanya papa sambil mengusap - usap pipi gembul menggemaskan itu.
"Belum diberi nama Pa," sahut Zoya.
"Apa Papa mau menyumbang sebuah nama?" tanya Zein.
"Kalian sajalah yang memberi nama kalian kan, orang tuanya," ucap papa seraya tersenyum tipis tatapannya tidak terlepas dari bayi itu. Dia sangat bahagia karena di usia senjanya dia masih diberikan kesempatan menimang cucu.
"Apa Eyang Uti yang mau memberi nama?" tanya Zoya.
"Tidak ah, Uti bingung harus memberi nama apa?" jawab mama medina.
" Attira saja yang memberi nama! Boleh ya Om, Tante?" tanya Attira dengan polosnya.
Semua orang yang berada di rumah itu menoleh pada gadis kecil itu lalu tergelak.
Attira kecewa karena ditertawakan orang dewasa di rumah itu ia memberengut.
"Emang Attira mau memberikan nama apa buat dedeknya?" tanya Zein penasaran.
"Zeinya!" seru Attira antusias.
"Kok Zeinya?" tanya semua orang serempak.
"Zeinya itu singkatan dari nama Om Zein dan Tante Zoya," sahut Attira.
"Wah, boleh juga tuh, idenya Attira, kamu memang anak yang cerdas," ucap Zein sambil mencolek hidung Attira.
"Baiklah, Om akan memakai nama itu," ucap Zein.
"Kamu serius?" tanya Zetta.
"Iya, nama panggilannya" Yaya," sahut Zein.
" Adek Yaya!" seru Attira.
Semua yang ada di rumah itu tersenyum bahagia.