My Husband's Secret

My Husband's Secret
Bagian Empat



"Kamu biasanya jalan-jalan kemana?" Tanya Arya membuyarkan lamunanku. Dia menolehku sekilas.


"Aku sih paling cuma ke mall sama Mama, kadang sama Aira, kalau enggak ya ke toko buku..." sahutku. Arya menyunggingkan senyum.


"Belum pernah lihat pemandangan alam?" tanya Arya lagi.


"Belum, kalau pantai sih udah, dulu waktu SMA, hehe..."


"Kalau aku sih lebih suka pemandangan alam diluar sana... rasanya sejuk, bikin pikiran jadi fresh, dan juga hati damai..." begitulah penuturan dari Arya. Aku hanya manggut-manggut.


"Terus kita mau kemana sekarang?" Tanyaku penasaran. Jangan-jangan aku mau diajak kehutan. Aku bergidik ngeri. Arya menoleh kearahku, lalu tertawa terbahak. Aku mengernyitkan dahiku, kenapa juga dia tertawa. Apa dia tahu apa yang baru saja aku pikirkan. Huh.


"Rahasia... Yang jelas kita nggak akan ke mall..." Sahut Arya.


"Apa masih jauh?" Penasaran iya. Siapa tahu dia keceplosan ngomong gitu.


"Mmm...kurang lebih satu jam lagi," Arya melihat arloji dipergelangan tangannya. Aku merengut seketika. Pasti jauh sekali, dan akan terasa capek. Gumamku.


"Tidurlah dulu, nanti kubangunkan jika sudah sampai." Aku bersorak dalam hati. Tapi sebisa mungkin aku memasang raut wajah yang biasa saja.


"Ah iya..."


Gimana bisa tidur coba, kalau pergi sama cowok tampan begini. Baru juga kenal kemarin, dan sekarang udah diajak jalan-jalan. Jujur sih, aku belum pernah jalan-jalan sejauh ini.


Diam-diam aku mengamatinya. Cowok perfect kayak dia, masa sih belum punya pacar. Kalaupun belum, pasti banyak banget cewek yang mau antri sama dia. Apalagi pasien dirumah sakit. Atau suster-suster disana, tidak mungkin kalau tak terpesona. Gumamku dalam hati.


"Kenapa nglihatin aku sebegitunya?" Sahut Arya, membuatku gugup lagi. Ah ketahuan deh.


"Enggak kok.. aku cuma penasaran, masa cowok kayak kamu belum punya pacar sih?" Daripada aku menerka-nerka sendiri, lebih baik bertanya langsung saja.


Arya tersenyum tipis.


"Belum ada yang cocok... Tapi sebentar lagi aku akan punya istri lohh..."


"Memang kamu sudah merasa cocok denganku?" Aku bertanya ragu-ragu. Dia hanya tersenyum. Aku jadi bingung dan gugup.


"Yahh.. Aku cuma merasa kalau pilihan Mamaku pasti yang terbaik.. Cocok enggaknya kita lihat saja nanti..." Kata Arya menatapku sekilas, lalu kembali fokus menyetir. Aku hanya mengangguk tanda setuju.


Terkadang aku merasa dia terlalu sempurna untukku. Aku minder, dia terlalu perfect, sedangkan aku masih masuk kategori cewek biasa-biasa saja, nggak terlalu cantik tapi juga nggak terlalu jelek. Tubuhku memang proporsional. Tidak gemuk dan tidak kurus. Hanya saja aku jarang berinteraksi dengan laki-laki sedekat ini. Apalagi jalan berdua. Biasanya kalau dikampus aku ngobrol sama cowok pun ketika sedang kumpul sama teman-teman cewek yang lain.


Kupandangi jendela kaca mobil. Sepertinya dia benar-benar mau membawaku ke hutan. Buktinya banyak sekali pohon-pohon berjajar rapi sepanjang jalan. Apa dia mau melakukan sesuatu yang berbahaya denganku di hutan. Astaga. Tapi kelihatannya dia orang baik. Tak mungkin melakukan hal seperti itu. Aissh tiba-tiba fikiran kotor merasuki otakku.


"Kamu dulunya kuliah dikampus mana?" Daripada berfikir yang aneh-aneh, lebih baik aku ngajakin dia ngobrol saja deh.


"Ohh, itu aku di Universitas Airlangga..." Sahut Arya.


"Ahh sepertinya temanku juga disitu, namanya Aira... Umurnya sama denganku, jadi mungkin dia adik kelasmu, jurusan kedokteran juga..." Aku mencoba mengingat-ingat. Sepertinya Aira pernah mengatakan kuliah dikampus tersebut.


Arya tak juga menjawab pertanyaanku. Aku meliriknya sekilas.


"Hey kenapa? " Aku masih menunggu jawabannya. Sepertinya dia melamun atau sedang memikirkan sesuatu.


"Oh Aira ya? Sepertinya banyak juga sih dikampus yang namanya Aira... hehe. Aira yang mana?"


"Aira Cantika Putri..."


Arya menoleh sekilas kearahku. Tatapan matanya sedikit aneh. Lalu ia kembali fokus melihat depan.


"Nggak kenal..." Sahut Arya pelan.


Padahal Aira termasuk cewek cantik menurutku. Siapa saja pasti terpesona melihatnya. Pikirku.


*Edit edit edit, karena ternyata ada naskah yang ke skip, jadinya nggak nyambung, dan setelah saya membuka file naskah yang dulu tersimpan, ternyata isi file nya hilang... Ngulang lagi deh... Hehehe