
Bab 49
Dia termenung seorang diri di mobil. Ia tidak sanggup lagi melanjutkan penyelidikan terhadap suaminya. Ia tidak sanggup mengetahui kenyataan jika ternyata suaminya itu punya wanita lain.
Tubuhnya mendadak lemas. Tapi dia harus kuat demi mengetahui kebenarannya. Kemudian ia melajukan mobilnya mengikuti mobil suaminya.
Terlihat mobil suaminya memasuki sebuah rumah sakit.
"Siapa yang sakit? Apa aku ikut memeriksa ke dalam saja? Bagaimana kalau nanti dia tahu aku mengikutinya?" gumamnya bimbang.
Beruntung dari rumah dia memakai hijab dan masker. Selain itu, ia mengenakan pakaian yang baru ia beli, sehingga kemungkinan suaminya tidak akan mengenali dirinya.
Setelah memarkir mobilnya dia mengikuti suaminya yang terlihat berjalan dengan seorang wanita. Yang lebih menyita perhatiannya, suaminya itu kini sedang menggendong anak itu.
Dia berusaha tenang, tidak ingin tergesa - gesa dalam berasumsi. Mungkin saja wanita dan anak kecil itu saudaranya.
Tapi saudara yang mana? Bukankah suaminya dan Ibu Mira sudah memperkenalkan semua saudaranya? Atau ada saudara yang terlewat. Ah! Semakin pusing saja dia memikirkanya.
Dia duduk di kursi tunggu sambil matanya tetap mengawasi suaminya itu.
Beberapa saat suaminya dan wanita itu masuk ke ruang poli anak. Dia meyakini kalau anak kecil itu yang sakit.
Sekitar tiga puluh menit mereka keluar kembali, sepertinya pemeriksaan sudah selesai.
Mereka sudah pergi dari tempat itu, tapi ia enggan beranjak. Ia termenung sendiri seperti orang bingung.
Ia mendekat kepada perawat yang ada di meja pendaftaran.
"Sus, tadi itu pak Zein ya? Apa anaknya sakit?" Zoya langsung bertanya.
"Oh, iya betul Bu,tadi Pak Zein, anaknya sakit." sahut suster itu seraya menatap Zoya dengan heran.
"Beliau tetangga saya, mau saya sapa tapi keburu pergi orangnya," ia berbohong.
Perawat itu hanya mengangguk sembari tersenyum sopan.
Penyelidikan hari ini cukup sampai di sini saja ia tidak sanggup melanjutkannya lagi. Ia terlalu takut menemukan kenyataan yang sebenarnya.
Kemudian ia kembali ke Malang. Ia bingung harus bersikap bagaimana selanjutnya kepada suaminya.
Sudah jelas perawat itu mengatakan bahwa yang sakit adalah anaknya Zein.
Umur anak itu sekitar tiga tahunan itu berarti suaminya sudah memiliki anak sebelum menikah dengan dirinya.
"Ahggh!" pekiknya sembari memukul stir yang tidak berdosa.
Digendongnya putrinya itu. " Halo sayang, anak mama yang cantik ini tidak nakal kan hari ini?"
"Tidak Ma, Adik Yaya pinter tidak nakal," pengasuh yang menjawab menirukan bahasa Yaya.
"Sudah makan?" tanyanya lagi.
"Sudah Bu," jawab sang pengasuh.
"Biar saya ajak tidur siang saja Mbak."
"Baik Bu."
Lalu Zoya membawa putrinya ke kamar, sembari menyu"sui putrinya. Dia kembali mengingat suaminya bersama seorang wanita dan anak kecil di rumah sakit, kembali terngiang kata - kata perawat bahwa Zein ayah dari anak itu.
Matanya kembali memanas, mengeluarkan cairan bening yang akhirnya luruh juga di pipi mulusnya.
"Mas, sebenarnya apa yang terjadi?, kenapa kamu berbohong? Siapa wanita itu? Apakah dia simpananmu? Dan anak kecil itu, apakah anak kandungmu?" Berbagai pertanyaan melintas di otaknya sembari terisak.
Malam hari, Zoya malas melakukan apapun, dia masih memikirkan suaminya. Jadi sepulang dari menguntit suaminya dia hanya rebahan di dalam kamar. Hanya sesekali keluar untuk makan saja.
Saking asyik dengan dunianya sampai - sampai suaminya datang ia tidak tahu.
Sayang! Zein memanggil sambil merebahkan tubuhnya di samping Zoya sedangkan tangannya memeluk pinggang wanita itu.
Zoya tertegun karena suaminya itu sudah pulang padahal tadi pagi bilangnya pulang besok.
Dia bingung harus bersikap bagaimana terhadap suaminya itu.
Ingin sekali dia marah terhadap suaminya karena sudah berbohong.
Tapi ini bukan saat yang tepat untuk marah, dia harus bisa memergoki suaminya itu secara langsung baru ia bisa marah.
Ia masih diam, memejamkan mata berpura - pura tidur.
"Sayang, kamu sudah tidur? Tidak ingin menyambut suamimu yang baru datang?" tanya Zein sembari mengeratkan pelukannya.
Zoya masih bergeming. Namun, tidak bisa di pungkiri pelukan hangat suaminya membuat dia tenang dan nyaman.
Entahlah meskipun hatinya sedang kecewa tapi dia tetap suka dipeluk seperti itu oleh Zein.
Saking nyamannya dipeluk yang tadinya pura - pura tidur, akhirnya dia tidur beneran sampai subuh tiba.