My Husband's Secret

My Husband's Secret
Bab 52



Bab 52


Zoya


Sungguh hatinya hancur melihat pemandangan di depannya itu. Ia pun tidak ingin mendengar penjelasan apapun. 


Dia tidak tahu harus kemana, tapi dia juga enggan pulang ke rumah. Namun, hati kecilnya berharap Zein mengejar dan mencarinya. 


Di sini ia tidak mengenal siapapun, kota ini termasuk asing baginya, yang dia tahu hanya rumah Bu Mira mertuanya. 


Dengan perasaan kacau ia pun melajukan mobil rental itu menuju rumah mertuanya. Dia berharap Bu Mira bisa menjelaskan apa yang terjadi. 


Beruntung Bu Mira sedang ada di rumah sehingga ia tidak perlu repot mencarinya ke kebun. 


"Assalamualaikum, Bu!" Zoya mengucap salam seraya langsung masuk rumah.


"Waalaikum salam, Nak Zoya?" jawab Ibu menyambut menantunya dengan heran. 


"Lho kamu sama siapa kesini?" selidik ibu. 


"Sendiri Bu," sahut Zoya. 


Kemudian Zoya mencium tangan Ibu dan langsung memeluk ibu. Ia pun tak kuasa menahan tangis di pelukan Bu Mira. 


Bu Mira tertegun, ia heran dengan menantunya yang tiba - tiba terisak di bahu kirinya. 


"Nak, kamu kenapa?" tanya Bu Mira sembari membawa Zoya untuk duduk di kursi yang ada di ruang tamu. 


"Bu, Mas Zein… dengan terbata ia pun menceritakan perihal suaminya. 


Ibu hanya terdiam mendengar penuturan menantunya itu. 


"Bu, siapa sebenarnya wanita dan anak laki - laki itu? Tolong ceritakan sama Zoya Bu," Zoya memohon. 


Ibu menghela napas panjang. "Nak, sebaiknya kamu menanyakan langsung kepada suamimu, karena ibu rasa lebih baik kamu tahu dari mulut suamimu sendiri bukan dari orang lain," ucap ibu seraya mengelus lembut rambut menantunya itu. 


"Jadi ibu tidak mau cerita?" tanya Zoya dengan raut kecewa. 


Ibu menggeleng. "Maafkan Ibu, biar Zein saja yang cerita. Namun, pinta ibu bicarakan baik - baik, dengarkan perkataan Zein dengan  kepala dingin dan percaya pada Zein." 


Zoya pun menuruti kata - kata ibu, setelah makan siang ia pun beristirahat di kamar Zein. 


Kamar Zein terlihat sangat rapi dan bersih, tidak ada yang menarik di kamar itu, semua nampak biasa saja. 


Saking lelahnya karena menangis akhirnya ia pun terlelap sambil memeluk guling. 


Zein


Senyuman mengembang di bibirnya, setelah melihat wanita kesayangannya tengah terlelap di kasur miliknya. 


Ia pun mendekat kepada wanita itu, setelah sebelumnya mengunci pintu terlebih dahulu. Ia ikut berbaring di sampingnya. Diciumnya dengan lembut pipi mulus, sehalus sutra itu. Ia pun memeluk wanita itu dengan erat seolah - olah takut lepas. 


Zoya terjaga karena pelukan Zein begitu erat dan menyesakan. 


"Maas!" sentaknya seraya berusaha melepaskan tangan lebar, kokoh nan hangat itu dari pinggangnya. 


Zein semakin mengeratkan pelukannya, "Sst! Jangan berteriak nanti di kiranya aku sedang melakukan KDRT kepadamu." 


"Lepasin!" pekik Zoya agak tertahan. 


Enggak! sahut Zein. 


"Pergi sana, jangan deket - deket sama aku, aku benci kamu!" sentak Zoya sambil memukul - mukul dada bidang Zein. 


"Enggak mau, sebelum kamu mendengarkan penjelasanku, aku tidak mau lepasin kamu," Keukeuh Zein. 


Zoya memberengut, ia masih kesal dan kecewa pada suaminya itu. Dia pun hanya diam. 


Sayang, maafin aku! maafin aku! karena tidak jujur dari awal, aku hanya ingin mencari waktu yang tepat untuk menceritakannya padamu. Tapi karena kamu sudah melihatnya, maka aku akan cerita sekarang juga sama kamu. 


Zein mengajak Zoya untuk duduk. Zoya pun menurut dengan wajah yang masih cemberut. 


"Anak laki - laki itu adalah anak kandungku dengan Hana," ujar Zein sembari menundukan kepala. 


Jlebb! 


Bagai ditusuk - tusuk pisau hati Zoya sakit mendengar pengakuan Zein. Giginya terkatup menahan marah. Darahnya mendidih sampai ke ubun - ubun. Terlihat dadanya naik turun. Tatapan tajam penuh amarah mengarah kepada pria di hadapannya.