My Husband's Secret

My Husband's Secret
Bagian Dua



What!! Aku tersedak coffe Latteku. Mama memberikan tissue kepadaku, dan menepuk-nepuk bahuku, sambil mencubit punggungku. Aku tau pasti Mama sedikit kesal dan malu karena tingkahku. Untung saja cowok tampan didepanku tidak terkena muncratan minumanku, hanya saja mejanya sedikit basah. Yak, aku melakukan kesalahan kedua kalinya.


"Kamu nggak papa Kalina?" Mama Arya terlihat sedikit khawatir. Aku menggeleng pelan.


"Maaf kalau pertanyaan tante membuatmu terkejut..."


"Ah nggak kok tant... Jadi begini, langsung to the point saja tant, aku sama Arya, baru saja bertemu, belum pernah kenal sebelumnya, alangkah baiknya, kita sama-sama mengenal dulu, dan juga apakah Arya sama sekali belum mempunyai perempuan yang disukainya, pacar misalnya.... " Sengaja kupelankan suaraku ketika mengucap kalimat terakhir.


Arya menyunggingkan senyum disudut bibirnya. Ia menyeruput cappucinonya.


"Aku belum ada pacar ataupun perempuan yang aku sukai saat ini..."


Bagaikan sebuah petir menyambar disiang bolong. Jantungku berdegup kencang, rasanya aku pengen tertawa girang, melompat-lompat, saking bahagianya. Heisshh stop. Aku mencoba bersikap sewajarnya.


"Ohh yaa...? Namun kita kan harus saling kenal dulu bukan? Untuk masalah pernikahan, bisa kita diskusikan setelah kita saling kenal satu sama lain..." Padahal mah aslinya aku pengen banget segera menikah, apalagi sama makhluk tampan seperti Arya. Yang ada difikiranku, pernikahan itu sepertinya terlihat indah. Uh so sweet deh...


"Iya nggak papa, kalian butuh berapa lama kenalannya...?" Tanya Mamanya Arya.


Aku masih berfikir.


"Satu minggu cukup Ma..." Sahut Arya. Aku menatap Arya tak percaya. Apa? Satu minggu.


Mama menyenggol lenganku.


"Ah satu minggu ya... Boleh deh..." Terpaksa aku menyetujuinya. Senang sih, tapi aku masih ragu-ragu.


Yaudah deh, lagian belum tentu setelah satu minggu kita bakalan menikah beneran.


Mamaku dan Mamanya Arya tersenyum puas dan bahagia. Mereka kembali ke obrolan mereka sendiri. Dan aku kembali sibuk dengan fikiranku sendiri.


Tiba-tiba Arya menyodorkan ponselnya kearahku.


"Apa ini nomor hp mu?" Tanyaku sambil memperlihatkan nomornya. Ia hanya mengangguk.


"Oke..." Ku simpan nomornya. "Arya".


Selama perjalanan pulang Mama terus mengomeliku. Kebiasaan mengomel sudah sejak dulu. Jadi aku sudah terbiasa. Tapi sebenarnya Mama sangat perhatian padaku.


Sampai dirumah aku merebahkan tubuhku diatas sofa empuk diruang tamu. Mama ikut duduk disampingku.


"Duh Mama lupa beli tas limited edition... Kamh nggak ingetin Mama sih? Kita ke mall kan mau beli tas tadinya..."


Aku mendengus kesal.


"Lina juga lupa Ma... Mama juga keasyikan ngobrol sama temen, malah ngobrolin perjodohan segala..." Mataku masih terpejam. Rasanya capek sekali hari ini.


"Ohh itu... Itu memang Mama dan Mamanya Arya waktu masih muda pernah sepakat kalau anak kita laki-laki dan perempuan, kita mau besanan..." Mataku terbuka lebar. Menatap Mama tak percaya.


"Ishh Mama, apaan sih... "


"Kenapa? Tapi kamu senang kan? Dia tampan kan, baik hati, dan tidak sombong, kebetulan pas jomblo, udah mapan, profesi dokter kandungan pula, kurang apa coba?" Tutur Mama menggebu-gebu.


Aku hanya geleng-geleng kepala.


Lalu aku meninggalkan Mama yang masih yang masih berceloteh diruang tamu. Aku tak lagi menghiraukan omelan Mama ,karena aku tiba-tiba nyuekin Mama.


Aku naik keatas menuju kamarku. Masih kutatap ponselku. Aku tersenyum, mengingat-ingat Arya. Semoga dia beneran jadi suamiku. Uh suami idaman banget.


Terlalu cepat nggak sih aku jatuh cinta? Atau aku hanya sekedar kagum karena dia tampan, dan juga dia seorang dokter? Tapi tatapan matanya bikin jantungku berdebar terus.