My Husband's Secret

My Husband's Secret
Bagian Satu



Hari ini adalah tepat anniversary pernikahan kami yang kedua. Dan kini aku tengah mengandung anak kami yang pertama. Kandunganku baru berusia 5 bulan. Awalnya aku sangat bahagia. Aku pikir suamiku juga begitu. Aku kira dia akan mengajakku dinner, atau jalan-jalan ke mall, nonton bioskop, atau memberiku hadiah yang romantis. Namun nyatanya hadiah yang kuterima tak sesuai dengan ekspektasiku.


Namaku Kalina. Aku menikah dengan suamiku, Arya, ketika usiaku 23 tahun. Saat itu aku baru saja menyelesaikan pendidikan S1 ku. Pada waktu itu aku dan Mamaku sedang berjalan-jalan ke mall, dan tak sengaja bertemu dengan kawan lama Mama, yaitu Mamanya Arya. Kebetulan juga Arya sedang mengantar Mamanya jalan-jalan ke mall juga. Jadilah kita berempat mampir disebuah cafe untuk sekedar mengobrol sebentar sambil menemani Mama reuni dengan Mamanya Arya. Mereka dulu adalah teman SMA sampai kuliah. Setelah lulus mereka berpisah, karena Mamanya Arya menikah dan harus meninggalkan kota Surabaya ini. Lalu mereka kehilangan kontak selama berpuluh-puluh tahun. Dan baru bertemu sekarang, karena Papanya Arya sudah pindah tugas di Surabaya lagi.


Aku hanya mendengarkan mereka ngobrol, sambil sesekali ikutan tertawa. Suasana agak canggung karena dihadapanku ada seorang manusia tampan, putih, bersih, berhidung mancung, sedikit jenggot tipis, alisnya pun tebal, mata elang. Sungguh baru kutemui pria perfect seperti ini. Penilaianku 95% untuk fisiknya. Tapi aku tak tahu sifat dan perilakunya bagaimana. Sedari tadi dia juga hanya diam saja, kadang sesekali menatapku. Tatapannya sungguh mematikan. Maklumlah, aku belum pernah merasakan bagaimana punya kekasih. Aku hanya seorang pengagum rahasia seorang dosen dikampusku. Dia seorang duda, belum memiliki anak, karena istrinya meninggal dunia ketika istrinya sedang hamil, tampan juga, lebih ke macho sih, dia agak pendiam sih. Tapi ketika sedang mengajar dia memang galak dan terkadang sadis. Namun seolah-olah dia menjadikanku murid spesialnya. Apapun dia selalu meminta tolong kepadaku. Dia bisa ramah dan tersenyum kepadaku. Sejak saat itulah aku mulai menyukainya. Namun semua itu hanya bisa kupendam. Sampai dihari kelulusanku, akhirnya aku mulai menyerah. Karena pada saat itu aku melihatnya merangkul seorang gadis, entah jurusan apa aku sampai lupa. Gadis itu juga sedang wisuda berbarengan denganku. Aku sempat sedih, namun aku ingin melupakannya. Aku sama sekali tak bertegur sapa dengannya mulai saat itu, meskipun dia sempat mengucapkan selamat kepadaku. Ah ternyata dia memiliki gadis idaman di kampus ini, gumamku dalam hati.


Kembali lagi ke Arya.


"Ini anakmu kah jeng? Tampan sekali..." Seru Mama mengamati wajah Arya. Mamaku aja terpesona, apalagi aku. Andaikan dia jodohku ya Tuhan.


"Iya jeng, ini Arya, anak pertamaku, dia ini seorang dokter kandungan lho..." Mama Anita menceritakan beberapa hal tentang Arya.


Wah hebat ya, semuda ini udah jadi dokter. Kalau aku jadi istrinya dan hamil nggak perlu repot-repot nyari dokter kandungan. Aku terkekeh sendiri dalam hati.


Bertemu kawan lama , akhirnya lupa tujuan awal ke mall mau ngapain. Padahal sebenarnya Mama mau nyari tas yang katanya limited edition. Tapi nggak jadi. Akhirnya malah mojok dicafe begini.


Obrolan mereka agak sedikit membosankan, membuatku ingin segera pulang. Tapi pemandangan indah ciptaan Tuhan didepanku sama sekali tak membuatku bosan. Aku menyeruput coffe Latte, sambil memainkan ponselku. Sebenarnya sayang sekali cowok tampan didepanku dianggurin, tapi aku pura-pura cuek aja deh.


"Gimana Kalina?" tanya Mama. Aku menatap Mama bingung. Kenapa nih, ada apa?


"Aduh kamu dengerin Mamanya Arya ngomong nggak sih? Ngelamun aja sih kamu..." Mama mulai mengomel. Aku mendesah pelan.


"Maaf Ma,"


"Kamu ini... Mamanya Arya sedang serius ngomong sama kamu.." Aku menatap Mamanya Arya, dan juga Arya bergantian. Apa barusan aku membuat kesalahan besar, kenapa tatapan mereka jadi begitu. Gara-gara kebiasaan melamun sih. Gerutuku dalam hati.


"Nggak papa jeng, mungkin sedang banyak fikiran..." kata Mamanya Arya mencairkan suasana. Mama menyenggol sikutku.


"Maaf tante tadi mau bicara apa sama Kalina?" Aku menyeruput Coffe Latte ku lagi.


"Jadi begini, kebetulan kan kalian berdua masih single, gimana kalau kalian berdua menikah?"