My Husband's Secret

My Husband's Secret
Bab 11



Bab 11


Keesokan harinya, pukul 7 malam.


Zoya sudah menutup toko kuenya lebih awal karena Zein sudah menunggunya di depan toko.


"Sudah siap mas Zein?" tanya Zoya dengan senyum manisnya.


"Sudah Mbak, ayo berangkat sekarang!" ucap Zein seraya menyerahkan helm kepada Zoya.


Zoya menerima helm tersebut, dan memakainya, lalu dia menaiki motornya Zein.


Setelah Memastikan kalau Zoya sudah duduk dengan benar, Zein menyalakan kembali mesin motornya, kemudian pergi meninggalkan tempat itu menuju ke kafe hijau.


Tak berapa lama mereka telah sampai di kafe hijau, Zein memarkir motornya di area kafe, lalu mengajak Zoya masuk ke dalam kafe.


Mereka memilih tempat duduk yang paling pojok.


Suasana kafe itu cukup tenang dengan diiringi musik yang lembut mendayu - dayu. Lampu yang redup dan banyak bunga sintetis berwarna - warni menghiasi tempat itu, menambah kesan romantis.


Zein dan Zoya memesan makanan dan minuman yang sama, steak ayam dan lemon tea. Entah kenapa mereka ingin memesan makanan yang sama.


Suasana terasa kikuk dan canggung, Zein bingung harus memulai dari mana.


Sedangkan Zoya terlihat lebih santai, Zoya menikmati makanannya dengan tenang.


"Steak di sini enak ya?" ucap Zein memulai pembicaraan untuk menghilangkan rasa canggungnya.


"Iya," sahut Zoya.


"Mbak Zoya tidak ingin mencoba makanan yang lain?" Zein bertanya.


"Tidak, ini sudah cukup!" jawab Zoya.


Suasana kembali hening hanya alunan musik yang terdengar.


Zein dan Zoya telah menghabiskan makanannya.


"Mba Zoya, boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Zein dengan ragu.


"Iya silahkan!" sahut Zoya.


"Hmmmm, Mbak Zoya sudah punya pacar?" Zein bertanya dengan suara hampir tidak terdengar.


"Jadi pacar saya mau?" tanya Zein agak gugup tapi dia berusaha menutupinya.


Sesaat Zoya menatap wajah Zein dengan lekat, "Mas Zein serius?" tanya Zoya ingin memastikan.


"Saya serius Mbak Zoya! Saya tidak main - main," ucap Zein dengan tegas.


"Tapi saya tidak suka pacaran, umur saya sudah terlalu banyak untuk pacaran, saya hanya akan menjalin hubungan dengan pria yang akan berniat menikahi saya, bukan hanya menjadikan saya sebagai pacar saja," ucap Zoya dengan tegas.


"Saya juga begitu, saya mencari pacar untuk saya nikahi secepatnya," ucap Zein dengan mantap.


"Baiklah! apa sekarang kita mulai menjalin hubungan yang serius?" tanya Zoya.


"Iya, mulai sekarang kamu adalah calon istri saya," ucap Zein.


"Serius?" tanya Zoya.


"Serius!" sahut Zein.


"Yakin?" tanya Zoya lagi.


"Yakin!" jawab Zein dengan mantap.


"Fix ya, sekarang kita menjadi sepasang kekasih, masih ada waktu kalau mau mundur, " ucap Zoya.


"Tidak! Saya tidak akan mundur, saya yakin!" ucap Zein.


"Boleh aku mengajukan syarat?" tanya Zoya.


"Apa itu?" tanya Zein.


"Aku tidak ingin kita terlalu formal, aku tidak ingin dipanggil Mbak, karena aku bukan Kakakmu," ucap Zoya seraya tersenyum geli. Merasa lucu dengan kata - katanya sendiri.


"Setuju!" ucap Zein seraya menyodorkan tangan mengajak Zoya bersalaman.


Zoya menerima tangan itu, mereka bersalaman sambil saling tatap.


Zein tidak melepaskan tangan Zoya, dia masih betah menyentuh tangan halus dan lentik itu.


Zein sudah memantapkan hatinya untuk menjalin hubungan yang serius dengan Zoya.


Begitu pula sebaliknya, Zoya sudah memilih Zein untuk dijadikan pelabuhan hatinya. Tidak penting jika pertemuan mereka terbilang singkat untuk sebuah hubungan yang serius. Yang terpenting hati mereka yakin satu sama lain.