My Husband's Secret

My Husband's Secret
Bagian Lima



Tak berapa lama kemudian aku disuguhkan pemandangan yang luar biasa indahnya. Pemandangan alam, bukit-bukit dan pepohonan yang hijau dan rindang. Hawanya juga terasa sejuk, agak dingin sih menurutku. Untung aku membawa jaket, walaupun nggak terlalu tebal. Jalan masih menanjak dan berkelok-kelok. Kalau kesini agak sorean pasti bisa lihat sunset.


"Kamu pernah kesini sebelumnya?" Tanyaku pada Arya.


"Dulu pernah... waktu masih kuliah, sama temen-temen main kesini... "


"Ah pantas saja kamu sudah hafal jalannya..."


"Nggak juga, kan ada petunjuk arah...hehe" Kata Arya sambil menunjukkan ponselnya. Google Map. Ah iya jaman sekarang mau kemana saja gampang, asal bermodalkan hp dan juga jaringan internet.


Arya memarkirkan mobilnya didekat Vila. Cukup ramai disini, karena banyak juga anak muda yang datang kesini sama pasangannya. Dan juga sepertinya banyak remaja yang menginap di Vila tersebut.


Arya membukakan pintu mobil dan mengajakku keluar. Sejenak aku mematung karena dia mengulurkan tangannya. Aku belum terbiasa bersentuhan atau bergandengan tangan dengan lelaki.


"Oh maaf..." Arya mengurungkan niatnya untuk menggandeng tanganku. Aku tersenyum malu.


"Tidak apa.. Aku sejujurnya belum pernah jalan berdua bersama seorang lelaki..." Arya tergelak mendengar penuturanku. Sedangkan aku? Malu lah...


"It's Okay... " Sahut Arya.


Kami berjalan-jalan sambil ngobrol tentang pekerjaan, hobi dan hal-hal yang disukai dan tidak disukai. Dan aku baru tahu kalau dia tidak suka makanan pedas. Sedangkan aku malah sangat menyukai pedas. Dia banyak bercerita seputar kariernya. Sesekali aku selipkan sedikit candaan untuknya. Ternyata dia tak secuek yang aku pikirkan ketika saat pertama kali ketemu.


"Boleh aku tahu, kamu sudah berapa kali berpacaran?" Aku sungguh ingin tahu. Karena sepertinya hal mustahil kalau dia belum pernah memiliki seorang kekasih.


Dia hanya tersenyum tipis.


"Dua kali, pertama saat masih SMA, yang kedua waktu kuliah..." Jawabnya datar.


"Lalu kenapa bisa putus? Ups maaf aku terlalu frontal ya..." Arya tertawa. Ia menatapku.


"Nggak perlu dijawab kok..." kataku akhirnya.


"Sepertinya aku yang dicampakkan oleh mereka... Haha. Apa kau akan menertawakanku sekarang?" Kata Arya, membuatku ingin tertawa tapi aku menahannya.


Hari sudah siang menjelang sore. Sebelum kami pulang kita mampir makan dulu disebuah warung makan tak jauh dari puncak.


Setelah dirasa kenyang kami melanjutkan perjalanan untuk pulang kerumah.


Mungkin karena kenyang dan capek, aku pun tertidur didalam mobil.


Sesampainya dirumah sudah menunjukkan pukul 5 sore. Aku terbangun saat seseorang menggoyang-goyangkan tubuhku. Mataku terbuka, kulihat Arya masih disampingku.


"Sudah sampai..." Kata Arya ketika aku sudah terbangun. Aku mengucek-ngucek mataku, karena pandanganku sedikit kabur. Aku kira aku bermimpi sedang berjalan-jalan dengan Arya, ternyata memang kenyataan.


"Sudah dari tadi kah sampainya?" Aku membuka kaca mobil, kulihat sekeliling ternyata benar ini rumahku. Dan ternyata Mamaku sudah menunggu didepan pintu. Sebelum aku keluar, Arya sudah lebih dulu keluar dan membukakan pintu untukku.


"Terimakasih, mau mampir sebentar?"


"Aku langsung pulang saja, kapan-kapan aku kesini lagi kalau sedang tidak sibuk..." Sahut Arya. Ia menghampiri Mama yang sudah berdiri didepan pintu sejak tadi, sambil senyum-senyum nggak jelas.


"Maaf tante, pulangnya agak sore, saya sekalian pamit juga ini..." Kata Arya sambil melihat jam ditangannya.


"Iya nggak papa, loh kok nggak mampir dulu?"


"Enggak tant, besok kapan-kapan kalau nggak sibuk saya main lagi kesini.. " Arya langsung bersalaman dengan Mama. Ia masuk kemobil, melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah sambil membunyikan klakson.


Setelah kepergian Arya, aku segera masuk kedalam rumah. Mama membuntutiku, dengan beberapa pertanyaan nyeleneh. Aku menghempaskan tubuhku diatas sofa ruang tamu.


"Udah deh Ma... aku capek..." Aku memejamkan mataku, karena masih ngantuk.


"Ah kamu ini, mama kan pengen tahu gimana kesan kamu setelah jalan sama Arya?" Mama masih penasaran.


"Entahlah Ma, yang jelas dia baik, enak diajak ngobrol... Gitu aja..." Aku menghela nafas pelan, lalu segera beranjak dari ruang tamu menuju kamar tidur. Sebelum Mama bertanya lebih jauh.


Mama menggerutu kesal karena aku tak menanggapi pertanyaan Mama selanjutnya. Udah kayak wartawan saja.