
Hari sudah malam, aku selesai mandi, langsung kurebahkan tubuhku diatas kasur empuk sambil memeluk guling. Yeah ini weekend, untuk para jomblo dirumah saja, sambil berdoa semoga turun hujan yang sangat lebat malam ini.
Belum lama aku memejamlam mata ,tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada pesan masuk dari...Arya. Aku menjerit dalam hati. Segera kubuka pesannya.
"Besok sibuk nggak?
"Enggak. Kenapa?
"Aku mau mengajakmu kesuatu tempat. Boleh?
"Boleh. Kemana? Asal jangan ke kutub utara. Hehe
"Haha. Enggaklah. Masih rahasia dong. Besok aku jemput ya? Kirimkan alamat rumahmu."
Aku menuliskan alamat lengkapku dan mengirimnya cepat. Aku guling-guling diatas kasur. Seneng banget rasanya. Hatiku dag dig dug. Inikah rasanya mau berkencan dengan seorang pria. Tak sabar ku menanti besok.
Akupun tertidur saat dia sudah mengakhiri pesannya. Dia mengucapakn selamat malam dan selamat tidur padaku. Uh senangnya.
Pagi-pagi aku sudah mandi, dan segera bersiap-siap. Karena Arya sudah dalam perjalanan kemari. Aku mengambil jaketku di lemari pakaian, dan juga tas mungil kesayanganku. Kulangkahkan kakiku keluar kamar dengan anggun bak puteri dari Negeri dongeng. Hahaha. Kubiarkan rambut lurusku terurai. Ini kencan pertamaku, jadi aku harus kelihatan perfect dan senatural mungkin deh. Masa jalan sama dokter tampan, penampilan biasa-biasa aja.
Mama menatapku heran, karena sedari tadi aku jalan melenggak-lenggok, super centil, sambil senyum-senyum. Dia berkacak pinggang, siap mengomel dan menginterogasi.
"Kesambet apaan kamu Lin?" tanya Mama menyelidik.
"Tumben... sama siapa?" Mama menyilangkan kedua tangannya diatas dada. Aku menyunggingkan senyum jahil.
"Nanti Mama lihat sendiri aja siapa yang datang jemput aku..." Kataku, membuat Mama menjeb-menjeb. Tawaku tertahan.
"Heleh... Paling juga sama Aira," Aku menerucutkan bibirku. Yang Mama tahu cuma Aira sih selama ini. Karena dia adalah salah satu teman dekatku sejak SMA. Dam rumah kami jaraknya juga nggak terlalu jauh. Dia pindahan dari Bandung waktu masuk SMA. Aku adalah teman pertamanya di daerah ini. Dia orangnya asik, supel, bisa diajak cerita, teman nongkrong, jalan-jalan. Pokoknya udah lengket kayak saudara kembar gitu. Namun setelah kuliah, apalagi menjelang skripsi kami sudah jarang pergi bersama. Sama-sama sibuk pastinya. Dan juga dia beda Universitas denganku. Aku mengambil jurusan hukum. Sedangkan dia lebih memilih mengejar cita-citanya untuk menjadi seorang dokter. Aira memang berotak cerdas sih sejak dulu. Nggak heran dia bisa masuk universitas kedokteran. Dan juga keluarganya termasuk keluarga kaya raya. Nggak beda jauh sih sebenarnya denganku. Papaku jarang dirumah, karena lebih sering melakukan perjalanan bisnis keluar kota, sesekali keluar negeri. Paling pulang kerumah setiap 2 minggu sekali. Jadilah dirumah hanya ada aku dan Mama, dan juga beberapa asisten rumah tangga. Nggak sanggup dong Mama ngurusin rumah segede ini sendirian, apalagi Mama juga punya sebuah Cafe yang cukup terkenal di Surabaya. Jadi terkadang harus wira-wiri ke cafe untuk mengecek beberapa laporan disana.
Suara mobil dihalaman rumahku, membuat Mama langsung bangkit dari tempat duduknya. Aku mengikuti Mama dari belakang. Duh kenapa jadi deg-deg an gini sih. Terdengar suara bel berbunyi dan juga ketukan pintu disaat bersamaan Mama sudah didepan pintu. Pintu terbuka lebar. Mama terkejut dengan sosok dihadapannya. Mama tersenyum lalu memeluk Arya.
"Ternyata kamu toh... kirain siapa..." Seru Mama. Mataku tak berhenti mengamati sosok Arya. Sungguh dia perfect sekali, batinku.
Mama menyuruh Arya masuk dan duduk diruang tamu. Mama duduk disamping Arya. Udah kayak gebetan Mama aja, dipepet terus, batinku. Aku duduk dihadapan Mama dan Arya.
"Eitss, kamu buatin minum dulu Lina ..." Kata Mama.
"Kita kan mau pergi Ma, " Aku melirik kearah Arya. Mama sudah siap dengan argumennya, tapi keduluan juga sama Arya.
"Iya, tante, aku kesini mau jemput Kalina, mau jalan-jalan. Bolehkan tante?" Tatapan mata Arya meluluhkan Mama.
"Oh iya boleh kok... tapi jangan malam-malam pulangnya, nggak baik" Kata Mama lalu tersenyum.
Setelah berpamitan dengan Mama, aku dan Arya masuk ke mobil, dan Arya melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumahku. Suasana canggung menyelimuti kami berdua. Atau mungkin cuma aku saja yang canggung? Arya tampak biasa saja. Aku meliriknya sekilas. Dia masih fokus mengemudi. Menembus jalanan yang tidak terlalu macet.