
Bab 46
Seminggu sudah, Zein berada di Batu. Ia sangat merindukan anak dan istrinya. Walaupun mereka sering video callan tapi bagi Zein itu tidak cukup. Ia ingin segera kembali ke Malang tapi urusan di batu masih belum kelar.
Begitu juga dengan Zoya, baru seminggu tidak seranjang dengan suaminya, dia sangat kehilangan. Dia dan putrinya sangat ketergantungan kepada laki - laki itu. Rasanya seperti setahun berpisah, itu yang dirasakan Zoya.
Seminggu tidak bertemu, sudah cukup membuat dirinya kalang kabut. Rindu, sepi, kehilangan, itulah yang dirasakan dia saat ini. Yaya pun sangat rewel, seperti merasakan ketidakhadiran sang papa.
Namun, sayang, sudah seminggu tapi Zein tidak kunjung kembali juga. Pernah Zoya ingin menyusul ke Batu, akan tetapi Zein melarang dengan alasan dia masih repot. Urusan bengkelnya masih belum kelar.
"Terus kamu kapan pulang?" rengek Zoya.
"Iya sebentar lagi, ya sayang, jika semuanya sudah selesai, aku akan segera kembali, aku juga sangat merindukan kalian berdua," ucap Zein saat video callan dengan Zoya.
Papah.. Papah.. Papah, hanya itu yang bisa diucapkan Yaya saat melihat wajah papanya di ponsel. Setelah itu dia menangis histeris.
'Tuh! anakmu sangat sedih karena papanya tidak pulang - pulang." Zoya memberengut.
"Iya, sabar ya, sayang" ucap Zein, hanya itu yang bisa dia ucapkan. Sesungguhnya ia juga ingin segera bertemu dengan anak istrinya. Namun, apalah daya urusannya di Kota Batu belum selesai.
Rencana awal Zein hanya pergi satu minggu, ternyata menjadi dua minggu. Zoya semakin kesal ditambah dua hari ini suaminya tidak menghubunginya sama sekali.
Malam itu Zoya dan putrinya sudah terlelap. Tengah malam seseorang mengendap - endap memasuki rumah itu. Zoya pun terkejut saat mendengar seperti ada seseorang yang membuka pintu utama.
Jantungnya berdebar - debar, pikiran buruk menyergapnya. Dia takut ada maling yang masuk ke rumahnya.
Dia pun memberanikan diri keluar dari kamar untuk melihatnya.
Dia melihat bayangan seseorang memasuki dapur. Tambah takutlah dia.
Ceklek dia menyalakan lampu dan bersiap akan memukulkan sapu tersebut kepada orang itu.
"Sayang!" Orang itu berseru.
"Mas Zein!" pekik Zoya.
"Mas, kamu ngapain malam - malam di dapur? Tidak memberi kabar kalau mau pulang!" cecar Zoya.
"Iya maaf sayang, tadinya aku tidak ingin mengganggu kamu yang sudah terlelap. Aku ke dapur haus ingin minum," ringis Zein.
"Tapi setidaknya kabari aku kalau mau pulang malam, jantungku hampir copot aku kira kamu maling," keluh Zoya.
"Iya, maaf sayang, tadinya aku mau pulang besok, tapi aku sudah tidak sabar menunggu esok, jadinya pulang sekarang juga," sahut Zein lalu dia tanpa tedeng aling - aling langsung menubruk istrinya itu dan mengangkatnya lalu membawanya ke kamar tamu.
Setelah menutup pintu dengan kakinya, dia meletakan istrinya di kasur.
Bruk! (kira - kira begitulah bunyinya saat Zein meletakan Zoya di kasur).
"Aku merindukanmu!" ucapnya sambil mengungkung wanita itu.
"Mas, kamu mau ngapain? Sudah larut lho, ayo istirahat," ucap Zoya dan tangannya dengan lembut mendorong dada pria yang sedang mengungkungnya.
"Iya, nanti istirahatnya setelah kita berolahraga," ucap Zein dengan seringai tipis di bibirnya.
Cup! Zein mengecup seluruh wajah Zoya.
Dua minggu dia tidak menyentuh istrinya, sungguh sangat menyiksa. Hasratnya menumpuk, malam ini waktunya menyalurkannya sampai tuntas.