
Bab 37
Dengan terpaksa, Zein memakan mie ayam itu agar istrinya tidak cemberut lagi, sebelumnya sempat menolak tapi istrinya itu beralasan jika anak yang ada di dalam kandungan yang menginginkannya. Jangan ditanya seperti apa rasa dari mie ayam itu, perpaduan antara rasa kecap yang tajam dan pedas.
Zoya tersenyum sumringah melihat suaminya memakan mie ayam itu.
Setelah selesai makan mie ayam, mereka langsung pulang menuju rumah.
*****
Selama dalam perjalanan Zein hanya diam saja. Zein masih kesal karena harus memakan mie ayam yang rasanya aneh itu, ditambah dia harus memakan mie ayam punyanya sendiri karena Zoya yang menyuruhnya, dengan alasan tidak boleh membuang - buang makanan. Zein kekenyangan, perutnya seperti mau meledak.
Sesampai di rumah, Zein masih diam saja. Zoya sedih karena Zein bersikap dingin kepadanya.
"Kamu marah sama aku gara - gara mie ayam?" tanya Zoya dengan mata berkaca - kaca, entah mengapa Zoya ingin menangis.
"Tidak sayang!" bohong Zein. Terpaksa dia berbohong karena dia melihat istrinya itu hendak menangis.
"Bohong! Kamu pasti marah!" ketus Zoya lalu dia menangis terisak - isak kayak anak kecil.
Zein heran dengan tingkah istrinya itu, baru kali ini dia melihat istrinya menangis seperti anak kecil. Zein berpikir mungkin ini bawaan hamil.
"Tidak sayang, beneran aku tidak marah," ucap Zein sambil memeluk Zoya. Zein mengusap - usap punggung istrinya itu agar istrinya berhenti menangis.
"Tapi kamu diam saja." sungut Zoya.
"Aku diam karena perutku kekenyangan dan tidak nyaman," sahut Zein.
"Oh, mungkin gara - gara kebanyakan makan mie ayam, maaf ya, itu semua bukan keinginanku tapi keinginan dedek bayinya," sesal Zoya.
"Sudah tidak apa - apa, ayo kita tidur kamu harus banyak istirahat agar dedek bayinya tumbuh dengan baik," ucap Zein sambil merangkul bahu Zoya dan mengajaknya ke kamar.
"Beneran kamu tidak marah lagi?" tanya Zoya memastikan.
"Tidak sayang," sahut Zein.
"Kalau memang kamu tidak marah, gendong aku!" rengek Zoya dengan manja.
Zein terkekeh, Zein merasa lucu dengan tingkah istrinya itu, Zoya berubah menjadi cengeng dan manja.
"Aneh - aneh saja wanita hamil itu," gumam Zein dalam hati.
Zein menggendong istrinya ala-ala bridal ke kamar, Zein merebahkan tubuh istrinya dengan perlahan di kasur.
Tetapi tangan Zoya tidak mau lepas dari leher Zein. Tanganya masih merangkul leher pria itu.
Cup! Zoya mengecup bibir Zein.
"Aku menginginkanya," ucap Zoya terbata.
"Menginginkan apa?" tanya Zein bingung.
"Ish, itu, aku ingin itu sama kamu," jawab Zoya tersipu.
"Itu apa?" goda Zein.
Cup! Kembali Zoya mengecup bibir suaminya itu.
Zein tersenyum, lalu dia meraup bibir istrinya itu dengan lembut.
Bibir itu bertaut satu sama lain, menuntut untuk dipuaskan.
Zein melakukan penyatuan dengan hati - hati meskipun menggebu - gebu. Zein merasa ada yang harus dilindungi di dalam sana.
Cukup lama mereka bertarung, karena Zoya memintanya, entah mengapa Zoya begitu ber*ga*irah, mungkin bawaan hamil kali ya?
Setelah sama - sama mencapai nirwana akhirnya pasangan itu terlelap dengan saling merangkul.
Keesokan harinya.
Uhek.. Uhek. Uwek
Pagi itu seperti biasa Zoya memuntahkan isi perutnya, dengan sabar Zein memijat tengkuk Zoya.
Setelah itu Zein membuatkan susu hamil untuk Zoya. Zein begitu memperhatikan istrinya, dia benar - benar menjadi suami siaga.
Sudah seminggu Zoya mengalami yang namanya Morning sickness, dia tidak bisa makan nasi, jika dipaksakan maka akan muntah. Tapi beruntung masih bisa makan susu, roti dan biskuit.
Dengan sabar Zein menemani Zoya yang dalam keadaan itu. memenuhi semua keinginan Zoya saat ngidam.
Di kehamilannya ini Zoya agak rewel, terkadang tidak mau didekati Zein dan akan muntah jika Zein memaksa mendekat, terkadang juga menempel seperti perangko pada Zein.
Zoya lebih suka makan yang asam - asam seperti mangga muda, kedondong dan apel hijau yang kecut. Dia juga lebih suka memakan olahan mie.
Zoya lebih sensitif, mudah menangis dan manja, emosinya mudah berubah - ubah.
Beruntung Zoya memiliki suami yang sabar tidak pernah mengeluh walaupun terkadang Zoya sangat menyebalkan.