My Husband's Secret

My Husband's Secret
Bab 53



Bab 53


"Jahat!" Zoya memekik seraya memukul dada suaminya. Dia benar - benar marah saat ini. 


"Sayang dengerin penjelasanku sampai selesai, please!" Zein menghiba sambil menahan tangan Zoya agar berhenti memukulnya. 


Zoya terisak, air mata tidak bisa dibendung lagi. 


Zein merengkuh tubuh istrinya itu, ia mendekap wanita itu penuh kasih, berusaha menenangkannya. Tangan kokoh itu mengusap - usap punggung Zoya. 


Zoya pun hanya terdiam, dia memilih mendengarkan suaminya bicara. 


Anak kecil yang kamu lihat itu namanya Azka , dia anakku dengan Hana. Kita pernah bertemu saat resepsi pernikahan kita. 


"Kok bisa?" selak Zoya dengan wajah masam dan matanya membulat. 


Zein menghela napas panjang, lalu dia melanjutkan kembali ceritanya. 


"Awalnya aku tidak mengetahui jika Azka adalah anak kandungku, Hana sendiri tidak pernah memberitahuku jika dia hamil olehku, belakangan ini setelah suaminya meninggal baru ia cerita." 


"Aku dan Hana semenjak kecil sudah menjadi sahabat. Kemana - mana kami selalu berdua." 


"Ketika dewasa  perasaan kami berubah dari sayang sebagai sahabat menjadi saling mencintai antara wanita dan pria. Namun, sayang orang tua Hana tidak menyukaiku karena aku berasal dari keluarga yang menurut mereka tidak sederajat. 


Orang tua Hana berusaha memisahkan kami, bahkan ayahnya Hana sering mengancam akan menghancurkanku dan Ibu. Sehingga ibu pun menghalangi cinta kami, karena ibu terlanjur sakit hati dihina oleh orang tuanya Hana. 


Namun, cinta kami begitu besar sehingga aku dan Hana menjalani hubungan tanpa diketahui oleh orang tua kami.


Kami putus asa karena cinta kami tidak kunjung mendapat restu dari orang tua. Sehingga pada suatu hari, aku dan Hana melakukan hubungan yang terlarang dengan tujuan  jika Hana hamil maka hubungan kami mungkin akan direstui. 


Namun, sayang sehari setelah kami melakukan hubungan terlarang itu, Hana dikirim keluar negeri dan dinikahkan dengan pria asing oleh orang tuanya. 


Mimpi kami untuk hidup bersama hancur seketika. Semenjak itu aku dan Hana tidak pernah bertemu. Kami kehilangan  kontak selama kurang lebih dua tahun. 


Selama dua tahun itu aku sempat mengalami kesedihan yang luar biasa. Beruntung ibu selalu menghiburku dan mendampingiku di saat aku terpuruk. 


Untuk melupakan kesedihanku, akhirnya aku pergi ke malang dan akhirnya bertemu kamu. Kamu yang membuat hatiku kembali bahagia. 


"Suaminya Hana meninggal setahun yang lalu, kita juga pernah bertemu dengannya pada waktu resepsi pernikahan kita." 


"Terus, jika suaminya meninggal kamu mau balikan lagi sama dia?" Zoya mencibir. 


"Tidak sedikitpun aku kepikiran ke sana, semenjak memutuskan menikah denganmu, maka aku sudah menyingkirkan Hana dari hatiku," sahut Zein dengan tenang berusaha meyakinkan istrinya itu. 


"Terus untuk apa kamu  sering bertemu dengan dia?" sungut Zoya. 


"Ya, karena hanya Azka, Azka darah dagingku." 


"Darimana kamu begitu yakin kalau Azka adalah putramu?" 


"Hana sendiri yang mengatakannya, dan aku sendiri sudah melakukan tes DNA. Dan hasilnya dia adalah putraku." 


"Setelah suaminya meninggal lalu dia mengatakannya kepadamu, maksudnya apa?" cibir Zoya. 


"Hana putus asa, dia sakit kanker payu*dara dan dokter mengatakan umurnya tidak lama lagi, makanya aku sering ke malang hanya sekedar untuk merawat dan menjaga putraku saat Hana sedang kemoterapi," terang Zein. 


"Orang tuanya Hana kemana, sehingga harus kamu yang menjaganya?" Zoya berkata dengan nada tidak suka. 


"Orang tuanya Hana sudah meninggal dua tahun yang lalu dan juga karena aku ayahnya Azka,"  sahut Zein. 


"Sayang, aku mohon maafkan aku karena aku tidak menceritakan masa laluku kepadamu. Lagi pula aku pikir tidak penting menceritakannya. toh, aku sudah memiliki masa sekarang yang tidak bisa dibandingkan dengan masa lalu," tambahnya lagi. 


Perlahan Zoya bisa memahami dan menerima penjelasan dari suaminya itu, dia pikir semua orang memiliki masa lalu buat apa dipermasalahkan, yang terpenting masa lalu itu tidak mengganggu masa sekarang, dia akan mulai menerima masa lalu suaminya itu. 


"Aku tidak meminta kamu untuk menerima kehadiran Azka, aku hanya minta Izinkan aku untuk merawat putraku itu," Zein menghiba seraya menggenggam tangan wanitanya. 


Zoya menghela napas panjang. "Baiklah! terserah kamu saja, aku juga bukan orang yang tega memisahkan anak dengan ayahnya, aku akan berusaha menerima kehadiran putramu itu. Namun, jangan sampai kasih sayangmu berubah terhadap putri kita," ucap Zoya. 


"Terima kasih sayang! Kamu memang Istriku yang terbaik, sudah dipastikan aku tidak mungkin berubah karena Yaya juga putri kesayanganku," Zein girang bukan main, ia memeluk istrinya itu seraya menciumi seluruh wajah Zoya. 


Akhirnya pasangan itu bisa menyelesaikan permasalahan mereka. Kebahagian membuncah di dada Zein, sedangkan Zoya, dia masih harus menata hatinya kembali. Harus mempersiapkan diri menerima anak tirinya.