
Bab 30
Untuk yang kedua kalinya, Zein dan Zoya duduk di pelaminan, bedanya sekarang berada di kediaman mempelai laki - laki.
Prosesi "Ngunduh Mantu" pun berjalan dengan lancar. Keluarga Zoya pun menikmati prosesi itu. Pesta di gelar cukup meriah dengan dekorasi yang megah. Dekorasi menggunakan bunga - bunga asli yang harumnya semerbak memenuhi ruangan itu.
Banyak tamu yang berdatangan hanya untuk sekedar mengucapkan selamat dan memberi hadiah kepada kedua mempelai.
Zoya sangat cantik mengenakan kebaya beludru hitam modern dipadupadankan dengan jarik batik putih yang elegan. Kepalanya disanggul menggunakan adat jawa.
Sedangkan Zein sangat gagah dan tampan mengenakan beskap beludru hitam dengan bawahan jarik batik senada dengan yang dikenakan Zoya. Di pinggangnya terselip keris berhiaskan melati asli. Kepalanya mengenakan blangkon batik warna putih silver senada dengan bawahannya.
Perhatian Zoya tersita saat melihat sepasang suami istri dengan balita berusia sekitar satu tahun berada di gendongan sang ayah.
Pasangan suami istri itu mendekat kepada Zoya dan Zein dengan maksud memberi selamat kepada mereka.
"Selamat Ya, Zein!" ucap wanita berparas cantik seumuran dengan Zein.
"Terima kasih Hana, apa ini suami kamu?" tanya Zein.
" Iya, kenalin suami aku, Mahesa!" Wanita itu memperkenalkan suaminya.
Zein dan Mahesa pun bersalaman.
"Oh iya, kenalin ini istri aku, Zoya. " Zein memperkenalkan Zoya kepada Hana sambil merangkul pinggang Zoya dengan mesra.
"Sayang kenalin, ini Hana teman aku dari kecil," ucap Zein kepada Zoya.
Zoya dan Hana pun bersalaman dan saling melempar senyum. Setelah itu Hana dan suaminya itu meninggalkan pelaminan untuk menikmati hidangan pesta.
Ada yang mengganjal di hati Zoya, Zoya merasa tidak tenang dengan kehadiran Hana, Zoya bisa merasakan perubahan suaminya itu. Semenjak kehadiran Hana di pesta itu, Zein jadi sangat pendiam.
Zoya memergoki Zein sedang menatap ke arah Hana dengan tatapan sulit diartikan. Tatapan Zein kepada wanita itu sangat berbeda dibanding dengan tamu wanita lainnya. Tatapan Zein begitu dingin, nanar, sendu bercampur menjadi satu.
Tetapi, Zoya berusaha menyembunyikan kegelisahannya di balik senyuman. Dia berusaha tidak terlalu mempedulikan perubahan Zein. Zoya menganggap itu hanya perasaannya saja.
Keluarga Zoya juga sudah kembali ke hotel dan sekalian berpamitan karena besok sudah kembali ke Malang.
Tinggallah ibu dan sepasang suami istri baru itu sedang duduk bersandar sekedar meluruskan punggung.
"Kalian beristirahatlah di kamar!" titah ibu.
"Baiklah Bu, Ibu juga beristirahatlah!" ucap Zein, lalu Zein mengajak istrinya ke kamar.
Malam itu tidak ada yang dilakukan oleh pengantin itu, mungkin terlalu lelah. Setelah membersihkan diri mereka langsung tertidur dengan saling berpelukan.
Keesokan harinya, Zein dan Zoya berpamitan kepada Ibu.
"Bu, kami pagi ini juga kembali ke Malang," ucap Zein.
"Lho, kok buru - buru pulang? Kalian tidak lelah? Apa tidak ingin kalian jalan - jalan terlebih dahulu?" cecar ibu.
"Masih banyak waktu Bu, kapan - kapan saja kita jalan - jalannya. Kami sudah seminggu meninggalkan rumah dan pekerjaan, sudah waktunya kami kembali," terang Zein.
"Kita akan sering - sering berkunjung ke sini Bu," Zoya menimpali.
"Baiklah kalau begitu, tapi kalian sering - seringlah mengunjungi ibu," pinta Ibu.
"Tentu dong Bu," sahut Zein.
Pagi itu juga Zein dan Zoya kembali ke Malang. Ibu Mira membawakan banyak oleh - oleh untuk mereka.
Jok belakang penuh dengan barang - barang yang ibu berikan. Ada beras, buah - buahan, sayur mayur, kue-kue, snack dan banyak lagi, seperti mau pindahan saja.
"Hati - hati di jalan ya!" ucap ibu dengan berat hati.
"Ya Bu," ucap mereka berbarengan.
Setelah mencium tangan ibu dan memeluknya mereka pun meninggalkan kediaman ibu.