My Husband's Secret

My Husband's Secret
Bagian Tujuh



Sudah hampir seminggu ini kami berkutat masalah persiapan pernikahan. Dari WO, cetam undangan jasa catering dan lain-lain. Cukup memusingkan memang, tapi yang paling pusing dan ribet sebenarnya adalah Mama. Hehe. Dia yang paling sibuk urus ini itu. Pemilihan gaun pun Mama yang pilih. Katanya seleraku kurang bagus. Terserah Mama saja deh.


Hari ini Arya sudah membuat janji denganku untuk membeli cincin lagi, karena kemarin kebesaran.


Aku tengah bersiap-siap, memakai bedak tipis dan juga lipstik. Tak lupa memakai parfum. Harum baunya semerbak sampai kemana-mana. Aku tertawa geli.


Aku memutuskan untuk keluar kamar, dan menunggunya diruang tamu, namun ternyata Arya sudah duduk diruang tamu. Ngobrol dengan Papaku. Ah obrolan laki-laki emang begitu.


"Yaudah kalian hati-hati dijalan..." Papa melenggang pergi meninggalkan ruang tamu.


"Udah siap?" Tanya Arya. Aku mengangguk.


"Oke, yuk berangkat.." Arya berjalan didepanku, aku mengikutinya. Ia membukakan pintu mobil seperti biasanya.


Mobil melaju meninggalkan rumahku. Aku tak tahu kemana arah tujuannya. Sepertinya menuju arah kota.


"Kok bisa sih kebesaran cincinya..." aku tertawa geli mengingat kejadian waktu lamaran saat itu.


"Tadinya aku mau kasih kamu kejutan... Eh ternyata tak semulus rencana..." Arya terkekeh.


Selama perjalanan kami bercanda ria.


"Kukira kamu orang yang pendiam..." Aku terkekeh.


"Aku kira kamu juga begitu..." Sahut Arya. Ia tersenyum. Senyumnya memang mempesona. Beruntungnya aku bertemu dengannya.


Sampailah kita disebuah mall. Arya menggandeng tanganku, untuk pertama kalinya. Ia menuntunku naik eskalator, menuju lantai tiga. Beberapa deretan toko emas sudah terlihat. Arya menggandengku menuju toko emas paling barat.


"Selamat datang ada yang bisa saya bantu pak?" Aku menahan tawaku, karena perempuan yang melayani di toko emas tersebut memanggil Arya dengan sebutan Pak. Arya mencubit pinggangku, membuatku geli.


"Kemarin saya membeli cincin disini, namun ternyata kebesaran, apakah bisa ditukar?" Arya menunjukkan bukti pembayaran dan juga cincinnya.


"Bisa... Silakan dipilih yang mana..." Tag name perempuan tersebut adalah Susi. Ia menunjukkan beberapa cincin terbaru. Aku dan Arya masih memilih-milih. Sampai aku menemukan sebuah cincin yang unik. Aku mencobanya, namun ternyata agak kekecilan. Aku sedikit kecewa.


"Yang ini juga bagus mbak, hampir mirip dengan yang tadi..." Aku segera mencobanya. Dan ternyata pas sekali.


"Yaudah yang ini saja mbak..." Sahut Arya. Susi segera menulis nota dan jumlah yang harus dibayarkan.


Setelah selesai melakukan pembayaran, kami meninggalakan toko tersebut dan turun ke lantai dasar.


"Apa aku kelihata begiti tua, sehingga dipanggil Pak , sedangkan kamu dipanggil mbak..." Arya menggerutu begiti sampai diparkiran mobil. Aku tergelak. Lucu sekali Arya, terlihat kesal.


"Enggak, Kamu nggak tua, hanya kelihatan sudah tidak muda... " Aku terbahak.


"Pak Arya... Hahaha" Aku masih meledeknya.


"Oh ya .. lalu kenapa kamu mau sama aku yang kelihatan tua..." Arya mencibirku.


"Ekhm... kenapa ya... aku nggak tau pak Arya.." Aku terkekeh, meledek dia lagi.


Arya mencubit kedua pipiku gemas.


"Kamu boleh tertawa sepuasnya sekarang, tapi saat malam pertama nanti akan kubuat kamu menangis semalaman..." Arya berbisik ditelingaku. Bulu kudukku langsing merinding. Tubuhku refleks mundur satu langkah.


Arya tertawa.


"Lihat saja nanti ..." Arya mengedipkan sebelah matanya, kemudian masuk kedalam mobil.


"Ayo buruan, mau pulang atau mau jadi patung disitu..." Seru Arya dari dalam mobil. Aku berlari kecil masuk kedalam mobil. Sedangkan pikiranku masih menerawang jauh pada saat malam pertama besok.


Tanpa sadar aku menepuk kedua pipiku. Membuat Arya tergelak.


"Kepikiran yaa... Haha" Arya tertawa penuh kemenangan. Ah menyebalkan.


"Oh iya satu hal lagi, mulai sekarang kamu panggil aku mas aja deh... " Kata Arya. Aku pun menyanggupinya.


Lalu Arya segera melajukan mobilnya menuju jalan pulang kerumah.