My Husband's Secret

My Husband's Secret
Bab 24



Bab 24


Selanjutnya, setiap hari Zein selalu minta jatah, setiap ada kesempatan jika Zein menginginkannya maka dia akan melakukanya, tidak peduli siang, pagi atau malam Zein akan meminta haknya kepada Zoya. Bagi Zein Zoya sudah seperti candu. Dalam satu hari dia bisa memintanya sampai tiga kali, yah, begitulah laki - laki kalau sudah mendapatkan kenikmatan dari seorang perempuan maka dia akan kecanduan.


Meskipun Zoya masih enggan melakukannya tapi dia tetap melayani Zein dengan baik. Meskipun Zoya hanya merasakan sakit di intinya, tapi dia tidak pernah menolak keinginan Zein untuk menjamahnya.


Terkadang Zoya putus asa karena sudah seminggu berhubungan intim, dia tidak pernah sekalipun mencapai puncak, yang ada hanya rasa sakit, perih dan ngilu meskipun sudah mulai berkurang.


Zoya berusaha mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang keluhannya itu, ia juga bertanya kepada teman - temannya yang sudah berkeluarga, pernah juga bertanya kepada Kak Zetta, namun jawabannya sama, mereka juga kebanyakan merasakan hal yang sama.


Bahkan Zoya pernah mendatangi seorang dokter, dan dokter hanya menjawab tidak apa - apa nanti lama - lama terbiasa katanya. Dokter hanya meresepkan obat pereda nyeri dan vitamin.


"Ya sudah lah, aku akan menjalaninya saja, mudah - mudahan tidak terus seperti ini," guman Zoya dalam hati.


Malam hari di kediaman Zoya dan Zein.


Zoya dan Zein baru selesai makan malam. Seperti biasa Zein selalu mencuci piring kotor setelah selesai makan. Selesai mencuci piring Zein mengajak Zoya bersantai di ruang televisi.


"Sini sayang!" Zein merebahkan kepala Zoya di pangkuannya. Dengan mesra Zein mengelus rambut dan kening Zoya.


"Besok kamu aku antar ke rumah ibu di Kota Batu, Ibu ingin mengadakan pesta untuk kita, kalau orang sana bilang namanya ngunduh mantu," ucap Zein.


"Kapan acaranya?" tanya Zoya.


"Acaranya hari sabtu depan, tapi ibu meminta kamu untuk kesana besok, untuk membantu ibu mempersiapkan segala sesuatunya, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Zein.


"Tidak apa - apa kalau itu memang permintaan ibu kamu, nanti toko aku serahkan pada Nina karyawanku," jawab Zoya.


" Tapi aku yang bakalan kenapa - kenapa, sepertinya aku sudah ketergantungan sama kamu, aku tidak bisa jauh - jauh dari kamu, tapi perintah ibu tidak terbantahkan," seloroh Zein.


Zoya terkekeh. "Hanya seminggu saja," ucapnya.


"Aku pasti akan merindukanmu, boleh aku minta hakku sebelum kamu pergi?" tanya Zein dengan menghiba.


"Minta lagi? Bukanya tadi pagi sudah?" Zoya membatin.


Sebenarnya Zoya enggan melayaninya karena takut merasakan sakit lagi, tapi Zoya ingat pesan mama, yang mengatakan tidak boleh menolak suami katanya dosa. Jadi, Zoya menyetujui keinginan suami tampannya itu.


Zein melancarkan aksinya, dengan penuh kelembutan dan hormat. Zein memperlakukan tubuh Zoya seperti sesuatu yang berharga. Zein takut tubuh itu terluka. Jadi dia melakukannya dengan lembut dan hati - hati.


Lenguhan dan Dezahan keluar dari mulut Zein. Tapi tidak dengan Zoya dia menutup mata dan mengeratkan giginya untuk menahan sakit di intinya. Zein melakukan penyatuan sampai tiga kali. Tiga kali juga Zoya menahan sakit.


*****


Pagi hari Zein mengantar Zoya ke rumah Ibu Mira di Kota Batu, dengan mengendarai mobil milik Zoya, karena Zein tidak ingin Zoya kelelahan. Tidak sampai dua jam mereka telah sampai di Kota Batu.


Ibu menyambut Zoya dan Zein dengan gembira, bahkan beberapa tetangga dekat Ibu Mira juga ikut menyambut pengantin baru itu dengan suka cita dan ramah.


"Bojomu ayu tenan Zein (istrimu cantik sekali Zein)," ucap salah satu tetangga ibu yang bernama Bu Ita.


Zoya dan Zein hanya tersenyum kecil menanggapinya.


Zein hanya sebentar di rumah ibu mira, karena ia harus segera kembali ke Kota Malang untuk membuka bengkelnya.


Dengan berat hati Zein meninggalkan Zoya. Rasanya tidak rela meninggalkan istrinya itu di rumah ibunya. Pria itu terlalu takut untuk tidak bisa menahan rindu.


"Ya ampun Zein, istrimu hanya seminggu di sini, lagipula Malang dan Batu jaraknya masih dekat, jika kamu tidak lelah kamu bisa setiap hati kemari," ucap ibu.


"Hehehe.. Baiklah Bu, Zein pulang dulu, titip Zoya ya bu, tapi mungkin selama seminggu ini Zein tidak bisa kemari karena banyak pekerjaan di bengkel," ucap Zein lalu mencium tangan ibu dengan takzim.


"Kamu tenang saja, tidak perlu khawatir," sahut ibu.


Zein beralih kepada Zoya. "Sayang kamu baik - baik ya, di sini sama ibu," ucap Zein


Zoya menganggukan kepala lalu mencium tangan suaminya itu. Zein membalasnya dengan mengecup kening Zoya. Zein pun meninggalkan kediaman ibu Mira.