My Husband's Secret

My Husband's Secret
Bab 12



Bab 12


Satu bulan kemudian


Zein sudah memantapkan hatinya untuk melamar Zoya, bagi Zein satu bulan sangat cukup mengenal Zoya, Zein merasa sudah nyaman dengan Zoya.


Begitu juga sebaliknya, Zoya sudah yakin dengan Zein, satu bulan bersama Zein cukup membuat Zoya merasa bahagia. Zoya merasa yakin Zein laki - laki yang tepat untuknya.


Hari minggu ini Zein berencana melamar Zoya. Zein menjemput ibunya terlebih dahulu ke kota batu.


Siang hari ibunya Zein sudah berada di tempatnya Zein.


"Nak, kamu yakin akan menikah dengan gadis ini?" tanya ibu seraya memandang foto Zoya di hapenya Zein.


"Yakin Bu, Zoya gadis yang baik, pasti Ibu akan menyukainya," ujar Zein.


"Ibu sih, akan selalu menyukai pilihanmu, asalkan kamu bahagia dengannya," ucap ibu.


Zein tersenyum, "Doain ya Bu, agar lamaran hari ini berjalan lancar dan diterima oleh keluarganya Zoya."


"Pasti itu Nak, ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu."


"Terima kasih ya Bu, Ibu emang yang terbaik," ucap Zein lalu memeluk Ibunya dengan manja.


Zein sangat sayang sama ibu, karena setelah ayahnya meninggal, ibulah yang mengurus Zein sendirian. Bekerja keras agar bisa menghidupi Zein. Padahal kalau ibu mau, ibu bisa menikah lagi, tapi tidak ibu lakukan, dengan alasan ingin fokus merawat Zein.


*******


Malam hari di kediaman orang tua Zoya.


Zein dan ibunya sudah berada di kediaman orang tua Zoya.


Nampak kedua keluarga itu sedang mengobrol agak serius.


Papa Rendra juga hadir, karena sebelumnya papa Rendra dikabari Zoya jika ibunya Zein akan datang ke rumah.


"Begini Pak Rendra, maksud kedatangan kami… , kami… ingin melamar putri Bapak, " ucap ibu Mira.


Pak Rendra terdiam, sebenarnya dia ragu menyerahkan putrinya kepada Zein karena setahu Rendra, Zein dan Zoya belun lama saling mengenal, Rendra juga mengetahui jika pekerjaan Zein hanyalah seorang montir. Tapi dia juga sadar tidak mungkin menolaknya, karena semua keputusan ada ditangan putrinya.


'Iya Pa, Zoya menerimanya," ucap Zoya mantap.


Papa menghela nafas, " Baiklah Bu, jika anak saya menerimanya tidak ada alasan bagi kami untuk tidak menyetujuinya, iya kan Ma?" ucap papa, lalu beralih bertanya kepada mama.


Mama mengangguk dan tersenyum pertanda mengiyakan.


"Alhamdulillah," ucap ibu Mira senang, begitu juga dengan Zein yang merasa lega karena semua berjalan lancar.


Sesuai kesepakatan Zoya dan Zein akan menikah bulan depan.


Sebenarnya para orang tua kurang menyetujui karena menurut mereka terlalu cepat.


Tapi Zein dan Zoya berhasil meyakinkan mereka.


Zoya mengerti keadaan Zein yang berasal dari keluarga biasa saja. Jadi Zoya meminta kepada orang tuanya untuk melangsungkan pernikahan secara sederhana tapi berkesan.


Zein dan ibunya telah meninggalkan kediaman orang tua Zoya.


Tinggalah Zoya dan kedua orang tuanya sedang mengobrol.


"Zoy, papa boleh bertanya?"


"Iya, silahkan Pa,"


"Kamu benar - benar yakin akan menikah dengan Zein?" tanya papa dengan lembut.


"Yakin pa!" jawab Zoya.


"Tapi, apa dia bisa membahagiakan kamu?" Dia kan, hanya seorang montir apa bisa memenuhi kebutuhan hidup kamu? Sedangkan kamu sejak kecil sudah terbiasa hidup berkecukupan, papa selalu memastikan kamu untuk tidak kekurangan apapun, " ucap papa dengan serius.


"Tidak masalah Pa, Zoya kan, bisa cari uang sendiri, lagi pula kami akan memulainya dari awal pa, kami juga yakin kalau kami berusaha pasti kehidupan kami akan lebih baik nantinya," jawab Zoya dengan tegas.


Mama tersenyum bangga kepada putrinya, "Zoy, Mama akan selalu mendukung kamu, Mama yakin Zein adalah yang terbaik untuk kamu," ucap mama seraya merangkul Zoya.


Papa menghela nafas, "Baiklah papa hanya bisa mendoakan, semoga pernikahanmu membawa kebahagian dan keberkahan untuk kita semua.


"Aamiin," ucap mama dan Zoya berbarengan.