My Husband's Secret

My Husband's Secret
Bab 38



Bab 38


Kabar kehamilan Zoya telah sampai ke telinga Ibu Mira, beliau sangat senang bukan main, karena bagi Ibu Mira, ini adalah calon cucu pertamanya. 


Ibu Mira menghadiahkan satu hektar tanah untuk calon cucunya itu. 


Begitu pula dengan Papa Rendra dan Mama Medina sangat senang mendengar kabar bahwa sebentar lagi mereka akan punya cucu lagi. 


Papa menghadiahkan Zoya sebuah rumah cukup mewah yang kelak diperuntukan calon cucunya itu. 


*****


Bengkel Zein semakin hari semakin banyak pelanggannya. kini bengkelnya sudah memiliki tiga cabang dengan empat pegawai di setiap bengkelnya. 


Karena kehamilannya sedikit rewel Zoya mengurangi aktivitasnya di toko kue, dia jarang berada di sana. Zoya menyerahkannya kepada Nina pegawai kepercayaannya. 


Tiga bulan sudah terlewat, kini kehamilan Zoya sudah memasuki bulan ke empat. Badan Zoya semakin berisi perutnya sudah membuncit. Rasa mual sudah mulai berkurang, hanya sesekali saja rasa mual itu datang, tapi tidak sampai muntah. 


Zein semakin perhatian terhadap Zoya, dia benar - benar over protektif pada istrinya itu. 


Malam itu papa dan mama berkunjung ke rumah Zoya, papa agak terkejut karena baru tahu kalau rumah anaknya masih satu komplek dengan istri mudanya. 


Papa merasa bersalah karena Zoya tinggal di rumah yang sederhana, berbanding terbalik dengan istri mudanya yang diberikan fasilitas rumah mewah oleh dirinya. 


****


Nampak mama, papa, Zoya dan Zein sedang berbincang seputar kehamilan Zoya di ruang tamu. 


Dengan semangat mama memberikan wejangan terhadap Zoya, apa saja yang harus dilakukan oleh wanita hamil. 


"Bagaimana dengan bengkelmu, Zein ?" tanya papa kepada Zein. 


"Baik Pa, banyak kemajuan, sekarang Zein sudah punya tiga cabang dan semuanya berjalan lancar," jawab Zein sedikit bangga dengan pencapaiannya saat ini. 


Papa manggut - manggut. "Papa senang mendengarnya, apa kalian tidak ingin pindah ke rumah yang papa hadiahkan untuk calon cucu papa? Rumahnya lebih besar dari ini, papa ingin kalian pindah saja, papa ingin kalian tinggal dirumah yang lebih besar dari ini," ucap papa. 


"Untuk sementara kami masih nyaman tinggal di sini Pa, mungkin nanti kalau anak kami sudah lahir kita pindah kesana," sahut Zoya. 


"Terimakasih Pa," sahut Zein. 


"Oh ya, Zoy sudah larut kami pulang dulu ya," ucap mama. 


"Kok buru - buru sih Ma, apa mama gak kangen sama Zoya? Mama menginap ya di sini." 


"Bagaimana Pa,?" mama bertanya kepada papa untuk meminta persetujuan. 


"Baiklah, kita menginap di sini, biar besok papa berangkat kerja dari sini," jawab papa. 


Tanpa sepengetahuan mama, papa menyeringai tipis. "Besok pagi aku akan mampir ke rumah istri mudaku, rasanya aku merindukannya," gumam papa dalam hati. 


Pagi - pagi sekali selesai sarapan papa meminta izin pada mama untuk berangkat ke kantor. 


"Ma, Papa berangkat duluan ya, ada meeting. " Papa berbohong kepada mama. 


Tanpa curiga mama mengiyakannya. 


"Biar Zein yang mengantar Mama pulang, kamu tidak keberatan kan, Zein?" ucap papa. 


"Tidak Pa, dengan senang hati, Zein antar Mama pulang," sahut Zein. 


Setelah berpamitan kepada mereka  papa pun meninggalkan kediaman anak menantunya itu. 


Tak berapa lama mobil silver yang dikendarai Rendra telah sampai di kediaman istri mudanya. 


Rendra mengernyitkan dahinya dia heran karena ada sebuah mobil sport kuning asing terparkir di halaman rumahnya. 


Rendra pun turun dari mobilnya dan membuka pintu pagar dengan kunci cadangan yang dimilikinya. 


Perlahan Rendra membuka pintu rumah itu dengan kunci cadangan yang dipegangnya. 


Mengendap - ngendap dia menuju kamar istri mudanya, pelan - pelan dia membuka pintu kamar itu, beruntung tidak dikunci, sehingga, dia dengan mudah membukanya. 


Bruaaakkk! "Melly!!!!!!," bentaknya dengan suara menggelegar.