
Sudah seminggu ini kita cukup dekat, bukan sebagai pasangan kekasih sih sebenarnya. Sejak saat itu Arya memang belum kesini lagi, karena dia sibuk dirumah sakit. Hampir setiap pagi dan malam ia tak lupa menyapaku walau cuma sekedar lewat Whatsapp. Pernah sih, suatu ketika jam 10 malam, disaat aku sudah tidur nyenyak, dia tiba-tiba video call. Aku terkejut dong, muka aku saat itu nggak karuan. Muka bantal. Tapi aku cuek aja sih, hehe.
Sudah seharian ini, pesanku belum juga dibalas oleh Arya. Biasanya dia sempat-semapatin balas pesanku, namun sampai malam hari tak ada jawaban. Ah mungkin dia sangat sibuk sekali hari ini pikirku. Aku masih merebahkan tubuhku diatas kasur, bergumul dengan guling dan selimut. Berkali-kali mengecek ponsel, namun tak ada satupun pesan masuk.
Ketika aku sedang memejamkan mataku, tiba-tiba suara Mama terdengar dari luar kamar, mengetuk-ngetuk pintuku. Karena aku lupa mengunci pintunya.
ceklek. Aku membuka pintu, kulihat Mama agak gugup sekarang ini.
"Ada apa sih Ma?" Tanyaku kebingungan.
"Kamu cepet ganti baju yang rapi, itu ada Arya kesini..."
"Hah Arya kesini? kok bisa... Duhh..." Aku segera berlari menuju lemari pakaian untuk mencari pakaian yang bagus.
Mama masih mengekor dibelakangku.
"Anu... Itu Arya kesini sama orang tuanya..."
Deg. Baju yang aku pegang terjatuh. Aku menoleh kearah Mama. Serius Ma? Suasana hatiku makin tak karuan. Semakin bingung mencari baju yang pas, dan isi lemari malah menjadi berantakan semua. Sampai akhirnya aku menemukan satu baju yang bagus dan sopan.
Aku segera memakainya. Tak lupa menyisir rambutku yang terurai panjang, dan memakai bedak tipis dan juga lipstik.
Aku dan Mama keluar dari kamar menuju ruang tamu. Disana sudah ada kedua orang tua Arya dan juga Arya. Jantungku dag dig dug tak karuan. Apa mereka akan membahas masalah perjodohan itu lebih lanjut. Aku tak tahu harus menjawab apa nantinya.
Tak lupa aku bersalaman dengan mereka. Dan yang membuatku terkejut adalah Papaku dirumah, dan sekarang sudah duduk diruang tamu. Aku baru tersadar kalau itu papa saat Mama tiba-tiba duduk disamping seorang pria berkumis dan berkacamata. Ternyata Papa. Pulangnya pun aku tak tahu. Kebetulan atau memang sudah direncanakan ini.
Aku duduk disamping Mama. Tak berapa lama kemudian Bi Sumi membawakan beberapa gelas teh dan camilan, menaruhnya di meja dengan hati-hati. Tak lupa mempersilakan para tamu untuk mencicipinya.
Setelah obrolan basa-basi kami, dan juga minum teh, nampaknya akan terjadi pembicaraan yang cukup serius. Sedari tadi aku hanya tersenyum, karena gugup dan juga aku tak berani berkata-kata, selain ditanya aku tak akan mengatakan apapun.
"Ekhm... Jadi begini Pak Adi Sanjaya, kedatangan kami sekeluarga kemari, selain bersilaturahmi juga ada maksut tertentu... Saya mewakili anak saya, Arya, ingin melamar Putri bapak, Kalina untuk menjadi istrinya Arya.... " Kata Pak Anggara, ayah Arya.
"Oh jadi begitu..." Papa melirik sebentar kearahku. Aku menunduk diam malu, karena wajahku mungkin terlihat merah merona. Aku tak bisa menyembunyikan perasaan bahagiaku lagi. Ingin aku melompat-lompat diatas sofa, dan memeluk kedua orang tuaku. Namun itu hanyalah ilusi konyol.
"Bagaimana Pak Adi? Apakah bapak mengijinkannya?"
"Sebenarnya saya sudah mendengar sedikit tentang Arya dari istri saya, kalau saya sih setuju-setuju saja, namun yang akan menjalani kedepannya kan adalah Kalina... Jadi bagaimana menurutmu Kalina?" Papa menatapku, dan juga Mama, orang tua Arya dan juga Arya.
Kenapa semua orang menatapku. Tatapan penuh harap. Terutama Arya, dia menyunggingkan sebuah senyuman. Manis sekali. Membuatku mati gaya.
Mama menyenggol lenganku, karena aku tak kunjung memberi jawaban.
"Haha mungkin Kalina masih agak terkejut..." kata Papa. Mereka semua tertawa renyah. Makin malu aja nih.
Sedetik kemudian aku mengangguk, tersenyum malu-malu. Ah menyebalkan kenapa aku pemalu sekali sih.
"Kenapa cuma mengangguk?" Bisik Mama ditelingaku.
Aku menghela nafas pelan. Kuberanikan diri bicara. Ya aku sudah memutuskannya.
"Ya. Aku mau menjadi istrinya Arya..." Kataku mantap. Disambut pelukan dari Mamaku. Dan semua yang ada diruang tamu tersenyum bahagia.
Kurasa aku tak terburu-buru kan dalam memutuskan untuk menikah. Semoga tidak.
Setelah itu Arya mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. Sudah bisa ditebak isinya adalah cincin. Entah sejak kapan dia membelinya, akupun tak tahu. Dan ketika hendak memasangkannya dijari manisku, ternyata cincinnya kebesaran. Sontak kami semua tertawa.
Ukurannya tak sesuai dengan jariku, karena Arya hanya mengira-ira saja. Mamanya Arya geleng-geleng kepala.
Akhirnya Arya sepakat untuk membeli cincin lagi, lebih tepatnya menukarnya dengan ukuran yang pas.
Dan untuk hari pernikahanku masih satu bulan lagi. Dan pasti ini akan sangat sibuk sekali.