My Husband's Secret

My Husband's Secret
Goal?



Bab 22


Ceklek!


Zein menyembul dari kamar mandi. Zoya berbaring di ranjang dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya hanya kepalanya saja yang masih terlihat.


Zoya agak gugup tapi tidak mungkin menghindar dengan berpura - pura tidur, dia harus menerima apapun keinginan Zein.


Zein naik ke atas ranjang, lalu merebahkan tubuhnya di samping Zoya.


Sesaat Zein terdiam, matanya menatap langit - langit.


Dia juga bingung harus mulai darimana dulu. Lalu dia bangun dan mematikan lampu kamar. Kini kamar terasa hening dengan lampu hias yang temaram.


Deg! Zoya semakin gugup karena lampu sudah dimatikan. Pertanda kegiatan akan segera dimulai.


Perlahan Zein merangkak di atas tubuh Zoya dan menarik selimut yang dikenakan Zoya.


Zoya mengenakan pakain tidur yang tipis dan transparan, Zoya sangat seksi mengenakan pakain malam itu. Bentuk tubuhnya tercetak nyata. Bagian paha terekspos dengan jelas.


Glek!


Zein menelan air liur saat melihat bentuk tubuh Zoya yang menggiurkan, langsing, berisi, putih, mulus, leher dan kaki jenjang.


Zein menatap manik hitam milik Zoya dengan penuh damba.


"Boleh?" tanya Zein dengan suara tercekat dan pelan.


Zoya hanya mengangguk. Zoya sendiri sudah tidak bisa mengeluarkan kata-kata, dia terlalu gugup dan malu.


"Gaun malammu sangat bagus dan menggoda, aku kok baru melihatnya?" tanya Zein karena selama seminggu seranjang dengan Zoya, dia tidak pernah melihat Zoya mengenakan gaun yang kekurangan bahan itu. Baru malam ini dia melihatnya.


"Baju ini ada di antara hadiah yang ibu kamu berikan," ucap Zoya sambil tersipu.


Zein tersenyum. Ternyata ibunya pintar dalam memilih hadiah seserahan (peningset)


Sebelum melancarkan aksinya Zein memanjatkan doa terlebih dahulu, dengan harapan apa yang mereka lakukan malam ini diberi keberkahan dan kelancaran, dijauhkan dari gangguan setan. Dan Zein berharap bercocok tanam malam ini bisa membuahkan hasil yang baik.


Zein mencium ubun - ubun Zoya dengan lembut sebagai permulaan.


Lalu melanjutkannya dengan mencium kening Zoya.


Zoya memejamkan matanya, meresapi apa yang dilakukan Zein terhadapnya. Perlakuan Zein membuat Zoya merasa berharga.


Dari kening, turun ke mata lalu berlanjut ke pipi. Zein menatap bibir ranum milik Zoya yang polos tanpa pewarna bibir apapun. Zein sangat suka melihat bibir tipis itu.


Dengan penuh kehati - hatian Zein mendaratkan kecupan di bibir Zoya. Wajah Zoya memanas dan merona.


Kecupan itu seolah - olah pemantik api gai*rah mereka berdua. Lama bibir mereka berpaut tanpa ada pergerakan, secara naluriah Zein mulai bergerak, mengecup, menci*um, menggigit dan melu*mat.


Zoya berusaha membalasnya, sehingga membakar ga*irah yang ada dalam diri Zein.


Napas Zoya dan Zein memburu tidak karuan, keduanya telah terbakar api gai*rah. Hasrat keduanya tidak terbendung lagi. Tubuh mereka menuntut untuk melakukan yang lebih dari itu.


Dengan tidak sabaran Zein melepas gaun transparan yang dikenakan Zoya, kini Zoya hanya mengenakan penutup bagian - bagian sensitifnya saja.


Zoya malu karena Zein melihat dirinya yang hampir polos, ditambah tatapan Zein penuh damba dan penuh kabut ga*irah.


Zein melepaskan penutup benda kenyal kembar milik Zoya. Lalu dia bermain - main di sana, menyapu lembut benda kembar itu dengan lidahnya, satu tangan yang lain mere*mas dan mengelus benda itu. Sehingga membuat Zoya membusungkan dadanya, tubuhnya bergetar hebat. Zoya mulai merasakan getaran - getaran aneh di tubuhnya.


Eh.. Uhh, lenguhan dan ******* lolos dari mulut Zoya. Zein senang mendengar suara erotis itu. Hasratnya semakin tak terkendali.


Setelah puas bermain - main dengan benda kembar itu, lalu tangan Zein berpindah ke bagian tubuh sensitif milik Zoya paling bawah. Bagian itu telah basah. Zein hanya membuka segitiga itu setengahnya.


Tanpa ragu, dengan lembut Zein mengecup bagian bawah itu, ia memasukan jari telunjuknya ke bagian sempit itu.


Aww! Zoya menjerit.


"Sakit! Zoya merengek.


Tapi lama kelamaan Zoya menikmati permainan jari suaminya itu. Seumur hidup baru kali ini dia merasakan sensasi seperti ini. Sensasi yang membuat jiwanya seperti melayang ke nirwana.


Milik Zoya semakin basah, Zein membuka lebar pa*ha Zoya dan sekalian membuka penutup segitiganya juga. Zoya merapatkannya kembali, sungguh dia malu dibuatnya.


Dengan tidak sabaran Zein melepas seluruh pakaiannya sendiri tanpa sisa, kini dia benar - benar polos seperti bayi baru lahir. Adiknya sudah menegang dengan sempurna.


Zein tanpa bertanya lagi langsung mengarahkan senjatanya ke tempat yang semestinya.


Zein berusaha keras menerobos milik Zoya, tapi usahanya sungguh sia - sia karena milik Zoya masih tersegel dengan sempurna.


"Zoya sayang, susah banget!" bisik Zein.


"Coba terus mas!" ucap Zoya pelan.


Zein sekuat tenaga menerobos lubang itu. Adiknya Zein baru masuk pucuknya saja.


Aww! Sakit! Zoya memekik dan hampir menangis.


"Belum masuk Sayang!" ucap Zein.


"Tapi sakit," rengek Zoya.


Srett! Tress! Cairan putih kental keluar dari miliknya Zein, padahal miliknya Zein belum masuk sepenuhnya tapi sudah terlepas duluan.


Ah eghhh! Zein melenguh nikmat dia sudah sampai duluan di puncak. Zoya merasa heran karena dirinya belum merasakan apa-apa, hanya sakit yang dia rasakan.


Zein melepaskan diri dari atas tubuh Zoya lalu berguling ke samping dan sesaat mengatur napasnya.


"Kok Sudah selesai? Padahal aku belum merasakan apa - apa," tanya Zoya dengan polosnya.


Zein memiringkan badanya lalu memeluk tubuh polos Zoya. "Maaf ya sayang, milikmu sangat susah ditembus, baru setengah sudah menjepit milikku sehingga aku tidak kuasa lagi menahannya sehingga diriku keluar duluan, nanti kita coba lagi menjebolnya," ucap Zein sambil tersenyum miring dan usil lalu mengecup pelipis Zoya.


Zoya mengangguk. Sebenarnya dalam hatinya ada sedikit rasa kecewa, karena malam pertamanya tidak sesuai dengan impiannya. Tidak seindah malam pertama yang diceritakan novel - novel romantis yang sering dia baca.


Berbeda dengan Zein, dia merasa bahagia karena sudah merasakan malam pertama yang indah meskipun baru setengahnya.