
Episode 42
"Assalamualaikum," Bu Mira yang baru datang siang itu mengucap salam.
"Waalaikumsalam," serempak mereka menjawab.
"Eh, Uty Batu datang," seru Zein senang.
"Maaf ya, Uty baru sempat datang sekarang," ucap Bu Mira lalu menyalami semua orang yang berada di situ. Bu Mira baru sempat datang dikarenakan sedang panen yang tidak bisa ia tinggalkan.
Semua tampak sangat bahagia dengan kehadiran bayi mungil itu tanpa terkecuali.
Kedua nenek itu tampak berebut ingin menggendong cucu baru mereka. Semua orang geleng - geleng kepala dengan tingkah keduanya, tidak ada satu pun yang ingin mengalah.
"Bu, jangan berebut begitu, gantian saja. Semua pasti kebagian gendong, jangan khawatir masih banyak waktu," ujar Zein kepada ibunya seraya terkekeh.
Saat sedang asyik bercengkrama, tiba - tiba handphone papa berdering, papa pun mengangkatnya.
"Ya halo?" (papa)
"Share lokasi!" (penelpon)
"Baik," (papa)
Setelah itu papa menutup panggilan itu dan mulai mengetik sesuatu di ponselnya.
"Siapa pa?" tanya mama penasaran.
"Roni dan Wita, katanya ingin menjenguk cucu kita," jawab papa.
Mendengar jawaban papa, mendadak raut wajah mama berubah masam.
Papa bisa melihat perubahan mama itu, lalu dia mengajak mama keluar rumah dengan alasan akan menunggu tamu di depan. Lalu papa mengajak mama duduk di teras.
"Ma, mama masih tidak suka sama Roni dan Wita?" tanya papa sambil menoleh pada wanita yang masih terlihat cantik itu walaupun sudah punya cucu dua.
"Mereka berdua itu mengingatkan mama pada istri mudanya Papa," ketus mama.
"Ma, sudahlah, lupakan saja semua, jangan menyimpan rasa kesal kepada mereka, lagian Papa sama Melly sudah bercerai," ucap papa dengan raut wajah datarnya.
"Bercerai? Kok bisa? Bukannya Papa cinta mati sama perempuan itu?" tanya mama heran. Sedangkan dalam hati mama menyimpan rasa suka mendengar pengakuan papa itu.
"Iya, dia mengkhianati Papa. Dia berselingkuh dengan pemuda yang lebih muda dari Papa." Papa mengatakannya dengan rahang yang mengeras.
"Lantas? Setelah Bercerai dari Melly, apakah kamu akan mencari istri muda lagi?" selidik mama.
Mama tersenyum tipis mendengar perkataan papa. "Iya mudah - mudahan saja Papa tidak kepincut lagi dengan seorang wanita, aku juga sudah lelah berbagi suami dengan wanita lain," ucap mama.
Papa janji, untuk kedepannya hanya Mama seorang yang menjadi istri Papa, di sisa umur kita, Papa ingin menghabiskan waktu dengan Mama dengan mengurus cucu - cucu kita," ucap papa.
"Alhamdulillah semoga saja," sahut mama.
Saat mereka sedang asyik bercengkrama tiba - tiba terdengar bunyi klakson mobil.
Netra mereka langsung menuju ke arah suara klakson tersebut.
"Sepertinya itu Roni dan istrinya," ucap papa.
Lalu papa membukakan pintu pagar untuk mereka.
"Mobilnya diparkir di luar saja! " seru papa kepada tamunya.
Setelah memarkirkan mobilnya, Roni dan Wita turun dari mobil. Tidak hanya mereka yang berkunjung tapi Dion juga ikut.
Mama dan papa mempersilahkan mereka masuk dan langsung menuju ke ruang di mana bayi berada.
Setelah mereka bersalaman dengan orang - orang yang ada di situ. Mereka pun duduk di kursi. Berhubung kursi tidak cukup, Zetta, Ardy dan Attira mengalah duduk - duduk di teras.
Wita mengambil Yaya dari gendongan Bu Mira. "Wah cantik sekali bayi ini, siapa namanya?" tanya Wita dengan mata berbinar. Sebenarnya Wita iri dengan medina yang sudah memiliki cucu dua sedangkan dirinya belum punya.
"Panggil saja Yaya, Oma, namanya Zeinya" sahut Zoya
"Wah, Yaya kamu lucu sekali, ini Oma bawain hadiah," ucap Wita sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Zoy, ini tante belikan seperangkat perhiasan bayi untuk Yaya," ucap Wita sambil menyerahkan kotak perhiasan itu kepada Zoya.
"Wah, terima kasih, Oma, kok repot - repot," ucap Zoya lalu menerimanya dan menyerahkan kotak perhiasan itu kepada suaminya untuk disimpan di kamar.
"Zoy, jika kamu punya teman seorang gadis , kenalkan sama anak tante dong," ucap Wita sambil melirik pada anak laki - laki semata wayangnya.
"Duh, Mama jangan malu - maluin dong, kayak Dion gak laku saja," rengek Dion.
"Memang kamu ini, sampai umur segini masih aja betah sendirian, belum pernah sekalipun kamu mengenalkan seorang gadis sama mama, bagimana Mama mau cepat punya cucu? Kalau kamu seperti itu terus," cibir mama. Semua orang tergelak mendengar perkataan Wita.
"Ma,!" Dion merengek, sungguh dia sangat malu mamanya berkata seperti itu. Dia merasa terpojok.
Assalamualaikum!
Saat mereka sedang asyik menertawakan Dion, seseorang dengan suara cempreng mengucapkan salam.