My Husband's Secret

My Husband's Secret
Bab 10



Bab 10


Sepeninggalan keluarga Dion, papa mengajak Zoya berbicara dari hati ke hati.


"Zoy, Dion itu setahu papa anaknya baik, juga berasal dari keluarga baik-baik," ucap papa dengan lembut.


"Zoya tahu pa, tapi untuk urusan perasaan tetap tidak bisa dipaksakan," sahut Zoya.


"Tidakkah, ingin memberi kesempatan kepada Dion? Tidakkah, ingin memikirkannya terlebih dahulu? Juga umur kamu sudah pantas untuk menikah," ucap papa.


"Tetap tidak bisa pa, sudah Zoya bilang, Zoya menyukai orang lain," rengek Zoya.


"Baiklah! Baiklah! terserah kamu," ucap papa menyerah. Papa tidak ingin memperpanjang perdebatan dengan putrinya.


"Kalau mama boleh tahu, siapa yang sudah berhasil mengambil hati anak mama ini? " mama yang dari tadi diam saja akhirnya bertanya kepada Zoya, karena setahu mama Zoya tidak pernah mengenalkan satu orang pria pun kepadanya.


"Zein ma," ucap Zoya asal. Lebih baik Zoya berbohong, kalau Zein adalah kekasihnya, ketimbang harus dijodohkan dengan Dion.


Bukan tanpa alasan Zoya menolak Dion, pertama memang Zoya sama sekali tidak memiliki perasaan terhadap Dion. Kedua Dion masih sepupuan dengan tante Melly.


Zoya tidak ingin memiliki hubungan apapun dengan keluarga tante Melly, akan menyakitkan bagi Zoya jika sering melihat papa berbagi cinta dengan tante Melly.


Almarhum Ayahnya tante Melly adalah kakak kandung tante Wita ibunya Dion.


Jika Zoya menerima Dion otomatis akan sering bertemu dengan tante Melly.


Papa menghela nafas, "Baiklah terserah kamu saja Zoy, tapi bawalah kekasih kamu itu, kenalkan dengan papa," ucap papa seraya meninggalkan ruangan itu, menuju ke kamarnya mungkin papa mengantuk.


Sepeninggalan Rendra, Medina mendekat kepada Zoya, "Beneran kamu jadian dengan Zein?" bisik mama.


"Tidak Ma, tapi Zoya beneran menyukai Zein, Zoya akan merebut hati Zein, itu lebih baik ketimbang dijodohkan dengan Dion dan Zoya yakin seratus persen Mama pasti mendukung Zoya," ucap Zoya dengan suara pelan.


"Bagus! Anak pintar!" ucap mama seraya menepuk bahu Zoya.


Mama sangat mendukung keputusan Zoya menolak Dion, karena mama juga tidak suka dengan keluarga Dion.


Kasian ya Dion gara - gara tante Melly, dia harus menanggung akibatnya. Padahal Dion kan tidak tahu apa-apa.


Di sebuah kamar indekos


Beberapa hari ini Zein tidak bisa tidur nyenyak karena selalu terbayang wajah Zoya.


Zein selalu terbayang wajah cantik Zoya. Zein selalu terbayang saat Zoya merangkul pinggangnya dan bergelendot manja di bahunya pada waktu itu.


Kalau mengingat kejadian itu jantung Zein berdesir, pikiran - pikiran kotor melintas di otaknya.


Zein tidak bisa terus - terusan tersiksa seperti ini, ia akan memberanikan diri untuk menyatakan cinta pada Zoya. Urusan belakangan jika ditolak.


Zein pun mengirim pesan kepada Zoya.


"Mbak Zoya besok saya ingin bertemu dengan Mbak Zoya" (pesan Zein)


Tak berapa lama Zoya membalas


"Baik, di mana?" (balasan Zoya)


"Di kafe hijau, pukul 7 malam" ( pesan Zein)


"Baik, jemput saya di toko ya," ( balasan Zoya dengan emot senyum)


"Siap Mbak Zoya! " ( pesan Zein dengan stiker orang sedang menghormat )


Yes!


Zein berjingkrak - jingkrak di kamarnya, Zein senang bukan main mendapat respon cepat dari Zoya.


Sedangkan Zoya hanya mengulas senyum mendapat pesan dari Zein.


"Ada apa ya? Tiba - tiba dia mengajak ketemuan?" Zoya membatin.


Mungkin ini kesempatanku untuk mengambil hatinya Mas Zein, siapa tahu dia tertarik padaku. Dengan begitu aku bisa memperkenalkannya pada papa.


Zoya membaringkan tubuhnya di ranjang, dia memejamkan matanya seraya membayangkan wajah tampan Zein.


Zoya tersenyum membayangkannya, "Mudah - mudahan saja," gumamnya, lalu dengkuran halus terdengar di kamar Zoya, sepertinya Zoya sudah terlelap dan terbang ke alam mimpi.