My Husband's Secret

My Husband's Secret
Bab 21



Bab 21


Satu minggu setelah pernikahan , Zein dan Zoya menjalani hari - harinya dengan bahagia, Zoya sudah kembali beraktivitas di toko kuenya. Sedangkan Zein sudah membuka bengkel kecil - kecilan, dengan mengontrak rumah di sampingnya.


Bengkel yang dirintis Zein sudah memiliki pelanggan yang cukup lumayan , selama tiga hari ini selalu ramai dikunjungi sama pelanggan. Bahkan Zein sudah merekrut satu karyawan bernama Kris.


Setiap pukul empat Zein menutup bengkelnya. Begitu juga dengan Zoya setelah memiliki suami Zoya menutup toko kuenya tepat pukul empat.


Zein dan Zoya sudah sepakat, sebelum Maghrib harus sudah berada di rumah.


Seperti sore ini Zoya dan Zein sudah berada di rumah, Zoya sore ini memasak untuk makan malam.


Zein yang baru keluar dari kamar mandi menghampiri Zoya di dapur. "Kamu masak apa sayang?" tanya Zein sembari memeluk pinggang Zoya dari belakang dengan mesra.


Zoya tersenyum tipis. Dia merasa geli karena dagu Zein menggelitik ceruk lehernya.


"Aku masak chicken katsu," jawab Zoya.


"Sepertinya enak," ucap Zein sambil mengendus aroma masakan Zoya.


"Ya udah kamu duduk sana!" titah Zoya kepada Zein.


"Tapi aku pengennya meluk kamu kaya gini," rengek Zein.


"Tapi aku lagi masak, nggak bisa gerak," Zoya berucap dengan manja.


"Baiklah, tapi cium dulu! " pinta Zein sambil mengerucutkan bibirnya.


Ih, dasar! Cup! Zoya mengecup Zein.


Zein tersenyum bahagia mendapatkan apa yang dia inginkan, dengan patuh dia duduk di meja makan menunggu Zoya memasak.


Tiga puluh menit kemudian chicken katsu buatan Zoya telah terhidang beserta sausnya di meja.


Pengantin baru itu dengan lahap menghabiskan makan malamnya.


"Enak!" puji Zein.


Zoya tersipu mendapat pujian dari suaminya itu.


"Biar aku yang mencuci piring kotornya, kamu duduk saja di sana sambil nonton," ucap Zein sambil membawa piring kotor itu ke wastafel.


"Kalau gitu aku Sholat Magrib dulu ya," ucap Zoya.


"He 'em," jawab Zoya.


"Sholat berjamaah aja ya, tunggu sebentar aku selesaikan cuci piring dulu, kamu ambil wudhu duluan gih, " ucap Zein.


Zoya pun mengangguk seraya beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Selesai mencuci piring, Zein mengambil wudhu lalu menyusul Zoya ke kamar, Zoya sudah siap memakai mukena.


Pengantin baru itu untuk pertama kalinya melaksanakan sholat berjamaah, ada perasaan haru dan bahagia yang menyeruak ke dalam hati pasangan suami istri baru itu. Zoya merasa tentram mendengar Zein melantunkan bacaan Sholat, suara Zein begitu indah dan merdu.


Selesai sholat dan memanjatkan doa, Zoya mencium tangan Zein dengan takzim, Zein membalas dengan kecupan lembut penuh kasih di kening Zoya. Uh.. So sweet banget sih pasangan baru ini.


*****


Zein dan Zoya sedang bersantai di ruang televisi, ditemani kue brownies dan teh buatan Zoya.


Di ruang televisi tidak ada kursi, jadi mereka duduk di karpet. Meskipun masih terasa canggung tapi Zein selalu berusaha mencairkannya.


"Kamu sudah selesai haidnya, jadi bisa dong malam ini," ucap Zein seraya merebahkan kepalanya di paha Zoya.


"Bisa apa?" tanya Zoya dengan kikuk padahal dia mengerti apa yang dimaksud suaminya itu.


"Bisa ini! Cup!" Zein tiba - tiba merebahkan tubuh Zoya dan meni*dih Zoya di karpet.


Zein tersenyum penuh arti, tatapannya terhadap Zoya penuh harap. Dengan lembut pria itu menci*m bibir Zoya, melu*atnya secara perlahan. Zoya yang sudah terbuai dan terbawa suasana itu pun membalasnya.


Dengan mesra Zein mengecup leh*er Zoya dan menghis*pnya. Napas keduanya memburu tidak karuan, jantung mereka berdetak kencang.


Tangan Zein mengelus lembut perut halus Zoya, lalu beralih ke paha mulus Zoya, sedangkan bibirnya masih terpaut dengan bibir Zoya.


Tubuh Zoya meremang dan bergetar hebat mendapat sentuhan pria itu, tapi Zoya berusaha menahannya.


Dengan lembut Zoya mendorong tubuh Zein dari tubuhnya.


"Kenapa?" tanya Zein heran.


"Dilanjut nanti saja, Sholat Isya dulu yuk!" ajak Zoya seraya melempar senyum lembut kepada Zein.


"Ah.. Iya!" seru Zein seraya menepuk dahinya.


Mereka berdua pun beranjak untuk menunaikan Sholat Isya.