
Bab 43
Ternyata yang mengucap salam itu adalah Nora, anaknya Pak Agus pemilik bengkel di mana Zein pernah bekerja kepadanya.
Nora tidak datang sendirian, dia datang bersama ayahnya, Pak Adi dan Yudis temannya Zein dulu waktu bekerja di bengkel Pak Agus.
"Kak Zein sekarang udah punya dedek bayi ya, Kak Zein sekarang udah jadi papa," ucap Nora dengan suara berisik dan hebohnya.
"Ayo silahkan masuk," ucap Zein.
Mereka pun masuk untuk melihat bayinya dan menyerahkan kado untuk Yaya kepada Zein.
"Wah, lucu sekali bayinya," seru Nora.
"Kak Zoy, aku boleh ya menggendong bayinya? Eh siapa namanya?" tanya Nora.
"Panggil saja Yaya," sahut Zoya.
"Sini Dek Yaya, Kak Norah gendong ya." lalu Nora mengambil alih Yaya dari gendongan Wita.
Zein memperkenalkan Nora, Pak Agus dkk kepada semua orang.
Nora sangat terampil menggendong bayi, padahal biasanya gadis seusia dia sangat takut jika menggendong bayi baru lahir.
Meskipun Nora seorang gadis yang manja tapi dia sangat menyukai anak kecil, dia sudah terbiasa menggendong bayi saudara - saudaranya. bahkan anak tetangganya saja sering dia gendong dan diajak main.
Ada rasa kagum dalam diri Wita terhadap Nora, meskipun berisik tapi amat terampil mengasuh bayi.
"Wah, boleh juga nih gadis ini, parasnya juga cantik. Sepertinya gadis ini gadis yang baik," gumam Wita dalam hati.
"Eh, kamu kok pintar menggendong bayi?" tanya Wita kepada Nora.
"Ah, biasa aja tante," sahut Nora merendah.
"Kamu masih sendiri? Maksud Tante belum punya suami?" Tanpa basa - basi Wita menanyakan itu.
Semua yang ada di ruangan itu tertegun mendengar pertanyaan Wita yang begitu to the point.
"Terutama Dion, dia sudah hafal dengan sifat Mamanya itu. Ujung - ujungnya nanti dirinyalah yang akan ditawarkan pada gadis itu.
" Hmm, belum Tante, " sahut Nora tersipu.
Semua yang ada di situ menahan tawa, mendengar ucapan Wita.
"Ma!" rengek Dion dengan wajah melasnya.
"Wah boleh Tante, anak Tante ganteng!" seru Nora yang tidak bisa menolak pesona Dion, langsung saja menyetujui ide Wita.
Jengah dengan mamanya, Dion pun memutuskan meninggalkan kediaman Zein dan Zoya.
"Yaya, Om pergi dulu ya, di sini tidak ada yang ngertiin Om, cepat gede, siapa tahu kamu adalah jodohnya Om, " ucap Dion berbicara pada pada bayi itu sambil terkekeh lalu ngeloyor begitu saja.
Semua yang ada di situ tertawa renyah menyaksikan tingkah Dion.
"Eh, Kak! Kita belum kenalan lho, kok pergi begitu saja?" seru Nora.
Namun Dion tidak menggubris celotehan Nora.
Ada sedikit kecewa dalam hati Nora, karena Dion tidak meresponnya, padahal dia berharap banyak bisa kenal dengan pria yang menurutnya ganteng, sebelas dua belas dengan Zein.
Menjelang sore para tamu sudah undur diri kecuali mama dan papa dan Bu Mira yang masih tinggal. Mereka akan menginap selama beberapa hari ke depan untuk menemani orang tua baru itu.
Malam sudah larut, semua orang sudah pulas, kecuali Zoya yang masih sibuk menyu*sui bayinya. Dengan setia Zein menemani Zoya.
"Mas, kamu tidur saja! Besok kamu masih harus bekerja," titah Zoya.
"Kamu tidak apa - apa aku tinggal tidur?" sahut Zein dengan mata menahan kantuk.
"Tidak apa - apa lebih baik kita gantian, nanti kalau Yaya bangun giliran kamu yang jaga."
"Baiklah, kalau ada apa - apa atau kamu butuh sesuatu, bangunkan aku ya."
Zoya hanya mengangguk.
Belum lama Zoya sudah bisa mendengar dengkuran halus dari suaminya itu.
Ditatapnya wajah tampan suaminya itu secara bergantian dengan bayi perempuannya. Lalu dia tersenyum bahagia
Hidupku terasa sempurna dengan kehadiran suami yang begitu baik, idaman setiap wanita serta anak yang sehat dan menggemaskan. Mudah - mudahan kebahagiaan ini selamanya milikku," gumam Zoya dalam hati. Setelah meletakan bayi itu di box lalu dia merebahkan diri di samping suaminya.