
Bab 34
Keesokan harinya pukul 4 sore.
Sore itu sesuai janji, Rio mengambil kue ulang tahun untuk sang ibu.
"Bagaimana Zoy, kamu bisa datang ke pesta ulang tahun Mama?" tanya Rio.
"Maaf Rio, aku tidak bisa, aku masih banyak pekerjaan," jawab Zoya.
"Yah, baiklah kalau begitu padahal Mama seneng banget waktu aku ceritain tentang kamu, ucap Rio dengan raut kecewa.
"Sorry," ucap Zoya sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Tidak apa - apa," sahut Rio, padahal dalam hati kecewa.
Setelah membayar kue tersebut Rio pun berpamitan.
Pada kenyataannya Zoya tidak sedang banyak pekerjaan. Namun, dia menolak undangan Rio, semata - mata untuk menghargai suaminya yang tidak menyukai dirinya berdekatan dengan pria lain apalagi pria itu mantannya.
****
Empat bulan berlalu.
Selesai melakukan kegiatan panasnya seperti biasa, Zein selalu mengecup seluruh wajah istri kesayangannya dengan penuh kasih.
"Terima kasih sayang," ucap Zein lalu menarik tubuh polos Zoya kedalam pelukannya. Zoya hanya tersenyum, terlalu lelah untuk menjawab.
"Sayang, apakah di sini sudah ada makhluk lain?" tanya Zein seraya mengusap perut putih mulus yang masih rata itu.
"Entahlah," ucap Zoya.
"Aku harap perut ini segera ada isinya, aku ingin kita segera memiliki anak," ucap Zein.
"Kamu ingin kita cepat memiliki anak?" tanya Zoya.
"Iya, aku sangat merindukan suasana rumah yang ramai dengan anak - anak, aku ingin memiliki banyak anak agar rumah kita ramai, aku tidak ingin seperti diriku yang hanya anak tunggal tidak memiliki saudara kandung." Zein tersenyum membayangkan dia dan Zoya menggendong anak kecil.
"Iya mudah - mudahan saja impian kita terwujud. Mudah - mudahan aku segera mengandung."
"Sepertinya aku harus bekerja keras agar kamu cepat hamil," ucap Zein sambil menyeringai, lalu dia kembali menin*dih Zoya.
*****
Keesokan paginya.
"Mas, tolong ambilkan pembalut di laci!" Zoya berteriak dari kamar mandi.
"Iya," sahut Zein lalu dia mengambil pembalut tersebut dan menyerahkannya kepada Zoya.
"Kamu datang bulan?" tanya Zein kepada istrinya yang baru keluar dari kamar mandi.
" Iya." Zoya mengangguk.
"Yah,berarti kerja kerasku masih belum membuahkan hasil dong," ucap Zein dengan raut kecewa.
"Sabar ya, Mas sayang, masih banyak waktu," ucap Zoya.
"Iya, manusia hanya berencana dan berusaha, selebihnya kita serahkan kepada yang di Atas," ucap Zein sambil mengecup bibir Zoya sekilas.
Dua bulan kemudian.
Uwek! Uwek!
Zoya memuntahkan cairan dari dalam perutnya pagi itu. Zoya lemas dan pusing.
Zein yang mendengar istrinya muntah - muntah segera menyusul ke kamar mandi.
" Sayang kamu kenapa? tanya Zein sambil memijat tengkuk Zoya.
"Tidak tahu, waktu bangun tidur aku merasa mual dan pusing, sepertinya aku masuk angin," ucap Zoya seraya membersihkan mulutnya.
"Kita ke dokter ya," ucap Zein sambil memapah Zoya keluar dari kamar mandi.
"Tidak perlu Mas, aku hanya ingin istirahat saja," ucap Zoya seraya merebahkan tubuhnya di kasur.
"Baiklah, kamu tidur aja, nanti aku buatkan teh hangat, " ucap Zein lalu dia pergi ke dapur untuk membuat teh.
Tak berapa lama Zein kembali ke kamar dengan satu gelas teh hangat, lalu menyerahkannya kepada Zoya untuk diminum.
"Sudah baikan?" tanya Zein penuh perhatian.
"Sudah mendingan, mualnya berkurang," ucap Zoya.
"Aku mau masak nasi goreng untuk sarapan," ucap Zein.
"Biar aku saja Mas," ucap Zoya seraya akan beranjak.
"Sudah kamu tiduran aja dulu, nanti kalau sudah matang aku panggil," ucap Zein sambil menahan tangan Zoya agar tetap di tempat.
Zoya mengangguk.
Zein pergi ke dapur dengan maksud akan membuat nasi goreng untuk dirinya dan Zoya.
Saat dia sedang menumis bumbu, terdengar Zoya kembali muntah - muntah di kamar mandi.
Zein segera mematikan kompor lalu bergegas menyusul Zoya.
"Sayang, kamu muntah - muntah lagi?" tanya Zein sambil memijat tengkuk Zoya.
"Tiba - tiba aku mual saat mencium aroma bawang," ucap Zoya. Lalu keluar dari kamar mandi yang diikuti oleh Zein. Lalu mereka duduk di bibir ranjang.
"Udah kita ke dokter saja! Aku takut kamu kenapa - kenapa," ucap Zein.
"Tidak perlu Mas, aku baik - baik saja!" tegas Zoya.
"Tapi kamu muntah-muntah terus, sayang," ucap Zein sambil mengelus punggung Zoya.
"Mas,.. Hmm," Zoya sedikit ragu untuk mengucapkan sesuatu.
"Ada apa sayang? Katakanlah!" ucap Zein.
"Belikan aku alat tes kehamilan! Dan belikan aku roti dan mie instan aku lagi kepengen makan itu.
" Hah!? Alat tes kehamilan? "