My Husband's Secret

My Husband's Secret
Bab 45



Bab 45


Segera Zein ke kamar mandi untuk membersihkan sisa - sisa per*cintaan dengan istrinya. 


Setelah itu ia bergegas menggendong bayi Yaya. Ditimangnya penuh kasih agar putrinya itu kembali tidur. 


Setelah putrinya kembali tidur ia pun meletakkannya kembali di box bayi. 


Namun, baru saja diletakan bayi Yaya sudah menangis lagi. Akhirnya ia pun kembali menggendongnya. 


Sedangkan Zoya baru keluar dari kamar mandi. "Kanapa Mas, gak mau di letakkan di box ya?" tanyanya seraya mengambil alih bayi Yaya dari Zein. 


"Biar aku nenenin aja," imbuhnya. 


Deg! Tiba - tiba wanita yang sedang me*nyusui itu mengingat sesuatu. 


"Mas, serunya!" dengan raut khawatir. 


"Kenapa sayang?" tanya Zein heran. 


"Aku lupa kalau aku belum KB," Zoya panik. 


"Emang harus KB?" tanya Zein dengan santai. 


"Ish, serius nih, bisa - bisa aku hamil lagi!" 


"Memangnya kenapa kalau hamil lagi?" tanya Zein dengan polosnya. 


"Ya ampun Mas! Putri kita masih kecil, aku tidak boleh hamil dulu, kurang baik kalau jaraknya terlalu dekat." 


"Udah kamu tenang aja, gak usah terlalu dipikirin, lagian setahuku dengan me*nyusui itu sudah termasuk KB alami. 


"Kok kamu tahu? " tanya Zoya. 


"Aku pernah baca artikelnya di gogle," sahut Zein.


"Tapi kalau aku tetap hamil bagaimana?" 


"Tidak apa - apa, rezeki kita." 


"Tapi Yaya masih kecil, aku pasti kerepotan." 


"Bismilah aja, sayang, nanti aku akan bekerja keras, agar bisa menggaji dua baby sitter dan asisten rumah tangga supaya kamu tidak kerepotan." 


"Bukan begitu maksudnya, aku hanya masih takut melahirkan, jadi aku masih belum berani untuk hamil lagi dalam waktu dekat ini" 


"Iya, iya, mudah - mudahan kamu tidak hamil, udah jangan terlalu dipikirin," ucap Zein berusaha membuat istrinya tenang. 


"Ya udah, besok anterin aku ke dokter, aku mau konsultasi tentang KB yang cocok untukku." 


********


Tujuh bulan telah terlewati, kini bayi Yaya berumur satu tahun. Sudah mulai belajar berceloteh dan belajar berjalan meskipun tertatih. 


Dengan sabar Zein dan Zoya menemani proses pertumbuhan putrinya. 


Setelah berumur satu tahun, bayi Yaya semakin pintar. Bayi Yaya sangat dekat dengan Zein. Karena memang Zein lebih banyak menghabiskan waktu dengan putrinya, sedangkan urusan bengkel dia serahkan kepada pegawai kepercayaannya. Ia hanya sesekali saja datang ke bengkel, itu saja selalu mengajak putri semata wayangnya. 


Sedangkan Zoya, dia sibuk di toko kuenya yang semakin ramai dan banyak pelanggan. Tapi dia juga selalu mengutamakan keluarganya. 


Setiap malam, Yaya selalu tidur lebih awal dan tidak pernah terbangun, kecuali jika ingin menyusu saja. 


Degan tidurnya Yaya membuat Zein lebih leluasa untuk menggoda istrinya. 


Seperti malam ini ia berhasil membuat istrinya bertekuk lutut beberapa kali. 


"Mas, udah dong! Aku capek, besok lagi ya," rengek Zoya. 


"Sebentar lagi sayang, tanggung!" ucap Zein lalu dia me*lenguh. 


Zoya terkapar tidak berdaya dibuatnya, memang suaminya itu paling jago membuat dirinya puas sekaligus lelah. 


"Capek?" Tanya Zein


"He'em," Zoya tidak kuasa bicara banyak. 


"Maaf ya, sayang," ucap Zein sambil mengelus punggung polos itu. 


"Seminggu ke depan kamu tidak akan ada yang mengganggu, kamu bisa istirahat," imbuh Zein seraya terkekeh. 


"Maksudnya?" tanya Zoya masih dengan malasnya. 


"Besok aku, akan ke Batu, aku akan buka cabang di sana," terang Zein. 


"Kok mendadak bilangnya," ucap Zoya sambil mendudukan dirinya dengan memegang selimut di dadanya. 


"Iya, maaf aku lupa,"  ucap Zein sambil memeluk istrinya itu. 


"Makanya aku meminta banyak malam ini kepadamu, karena selama seminggu aku tidak akan mendapatkanya," imbuhnya sambil mengecup pelipis ibu dari putrinya itu. 


"Ish, dasar mesum!" Zoya terkekeh sambil memukul dada polos pria yang sedang mendekapnya itu. 


"Minta lagi ya? Boleh?" ujar Zein dengan tengilnya. 


Glek! Zoya menelan air liurnya.