My Husband's Secret

My Husband's Secret
Episode 48



Bab 48


Cup! Zein mengecup dahi Zoya. 


"Bangun sayang! Ayo sholat subuh dulu!" ucap Zein dengan lembut membangunkan Zoya untuk sholat subuh. 


Hmm, Zoya malas untuk bangun, ia masih berat untuk membuka mata. 


Zein tersenyum menyaksikan istrinya yang enggan membuka matanya. Namun, dia tidak kehabisan akal, ia tetap berusaha membangunkan istrinya agar sholat subuh. 


"Ayo dong sayang ,bangun !sebentar lagi matahari terbit." 


Lalu dia menggelitik istrinya, masih tidak mempan. 


Cup! 


Menempelkan bibirnya, menyesapnya, menggigitnya dengan lembut, sampai istrinya itu membuka mata hampir melotot. 


"Mas!" Pekiknya kesal karena suaminya itu mempermainkan bibirnya sedemikian rupa. 


Pria itu tergelak, puas membuat istrinya terbangun. "ayo makanya bangun, kalau tidak aku akan melakukan sesuatu yang lebih dari itu, seperti tadi malam," ucapnya. 


Segera wanita itu terbangun dan mendudukan dirinya di tepi ranjang. 


"Iya, aku bangun, emang kamu sudah sholat? " ucapnya dengan memberengut. 


"Sudah dong! Emang tidak lihat suamimu ini sudah tampan dan wangi," 


Mendengar jawaban suaminya dia hanya mengerucutkan bibirnya. Sedikit mencibir. Emang betul suaminya itu terlihat segar dan wangi. 


Lalu dia pergi ke kamar mandi untuk mandi besar. 


Selesai menunaikan sholat subuh, ia mendapati suaminya  sudah rapi, bersiap - siap hendak berangkat. 


"Mas, mau berangkat pagi - pagi buta?" tanya Zoya. 


Zein mengangguk. "iya sayang," jawabnya. 


"Maaf ya, aku tidak bisa mengajakmu, lain kali jika urusanku sudah selesai aku akan membawa kamu dan Yaya keliling Kota Batu,"


Zoya mengangguk. 


"Sini aku peluk!" ucap Zein sambil merentangkan kedua tangannya. 


Zoya menghambur ke dalam pelukan pria itu. 


Dengan erat Zein memeluk istrinya itu. "kalau urusanku sudah selesai aku akan segera pulang," bisiknya di telinga Zoya lalu mengecup pucuk kepala istrinya itu. 


"Janji, ya!" rengek Zoya. 


"Jangan lama - lama," imbuhnya. 


'Aku janji, tolong percaya saja sama aku," ucapnya lalu melepaskan pelukannya, sesaat mengecup bibir istrinya itu, menempelkannya beberapa saat. 


"Udah ya, aku berangkat!" ucapnya. 


Zoya menghela napas dan mengangguk. "Sungguh menyebalkan ditinggal di akhir pekan," batinnya. 


Pagi itu Zein mengendarai mobil pribadinya yang baru dia beli enam bulan yang lalu menuju Kota Batu. 


Setelah suaminya itu pergi selama sepuluh menit, Zoya dengan segera mengikutinya menggunakan mobil rental yang dari kemarin sudah ia pesan. Sedangkan putrinya dia titipkan kepada pengasuhnya. 


Ia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi sehingga bisa menyusul mobil Zein, setelah itu dia mengurangi kecepatan agar tidak terlalu dekat dengan mobil suaminya itu. 


Zoya mengernyitkan dahinya karena suaminya itu tidak menuju ke bengkelnya tapi ke tempat lain yang Zoya sendiri tidak tahu daerah tersebut.


"Mau kemana dia?" batinnya. 


Dengan hati - hati dia mengendarai mobil agar tetap menjaga jarak dan tidak di ketahui oleh Zein kalau ia tengah menguntitnya. 


Mobil Zein berbelok ke sebuah perumahan yang cukup elit di kawasan itu lalu berhenti di sebuah rumah besar tingkat dua. 


Mobil Zein memasuki pekarangan rumah itu. Namun sayang Zoya tidak bisa melihat keadaan rumah tersebut karena tertutup oleh pagar hitam menjulang tinggi. 


Zoya menepikan mobilnya agak jauh dari rumah tersebut hanya berjarak tiga rumah, agar bisa tetap mengawasinya. 


Lalu dia menelpon suaminya itu. 


Zoya: ( " Halo Mas, sudah nyampe ke bengkel?") 


Zein : ( "Sudah sayang, kenapa? Udah kangen?" goda Zein. ) 


Zoya : ("Enggak!" sergahnya. 'Syukurlah kalau kamu sudah sampai, udah ya aku tutup teleponnya, dah! Bye! ") 


Zein : (" Eh, main tutup aja sih dia." Menggelengkan kepala seraya terkekeh.) 


" Dia bohong!  Bilangnya ke bengkel tapi malah masuk ke rumahnya orang," gumamnya dengan kesal. 


Satu jam kemudian tiba - tiba pintu pagar terbuka lebar, kesempatan itu digunakan Zoya dengan baik, lalu dia melintas dengan perlahan di depan rumah itu. 


Dia melihat suaminya itu membuka pintu mobil untuk seorang wanita berhijab yang sedang menggendong seorang batita. 


Setelah itu mobil  keluar dari rumah itu dan pintu pagar kembali tertutup. 


Deg! 


"Siapa wanita itu?" berbagai pertanyaan melintas di otaknya. 


Tiba - tiba darahnya terasa mendidih sampai ke ubun - ubun. Detak jantungnya meningkat. Dadanya bergemuruh menahan emosi. Dia marah melihat pemandangan tadi. 


Apa benar suaminya itu memiliki wanita lain selain dirinya?