My Husband's Secret

My Husband's Secret
Malam Pertama Sesungguhnya



My 26


Ada yang mengganggu tidur Zoya, seketika Zoya membuka matanya. Sebuah tangan kekar tapi lembut melingkar di pinggangnya. Tengkuk Zoya dikecup orang itu.


Pemilik tangan itu, semakin erat mendekap Zoya. Awalnya Zoya terkejut, tapi kemudian dia tersenyum lebar, dia hafal aroma tubuh yang mendekapnya itu.


"Mas Zein?" pekik Zoya seraya membalikan tubuhnya menghadap pada suami yang tiga hari ini dirindukanya.


"Kapan datang? Kok gak bilang - bilang?" cecar Zoya.


"Baru saja datang," jawab Zein lalu merengkuh Zoya ke dalam dekapannya.


"Katanya mau datang hari Jum'at?" tanya Zoya.


"Tapi aku sudah merindukanmu, aku tidak bisa menunggu sampai hari Jum'at," Zein terkekeh lalu mencium pucuk kepala Zoya.


"Bengkelnya?" tanya Zoya.


"Aku serahkan pada Kris," jawab Zein.


"Sudah makan?" tanya Zoya


"Sudah! Tapi aku masih mau makan?" ucap Zein.


"Ya udah aku siapin dulu ya," sahut Zoya seraya akan beranjak dari ranjang.


"Tidak perlu, karena aku maunya makan kamu," Zein menyeringai.


"Ish! Kamu itu!" pekik Zoya yang terkejut tiba - tiba Zein me*nindihnya.


Cup!


Seperti biasa Zein selalu mengecup kening Zoya setiap akan melakukannya. Tidak lupa memanjatkan doa.


"Aku kangen melakukan itu sama kamu," ucap Zein dengan wajah melasnya.


"Ish.. Yang benar aja Mas, cuma dua hari saja kita tidak melakukannya," ucap Zoya seraya merotasikan matanya.


"Hehehe.. Tapi aku merasa sudah bertahun - tahun tidak melakukannya," ucap Zein lebay.


Dihisapnya bibir istrinya itu tanpa ampun. Zoya membalasnya, dia membuka mulutnya sedikit agar Zein bisa bebas bermain di dalamnya.


Ternyata Zoya juga merindukan sentuhan suaminya itu, terbukti, saat Zein menghisap lehernya, tubuhnya merespon dengan baik, dia menggelinjang, tubuhnya bergetar, jantungnya berdesir.


Zein tidak melewatkan satu inci pun tubuh Zoya, semua disapu dengan lidahnya, terutama bagian dada yang menjadi favoritnya. Lama dia bermain - main di sana, sehingga membuat Zoya frustasi dan men*de*sah tidak karuan. Hasrat Zoya sudah berada di puncaknya.


Kini mereka sudah polos, tanpa sehelai benang pun yang melekat, pakaian sudah terhempas di lantai.


Tangan Zein mengelus milik Zoya yang sudah basah sekali. Seperti biasa tanpa permisi Zein langsung menghujamkan miliknya ke lorong sempit itu.


Masih sempit, hangat, Zein berusaha mendesaknya, kini miliknya sudah memenuhi lorong itu. Sedangkan bibirnya tidak terlepas dari bibit Zoya.


Zoya tertegun dengan penyatuan itu, awalnya sakit tapi lama - kelamaan dia merasakan sensasi yang luar biasa nikmat. Baru kali ini Zoya merasakan nikmat.


Zein memompa di bawah sana. Semakin cepat dan cepat. Zoya tersiksa dengan rasa nikmat ini. Seperti ada yang mau meledak dalam dirinya.


"Maass..! Aaku… nggak kuat lagi, Ahhh…" pekik Zoya tertahan, Zoya takut jeritannya terdengar keluar.


"Sama aku juga! Ugh Ah!" Zein melenguh sambil menutup mulutnya, menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara yang terlalu keras.


Sesaat mereka masih berada di posisi itu, mereka mengatur napas. Zoya masih meresapi kejadian barusan. Nikmat yang tiada tara, dia bisa sampai ke puncak berbarengan bersama Zein.


Ini kali pertama bagi Zoya bisa merasakan nikmat sampai ke puncak, Zoya merasa bahagia, dia akan selalu mengingat peristiwa ini. Ia akan menganggap inilah malam pertamanya.


Zein melepas penyatuan dan seperti biasa mengecup kening Zoya.


"Makasih ya sayang, sepertinya kamu sangat menikmatinya," ucap Zein sambil mendekap tubuh istrinya yang masih polos itu.


"Iya, Mas, baru kali ini aku bisa merasakan sampai ke puncak, sungguh sangat menyenangkan, aku anggap ini adalah malam pertamaku," ucap Zoya tersipu.


"Nanti kita akan mengulanginya lagi, aku akan membuat kamu merasakannya lagi," ucap Zein sambil tersenyum mesum.


"Ish! Capek tahu!" rajuk Zoya sambil memukul dada Zein yang cukup bidang itu.


Zein terkekeh. "Ya udah kita lanjutkan besok saja!" ucapnya.


Setelah membersihkan diri kemudian mereka pun terlelap pukul satu malam.