
Bab 28
Dengan hati-hati, Zein merebahkan tubuh istri tercinta di sofa warna abu-abu itu.
Zein mengoleskan minyak kayu putih di sekitar hidung Zoya. Aroma minyak kayu putih menyeruak ke penciuman Zoya.
Perlahan Zoya mengerjapkan matanya.
"Mas," lirihnya.
Zein senang karena Zoya sudah sadar dari pingsannya.
"Sayang kamu tidak apa-apa? " tanya Zein dengan raut wajah khawatir.
"Tidak apa - apa Mas, aku hanya syok melihat ulat hitam besar - besar," jawab Zoya sambil bergidik ngeri membayangkan ulat besar berwarna hitam.
"Kamu takut sama ulat?" tanya Zein.
Zoya mengangguk.
"Emang setiap melihat ulat kamu pingsan?" selidik Zein.
"Tidak, juga sih, biasanya gak sampai pingsan, mungkin aku hanya lelah saja, " sahut Zoya.
"Ya udah, mulai sekarang, kamu gak usah lagi main ke kebun, " ucap Zein.
"Tidak apa-apa, Mas, yang terpenting sebisa mungkin menghindari ulat," ucap Zoya.
"Iya baiklah," ucap Zein sambil mengelus dahi Zoya yang berkeringat.
Ibu yang mendengar kabar jika menantunya pingsan di kebunnya, segera menghentikan aktivitasnya dan langsung pulang ke rumah.
Dengan tergesa - gesa ibu masuk ke rumah.
Zein! Zoya! Ibu memanggil sambil mendekat pada mereka.
"Kamu tidak apa-apa, Nak Zoya?" tanya ibu dengan raut wajah Khawatir.
"Tidak apa - apa, Bu, Zoya hanya kaget saja melihat ulat," jawab Zoya sambil mendudukan bokongnya.
"Kamu tidak pusing?" tanya ibu.
"Tidak Bu," jawab Zoya.
"Syukurlah, kalau kamu baik - baik saja nanti sore Ibu mau mengajak kamu ke suatu tempat," ucap ibu lega.
"Aku ikut, ya Bu," rengek Zein.
"Kamu tidak perlu ikut, kamu di rumah saja, untuk mempersiapkan acara sabtu besok," ucap Ibu.
Sebenarnya Zein kecewa dengan keputusan ibu yang melarang dirinya ikut, tapi benar juga, dia harus mengurus keperluan pesta di rumah.
Petang hari.
Zoya dan ibu petang itu pergi ke suatu tempat. Ibu bilang ke tempat sahabatnya ibu. Zoya mengendarai mobil milik ibu menuju tempat itu.
"Itu rumahnya, Nak," seru ibu sambil menunjuk sebuah rumah besar bercat hijau daun.
Zoya pun menepikan mobil tepat depan rumah yang ibu tunjuk.
Seorang pria membuka pintu pagar bercat hitam itu lebar -lebar, setelah tahu siapa yang datang.
"Silahkan masuk, Bu," ucap pria itu dengan ramah. Kalau dilihat dari penampilannya sepertinya orang itu tukang kebun.
Seorang wanita berumur sekitar lima puluh tahun membuka pintu dari dalam, menyambut kedatangan ibu dan Zoya.
"Ayo silahkan masuk Jeng Mira!" ucap wanita itu dengan ramah.
Setelah masuk, ibu dan Zoya dipersilahkan duduk oleh wanita itu.
"Terima kasih, Jeng Mona," ucap Ibu Mira seraya mendudukan bokongnya begitu pula dengan Zoya.
Di meja sudah tertata banyak perhiasan yang bagus - bagus
dan mewah.
Bu Mona menitah pembantunya membuat minuman untuk Ibu Mira dan Zoya.
"Ini lho, Jeng Mira, perhiasan yang Jeng Mira pesan untuk menantu Jeng Mira, silahkan dipilih, ini model terbaru dengan kualitas super," ucap Bu Mona sambil memperlihatkan perhiasan emas murni yang terdiri dari, cincin, kalung, gelang dan giwang.
"Oh, inikah menantu Jeng Mira?" tanya Bu Mona.
"Iya, Jeng, perkenalkan menantu saya namanya Zoya," ucap ibu.
"Wah, cantik sekali menantumu, Jeng, " puji Bu Mona.
Zoya dan Bu Mona pun bersalaman.
"Nak Zoya, kamu pilih yang kamu suka!" Ibu memerintah Zoya untuk memilih perhiasan yang ada di meja.
"Terserah Ibu saja,!" ucap Zoya sungkan.
"Ya sudah Jeng, saya ambil semuanya saja," ucap ibu sambil menunjuk perhiasan tersebut.
Zoya tercengang mendengar perkataan ibu, bisa-bisanya ibu mengambil tiga set perhiasan itu. Apa uang ibu sebanyak itu? sampai - sampai perhiasan semahal itu ibu memborongnya, itulah yang ada di otak Zoya.
Setelah selesai bertransaksi, ibu dan Zoya langsung pulang.
Di kediaman Ibu Mira.
"Nak Zoya, perhiasan ini untuk kamu semua, simpanlah dengan baik! Hanya itu yang bisa Ibu hadiahkan kepadamu," ucap Ibu.
Hah, Zoya tertegun, tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Untuk saya semuanya, Bu?" tanya Zoya tidak percaya.
"Iya untuk kamu semuanya, kamu suka kan? " ucap ibu dengan tegas.
"Suka banget, Bu, apa tidak terlalu banyak? Dan juga perhiasan itu sangat mahal - mahal, maksud saya ibu tidak harus memberikan semuanya kepada saya, saya jadi sungkan," ucap Zoya.
Tidak apa - apa, kamu adalah istrinya Zein, menantu saya. Kamu sudah saya anggap seperti anak sendiri, saya akan memberikan kamu yang terbaik. Semua yang Ibu miliki sekarang, nantinya akan menjadi milik Zein dan tentunya kamu," ucap ibu sambil mengelus kepala Zoya.
Zoya terharu mendengar perkataan Ibu Mira. Hampir saja dia menangis.
" Ah, mertuaku ini sangat baik, kebaikan apa yang pernah aku lakukan sehingga mendapat mertua seperti ini," ucap Zoya dalam hati.
"Terima kasih, ya Bu, Zoya juga akan berusaha menjadi menantu yang baik untuk Ibu," ucap Zoya sambil memeluk ibu.
Di sudut sana Zein tersenyum menyaksikan interaksi antara kedua wanita yang disayanginya itu.