My Husband's Secret

My Husband's Secret
Bab 32



Bab 32


Malam hari


Seperti biasa, setelah selesai makan malam Zein dan Zoya bersantai di ruang tivi.


Tampak Zoya sedang bermanja - manja di kedua pa*ha Zein sambil memainkan sebuah game di ponselnya.


Sedangkan Zein sesekali mengelus - elus kening dan rambut Zoya dengan mata mengarah ke televisi. Zein menyimak sebuah acara kuis di salah satu statsiun televisi terkemuka di indonesia.


Kini, di setiap sudut ruangan rumah mereka, termasuk ruang televisi terpasang pigura foto mereka berdua, seperti foto pernikahan mereka terpampang di dinding ruangan itu.


"Bagaimana keadaan toko kuemu sayang?" tanya Zein kepada Zoya.


"Semakin ramai," sahut Zoya.


"Bagaimana dengan bengkelmu? lancar?" tanya Zoya.


"Alhamdulillah lancar, semakin banyak pelanggan yang mempercayakan kendaraannya di bengkelku. Namun, _ Zein tidak melanjutkan kata-katanya.


" Namun apa? " Zoya penasaran.


Zein ragu, haruskah dia menceritakan kelakuan Melly?


" Tadi ada seorang wanita yang kegatelan sama aku?" ucap Zein.


"Terus? Kami ladenin?" cecar Zoya dengan raut tidak suka.


"Ya enggak lah, ngapain aku meladeninya!" sergah Zein.


"Cantik?" selidik Zoya.


"Cantik dan seksi," sahut Zein.


"Ish! Zoya tidak senang dengan jawaban Zein lalu dia mencubit paha Zein.


Aww, Zein memekik.


"Rasain! " Zoya mencibir.


"Tapi aku kan jujur dia cantik dan seksi, tapi aku tidak tertarik sama sekali karena Istriku jauh lebih cantik," ucap Zein seraya mengelus pipi Zoya.


"Gombal!" sentak Zoya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kamu tahu siapa dia?" tanya Zein.


"Tidak! Emang siapa?" sahut Zoya.


"Melly, ibu tiri kamu," jawab Zein.


"Hah?! Yang benar kamu, Mas? " sentak Zoya.


"Beneran, serius, aku tidak bohong," ucap Zein. Kemudian Zein menceritakan semua kejadian dari awal pertemuan sampai kejadian tadi siang.


Dasar wanita ja*ang, tidak tahu diri! " umpat Zoya.


"Emang dia rumahnya di sekitar sini?" tanya Zoya.


"Iya, di Jalan Bunga," jawab Zein.


"Jalan Bunga?" Zoya mengernyitkan dahinya.


"Oh, iya, Papa pernah cerita kalau dia punya rumah di jalan itu." Zoya baru ingat kalau papanya punya rumah di Jalan Bunga.


"Awas ya, nanti aku laporkan kepada papa," ucap Zoya geram.


"Jangan dulu!" kita tidak punya bukti, nanti kita yang dituding memfitnah.


"Benar juga," ucap Zoya.


"Ya kita lihat aja dulu, siapa tahu dia berubah," ucap Zein.


Zoya mengangguk, mulai sekarang dia akan mengawasi ibu tirinya itu.


Cup!


"Jangan bengong! Nanti kesambet," ucap Zein sambil menunduk lalu mengecup singkat bibir Zoya.


Lalu tatapan mereka bertemu, saling paham, setelah ini, hanya akan terdengar dezahan dan lenguhan - lenguhan.


Keesokan harinya.


Di toko kue milik Zoya.


Seperti biasa Zoya mengawasi pegawainya di tokonya, kadang dia terjun langsung memberi contoh dalam proses pembuatan kue.


Setelah di rasa semua sudah sesuai pada tempatnya, dia akan duduk di kursi yang ada di toko itu sambil memeriksa laporan keuangan atau memeriksa list pesanan.


"Permisi?" seorang pria menyapa Zoya.


Zoya mendongak, dia mengernyitkan dahinya. Dia merasa kenal dengan pria itu, tapi siapa?


"Zoya!" seru pria itu.


"Rio!" balas Zoya.


"Ya ampun, kemana aja kamu itu, Zoya?" tanya pria itu dengan antusias.


"Eh, dari dulu aku ya tetap di sini, kamu itu yang kemana aja? Reuni SMA juga tidak pernah datang," balas Zoya lalu mempersilahkan pria bernama Rio itu untuk duduk.


"Hehehehe.. Iya juga," ucap Rio sambil menggaruk tengkuk meskipun tidak gatal.


"Kamu sedang apa di sini?" tanya Rio.


"Ya kerja, ini toko kue milikku," terang Zoya.


"Wah kebetulan kalau begitu, aku ingin pesan kue ulang tahun untuk Mamaku," ucap Rio.


"Untuk Kapan?" tanya Zoya.


"Untuk besok," jawab Rio.


"Baik, mau kue ulang tahun seperti apa? Silahkan dilihat contohnya," ucap Zoya seraya menyerahkan contoh kue ulang tahun.


"Yang ini saja, basicnya black forest saja Mamaku sangat suka dengan kue ini," terang Rio sambil menunjuk contoh kue tersebut.


"Baik, akan saya buatkan. Pukul berapa akan diambil?" tanya Zoya


"Pukul empat sore," jawab Rio.


"Berapa total harganya?" tanya Rio.


"400rb," jawab Zoya.


Rio mengeluarkan 4 lembar uang ratusan ribu lalu menyerahkannya pada Zoya.


"Besok, aku juga mengundangmu untuk hadir di pesta ulang tahun Mamaku. Mamaku pasti senang melihatmu, " ucap Rio.


"Memang Mama masih ingat aku?" tanya Zoya.


"Ya masihlah, malah dia sering menanyakan kabar kamu," jawab Rio.


" Oh ya, aku gak bisa lama - lama harus kembali ke kantor, aku harap, besok kamu bisa hadir, " ucap Rio lalu entah apa yang dipikirkannya sehingga begitu saja menarik Zoya kedalam pelukannya.


Sontak Zoya terkejut dan hendak mendorong pria itu. Namun,


"Sayang!" sentak seseorang mengejutkan Zoya.