
My 20
Sepanjang perjalan Zoya hanya diam saja, bahkan saat belanja untuk keperluan rumah tangga saja Zoya membisu.
Zoya kesal dengan kejadian di bengkel tadi, dia masih memikirkan gadis manja itu, tapi enggan menanyakan pada Zein.
Sesampainya di rumah, Zoya segera merapikan barang - barang yang tadi dia beli di supermarket.
Zein bingung dengan tingkah Zoya yang dari tadi hanya diam saja.
"Zoya Istriku sayang, mengapa dirimu dari tadi diam saja? Adakah sesuatu yang mengganggu pikiranmu," tanya Zein dengan menggunakan kata-kata sedikit lebay.
"Zoya melirik Zein sesaat." Menurutmu? " Zoya balik bertanya.
"Ya, aku tidak tahu, aku kan bukan peramal yang bisa menebak isi hati kamu," ucap Zein sambil mengedikan bahu.
"Ck..! Dasar gak peka!" sergah Zoya.
"Duh! Istriku ini kalau lagi ngambek tambah cantik," Zein menggombal.
"Ayolah! Kenapa sih kamu itu? Dari tadi diam saja, jangan membuatku bingung, sayang!" ucap Zein.
Zoya menghela napas. "Cewek yang di bengkel itu siapa?" tanya Zoya dengan wajah masamnya.
"Oh, itu. Nora anaknya Pak Bos, eh kamu cemburu sama dia?" selidik Zein.
"Tidak! cuma heran aja, kok bisa main nemplok, udah gitu nangis lagi, apa dia itu kekasih kamu?" Zoya merajuk.
"Bukan! Dianya aja yang suka ngejar - ngejar aku, kalau gak percaya tanya saja sama pak haji (itu kan kata - katanya Si Ucup dalam serial Adit, Sopo, Jarwo) eh salah maksudnya tanya aja sama teman - teman aku di bengkel," sanggah Zein.
"Awas kalau bohong!" ancam Zoya.
"Ih, perempuan kalau cemburu suka serem," ucap Zein.
"Makanya jangan sekali - sekali bikin perempuan cemburu!" ucap Zoya.
Zein hanya terkekeh merasa lucu mendengar perkataan Zoya.
"Kamu juga jangan pernah bikin aku cemburu," ucap Zein yang tiba-tiba teringat foto Zoya dengan seorang pria.
"Yakin?" tanya Zein sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Zoya.
"Yakin!" Zoya menantang.
"Kamu tunggu di sini sebentar!" titah Zein sambil mengambil sesuatu di laci lemari yang ada di kamar.
"Nih!" Zein menyerahkan amplop panjang berwarna coklat itu.
Zoya mengernyitkan dahinya. "Apa ini?" tanya Zoya sembari menerima amplop tersebut.
Lalu Zoya membuka amplop tersebut, dia tertegun melihat isi dari amplop tersebut.
"Ini… foto lama, waktu aku masih SMA," ucap Zoya tergagap.
"Kok masih disimpan?" selidik Zein.
"Mmmh, aku sendiri lupa sama keberadaan foto ini," sahut Zoya.
"Siapa dia?" tanya Zein.
"Teman!" jawab Zoya.
"Teman kok Mesra?" desak Zein.
"Iya.. Iya.. Itu mantan aku waktu SMA, tapi udah putus pas kelulusan, aku sendiri sudah lupa sama wajahnya dia, puas?"
Zein terkekeh, senang membuat istrinya kesal. "Jangan disimpan, dibuang aja, karena aku tidak suka istriku masih menyimpan kenangan bersama pria lain," ucap Zein dengan wajah seriusnya.
"Iya.. suamiku yang tampan," ucap Zoya seraya menyobek foto itu dan membuangnya ke tong sampah.
"Makasih ya, kamu sudah memahamiku, aku juga janji untuk kedepannya aku akan selalu menjaga perasaan kamu dan tidak akan membuat kamu cemburu, yang terpenting kamu percaya sama aku," ucap Zein seraya menarik Zoya kedalam pelukannya.
Bagi Zein memeluk Zoya adalah sebuah candu karena dengan memeluk Zoya hatinya merasa tentram dan nyaman.
Begitu juga sebaliknya, Zoya merasa bahagia saat berada dalam pelukan Zein, hangat dan nyaman.